Novemberain

Novemberain
Hubungan Yang Mulai Renggang



Marfel sudah selesai mandi dan kini ia tengah rebahan di atas kasur, andai Naila gak bilang capek dan pengen istirahat, mungkin Marfel memilih pergi ke kamarnya dan menemani dia mengerjakan tugas-teugasnya. Tapi sayangnya, Naila hari ini terlihat badmood dan sayangnya Marfel enggak tau, apa yang membuat Naila menjadi seperti itu.


"Entah kenapa, aku merasa jika kamu tadi berbohong sama aku, Nai. Mungkin aku terlihat mempercayai kamu, tapi sejujurnya hati aku berkata, jika kamu tengah membohongi aku. Aku gak tau, kenapa tadi kamu keluar, tapi yang jelas bukan untuk beli bunga dan kue buat aku. Itu pasti hanya akal-akalan kamu, kan biar aku gak marah dan diemin kamu lagi. Aku yakin, tadi pasti kamu sedang menemui seseorang, gak mungkin kamu pergi terburu-buru setelah selesai menerima telfon dari orang lain. Siapa orang itu, Nai? Siapa orang yang sudah bikin kamu kayak gini, apakah itu laki-laki? Apakah dia cukup berarti buat kamu, Nai? Hingga kamu mau menemui dia dan berani berbohong sama aku?" tanya Marfel pada dirinya sendiri.


Ia sedikit frustasi memikirkan Naila. Ia yakin, Naila seperti itu, bukan masalah pekerjaan ataupun masalah sekolah, pasti ada sesuatu yang membuat Naila sampai terlihat mempunyai banyak beban yang sangat berat.


"Ya Tuhan, apa sih yang Naila sembunyikan dari aku? Dia gak mungkin selingkuh dariku kan?" tanya Marfel dengan menjambak rambutnya sebagai alat karena merasa pusing dengan apa yang ia fikirkan saat ini.


Sedangkan di kamar sebelah, setelah selesai mandi, Naila memegang Hpnya dan berusaha keras menelfon nomer baru itu, bahkan ia juga menelfon nomer Alfa yang lama, namun tetap tak ada jawaban, ia bahkan mengirim chat lewat wa dan juga sms biasa, namun tak ada satu pun yang di balas.


"Kak Alfa, kamu ke mana sih? Kenapa kamu bikin aku kayak gini? Aku takut Kak Alfa kenapa-napa? Bagaimanapun jika sampai Kak Alfa kenapa-napa, aku pasti akan merasa bersalah banget, karena Kak Alfa kayak gini gara-gara aku," ucap Naila, ia mondar mandir di kamarnya, ia tak bisa tidur jika fikirannya terus tertuju sama Alfa.


"Aku harus minta bantuan siapa?" tanya Naila ia menangis karena kebingungan. Seharusnya aku gak tinggal di sini, kalau aku tinggal di sini, aku gak bebas. Aku harus pulang ke rumah besok, lagian gak pantas buat aku tinggal di rumah orang. Kalau Bunda sampai tau, Bunda pasti marah banget sama aku. Ya Tuhan, aku ini kenapa sih, kenapa aku banyak melakukan kesalahan akhir-akhir ini," ujar Naila kesal. Ia menangis sendirian di kamar. Ia terus berusaha untuk menghubungni Alfa dan mencecar nomer Alfa dengan banyak chat.


Walaupun ia gak ada rasa dengan Alfa, tapi Alfa adalah sahabat Fahmi, orang yang pernah ia cintai. Yang sampai detik ini, masih ada di sudut hatinya. Dan Naila gak mungkin membiarkan Alfa kenapa-napa, jika sampai Alfa sakit atau celaka karenanya. Fahmi akan sedih di atas sana, dia pasti sedih karena melihat sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sakit karena Naila.


Apalagi saat Fahmi masih hidup, Alfa banyak berperan membantu Fahmi, lalu bagaimana mungkin Naila mengacuhkannya apalagi ketika ia tau Alfa menderita karenanya.


Semalaman Naila benar-benar gak bisa tidur karena memikirkan masalah Alfa. HIngga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Naila pun segera mandi untuk suci karena sudah waktunya dia bersuci dan sholat.


Setelah selesai mandi dan sholat, Naila langsung mengerjakan tugas sekolahnya. Hanya butuh waktu satu jam saja, setelah selesai ia menaruh semua buku-bukunya ke  dalam tas. Ia juga membuka lemari dan menaruh semua baju-baju yang di lemari itu ke dalam tas besar miliknya.


Semua punyanya, ia  masukkan ke dalam koper dan tak ada barang yang ia ambil dari kamar ini.


