Novemberain

Novemberain
Akankah Naila dan Marfel Akan Kembali Lagi?



Setelah pulang sekolah, Naila pun menepati janjinya untuk pergi ke rumah Ibu Maria. Tak lupa ia membeli kue kering untuk dibawa ke sana, karena tak mungkin ia ke sana dengan tangan kosong. Ia juga membeli beberapa buah seperti Anggur, Apel, Pir, Jeruk, Kiwi, Naga dan Pisang, yang di bungkus seperti bentuk parsel. Setelah itu ia pun berangkat ke sana dengan jantung deg-degan pastinya. Naila juga tak lupa untuk menghubungi sang Bunda agar tak hawatir karena pulang telat.


Padahal jika boleh jujur, Naila belum siap buat ke sana hari ini. Ia ingin ke sana saat Hari MInggu aja bareng sang Bunda. Tapi apalah daya, jika Ibu Maria sudah memintanya setelah ia pulang kuliah. Sedangkan dirinya merasa gak enakan kalau harus menolaknya. Jadi mau gak mau, siap gak siap, ya harus berangkat.


Setelah sampai di depan rumah Marfel, Naila menyemprotkan parfum di hijab dan bajunya. Tak lupa ia mengaca lebih dulu di spion yang ada di hadapannya. Ia menambahkan sedikit lipstik di bibirnya agar tak pucat. Sedangkan untuk make up, masih bagus. Karena memang Naila memakai make up yang bagus, jadi gak mudah luntur. Jika luntur pun tak akan membuat Naila berubah menjadi jelek, mengingat Naila emang sudah cantik dari lahir.


Naila turun membawa dua parcel, di sebelah kanan parcel kue kering. Sedangkan di sebelah kiri, parcel buah. Sedangkan tas dan laptop, ia biarkan di dalam mobil aja, karena ia gak mungkin bawa ke dalam. Kecuali hp dan kunci mobil yang ia taruh di saku. Ia  berjalan menuju pintu utama, dengan susah payah, ia memencet bell yang ada di samping pintu.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka, Naila tersenyum ke Ibu Maria. "Assalamualaikum, Tante," ucap Naila tersenyum ramah.


"Waalaikumsalam, kok sampai bawa ini, Nai," ujar Ibu Maria, karena tangan Naila yang penuh dengan parsel. Ibu Maria pun mengambil satu, sehingga tangan kanan Naila bisa mencium punggung tangan Ibu Maria.


Lalu Naila memberikan semua parcel itu ke Ibu Maria. "Ayo masuk Nai."


"Iya, Tan."


Setelah itu, Naila masuk dan duduk di kursi sofa. Sedangkan Ibu Maria membawa parcel itu ke belakang untuk di taruh ditaruh di atas kulkas.


Ibu Maria pergi ke dapur untuk membuatkan minuman dan membawakan kue yang ia buat tadi.


"Kenapa repot-repot, Tan," tutur Naila tak enak, karena Ibu Maria membawakan minuman dan makanan untuknya.


"Gak repot, kok. Kan kuenya emang sudah ada, kalau minumannya juga, tinggal nuang aja," jawab Ibu Maria sambil menaruh minuman dan makanan itu di meja di depan Naila. Lalu ia pun duduk di samping Naila.


"Alhamdulillah baik, Tan."


"Kamu itu, sejak Marfel pergi keluar negeri, kamunya jarang ke sini lagi. Padahal Tante berharap, kamu mau main-main ke rumah ini walaupun hanya sebentar-sebentar," ujarnya membuat Naila hanya tersenyum bingung mau ngomong apa.


"Gimana kulliah kamu, Nai?"


"Alhamdulillah lancar, Tan. Om mana, Tan?"


"Jam segini dia ada di perusahaan, Nai. Sejak Marfel pergi ke luar negeri, setiap pulang dari sekolah ya langsung ke perusahaaan. Pulangnya kadang nanti jam lima sore, kadang sampai jam tujuh malam."


"Hemm, Tante pasti kesepian banget ya."


"Ia, makanya sekarang Tante ikut arisan, biar ada kerjaan. Sama ikut kumpul para Ibu-Ibu, biar Tante gak kesepian. Tapi kan kalau kumpul-kumpul gak tiap hari, karena semuanya punya kesibukan masing-masing." Sebenarnya ada pegawai di sini yang ngurus hewan di belakang rumah, cuma kan datangnya seminggu tiga kali. Itupun sampai sini langsung kerja, habis kerja langsung pulang.


"Iya sudah, nanti. Hari aku usahakan, setiap pulang kuliah, aku mampir ke sini, Tan. Menemani Tante sampai Om pulang."


"Beneran loh ya."


"Iya, Tan." Karena rasa kasihan, tak tega. Akhirnya Naila pun berucap seperti itu tanpa di fikir lebih dulu. Tapi gak papa deh, hitung-hitung amal karena menemani Tante Maria yang kesepian. Toh Bundannya juga pulang jam sembilan malam, kadang jam sepuluh malam. Paling cepat ya pulang jam delapan malam. Sedangkan Naila bisa mengerjakan tugasn kuliahnay dan ngetik, setelah pulang dari rumah Ibu Maria. Asal bisa ngatur waktu aja, semuanya pasti bisa teratasi.


Naila dan Ibu Maria mengobrol santai sambil menikmati minuman dan kue buatan Ibu Maria. Jam setengah lima, Naila pun pamit pulang. Ibu Maria membawakan kue buatanya yang masih sisa satu utuh. Naila awalnya ingin menolak, tapi karena Ibu Maria memaksanya, akhirnya Naila pun menerimanya.