Setelah selesai, Naila pun membawa koper itu keluar, sedangkan dirinya sudah lengkap memakai seragam. Yah, Naila memutuskan untuk pulang ke rumahnya dulu menaruh koper lalu berangkat sekolah.


"Kamu mau kemana, Nai?" tanya Marfel kaget karena ada tas besar milik Naila.


"Tapi aku calon suami kamu, Nai. Aku akan segera melamar kamu dan menjadikan kamu millikku."


"Iya aku tau, Mas. Tapi kan baru calon, belum halal. Untuk itu, aku akan pulang ke rumah aja, aku juga gak nyaman di sini," ujar Naila.


"Kamu ada masalah?" tanya Marfel melihat mata Naila yang bengkak.


"Enggak kok, kenapa?" tanya Naila.


"Matamu bengkak, Nai. Kamu habis nangis, atau gak tidur semalaman?" tanya Marfel membuat Naila kaget.


"Aku hanya gak bisa tidur aja, Mas," jawab Naila berbohong.


"Kamu berubah Nai sejak tadi malam. Aku gak tau apa yang kamu sembunyikan dari aku, tapi aku harap, kamu gak menyalah gunakan kepercayaan aku, Nai. Aku harap, yang jadi beban kamu itu bukan laki-laki lain," ucap Marfel yang membuat Naila terkejut.


"Apakah Mas Marfel tau apa yang kini tengah aku rasakan, apakah dia tau apa yang aku fikirkan saat ini?" tanya Naila dalam hati, ia terlihat gugup dan entah kenapa itu membuat Marfel merasa semakin yakin, jika ada yang di sembunyikan oleh Naila dan itu berkaitan dengan laki-laki lain.


"Aku gak akan maksa kamu untuk jujur, Nai. Aku tau, kamu tak akan tega mengkhianaati aku, tapi walaupun aku percaya, tetap saja ada rasa ketakutan sendiri dalam diri aku. Aku takut kamu terpincut oleh laki-laki lain dan ninggalin aku. Kamu tau, Nai. Aku sangat mencintai kamu, aku sangat menyayangi kamu dan rasa ingin memiliki kamu begitu besar dalam diri aku. BAhkan aku berniat akan melamar kamu setelah Bunda kamu pulang. Tapi jika misalkan kamu ada laki-laki yang kamu cintai lebih dari aku, walaupun sangat menyakitkan, aku akan memilih untuk mundur, Nai. Aku gak mau menjadi egois, yang hanya mementingkan kebahagiaan aku hingga mengabaikan kebahagiaan kamu.  Aku gak tau, kenapa semuanya jadi seperti ini. Dan aku gak tau, siapa yang nelfon kamu tadi malam hingga kamu pergi, tapi yang jelas aku tau, kamu pergi bukan alasan beli bunga atau beli kue untukku. Tapi karena alasan lain. AKu sudah memikirkan ini semua, tapi aku gak akan  nanya alasan kenapa kamu membohongi aku. Karena aku tau, kamu pasti punya alasan kuat kenapa kamu melakukan hal ini. Dan jika pun kamu ingin pulang sekarang, aku gak akan maksa kamu lagi untuk terus bertahan di rumah ini, apalagi jika kamu merasa gak  nyaman. AKu ngizinin kamu pergi dari rumah ini, Nai. Tapi aku harap dan aku berdoa, semoga suatu saat kamu akan kembali ke rumah ini, tapi bukan sebagai kekasih tapi sebagai istri aku dan bagian dari keluarga ini," ujar Marfel panjang lebar. Mereka berbicara di depan pintu dan Naila hanya diam mendengarkan.


"Maafin aku, Mas. AKu gak bisa cerita masalah aku sekarang. Tapi aku janji, jika sudah waktunya, aku pasti akan cerita semuanya. Dan maafin aku juga, karena sudah berbohong, aku hanya gak ingin Mas Marfel marah sama aku dan diemin aku lagi. Aku bingung dan aku gak tau harus bagaimana, makanya aku membelikan itu buat alasan. Aku benar-bener minta maaf," ucap Naila dengan mata berembun.


"jangan nangis, aku sudah maafin kamu kok. Aku tau, kamu pasti punya alasan kuat, sampai kamu melakukan itu. Aku gak marah," tutur Marfel.


"Iya sudah ayo turun, Mama dan Papa aku pasti sudah nunggu kita buat sarapan pagi," ujar Marfel dan Naila pun menganggukan kepala.


"Sini tasnya biar aku yang bawa, ini pasti berat," ucap Marfel, tanpa menunggu jawaban dari Naila. Marfel pun mengangkat tas itu dan membawanya ke ruang tamu. Setelah itu, mereka pergi ke ruang makan di mana di sana sudah ada Pak Atmaja dan IBu Maria yang menunggu kedatangan mereka.