Novemberain

Novemberain
Rani Bertemu Alfa Di Rumah Sakit



Sepulang sekolah, Naila menelfon Bunda yang sudah sampai di rumah di apartemen yang di sewa oleh Bunda Ila di sana selama mengurus cabang yang ada di Bali. Naila mengungkapkan masalahnya dan Bunda Ila pun juga tak mempermasalahkan dengan keputusan yang Naila ambil karena Bunda Ila percaya jika putrinya itu bisa mengatasi masalah di restorannya. Dan Naila pun merasa bersyukur kalau Bundanya itu gak marah malah setuju dengan keputusan yang dia ambil.


Setelah Nelfon sang Bunda, Naila langsung mandi, sholat, beres2 rumah dan makan, untungnya nasi dan lauk pauk tadi pagi masih ada, jadi ia gak perlu masak lagi dan makan makanan yang masih tersisa di meja makan itu. Setelah selesai, ia kora-kora dan pergi ke kamar untuk istirahat, karena kepalanya yang masih sedikit pusing.


Saat Naila tidur, hpnya berbunyi terus, ada banyak pesan masuk dan juga ada telfon masuk tapi karena Naila tidur ia pun gak tau, kalau hpnya terus berbunyi dari tadi.


Apalagi emang di kasih nada rendah, sehingga Naila tidak merasa terganggung dengan nada dering hpnya.


Di tempat lain, Marfel merasa gelisah karena Naila tak kunjung mengangkat telfonnya, bahkan chatnya pun gak di balas, padahal hpnya aktiv bahkan saat ia kirim pesan pun langsung centang dua, hanya saja belum di baca. "Kamu kenapa sih, Nai. Apa kamu beneran marah sama aku, karena aku yang gak datang buat menemui Ibu kamu. Sampai kamu ingin menjauh dariku," gumam Marfel dalam hati. Ingin rasanya ia pulang sekarang juga, tapi dirinya gak enak sama yang lainnya. Apalagi ini masih dalam keadaan duka karena baru kemaren sang nenek meningal, bahkan mamanya aja masih sok dan masih terus menangis dari kemren, dan beberapa kali pingsan.


Marfel tak mungkin meninggalkan mamanya dalam kondisi seperti ini, sedangkan papanya juga terus berusaha menenangkan mamanya itu dan sesekali kumpul sama yang lain untuk sekedar mengobrol, menemui mereka yang jauh-jauh datang setelah tau, sang nenek meninggal.


Marfel jadi serba salah, di satu sisi ingin cepat pulang dan bertemu Naila, tapi di sisi lain, Marfel tidak bisa meninggalkan mamanya gitu aja dalam kondisi seperti ini. Jadinya Marfel cuma bisa diam, bahkan urusan pekerjaan pun hanya bisa ia kerjakan dari hp dan laptop.


Sedangkan Naila, ia bangun setelah ia istirahat sejam, ia duduk sebentar, lalu ia segera ambil wudhu dan sholat. Setelah selesai ia menghidupkan laptopnya dan membuat cerita karena sudah lama gak update bab.


Tak terasa malam pun sudah tiba, Naila segera mematikan laptopnya, lalu ia segera wudhu lagi dan sholat isya'. Habis sholat, Naila langsung tidur, tanpa menyentuh hpnya sama sekali. Entah kenapa benar-benar gak mood buat megang hpnya. Dan Naila pun gak tau, kalau hpnya sudah mati karena baterainya lemah.


Keesokan harinya, Naila males masak. Ia juga lagi gak mood, di tambah setiap kali ia ingat dengan restorannya yang harus di tutup untuk beberapa hari ke depan dan ia masih belum mendapatkan solusinya.


Habis sholat, Naila cuma bersih-bersih dan nyuci sambil olah raga bentar, karena dirinya sudah lama tidak olah raga.


Jam tujuh pagi, ia mandi lalu pergi ke rumah Rani untuk menjemputnya. Sesampai di rumah Rani, ternyata Rani masih belum mandi, dan dia masih asyik main hpnya.


"Loh, Nai. Kamu sudah datang?" tanya Rani kaget melihat Naila sudah datang ke rumahnya padahal ini masih sangat pagi sekali.


"Iya, kan kamu yang minta kemaren buat jemput kamu ke sini."


"Hehe iya. Tunggu bentar ya, aku mau mandi. Oh ya masuk dulu gih."


"Enggak usah, aku nunggu di sini aja," ujar Naila dan Rani pun menganggukkan kepala. Ia segera masuk ke dalam rumah untuk mandi dan bersiap-siap, sedangakn Naila hanya diam menunggu di atas sepeda motornya. Biasanya kalau ia bawa hp, ia akan main Hp. Tapi hpnya sengaja gak ia bawa, karena terlalu malas. Lagian ia ingin menenangkan diri dulu sambil memikirkan masalah restorannya itu.


Setengah jam berlalu, Rani pun sudah selesai, ia memaki celana dan baju panjang yang sampai lututnya. Dengan hijab yang menutupi dadanya. Ia juga memakai tas yang berisi dompet aan hpnya, serta kaos kaki dan sandal sepatu warna hitam.


"Kita mau kemana, Nai?" tanya Rani setelah mereka berada dalam perjalanan. Naila yang menyetir, sedangkan Rani duduk di belakangnya. Ia membawa sendiri helm kesukaannya karena Naila hanya membawa satu helm yang ia pakai sendiri.


"Rumah sakit," jawab Naila.


"Siapa yang sakit?" tanya Rani penasaran.


"Nanti juga tau," ujar Naila yang masih enggan menjawab pertanyaan Rani.


Saat sampai di depan rumah sakit, Naila membeli bubur ayam sebanyak sepuluh kotak. Karena ia tak mungkin ke sana tanpa bawa oleh-oleh. Lalu setelah itu, Naila dan Rani pun berjalan ke arah rumah sakit. Sesampai di lantai tiga, di depan kamar Alfa, Naila mengetuk pintunya dan kali ini Alfira yang membukakkan pintu.


"Waalaikumsalam, Mbak Naila. Ayo masuk," ucap Alfira sambil membukakan pintunya lebar-lebar.


"Ayo, Ran. Masuk, jangan di luar," ajak Naila sambil menyeret tangan Rani agar dia masuk ke dalam ruangan.


Dan ketika Rani masuk, betapa kagetnya dia saat melihat laki-laki yang ia cintai tengah berbaring di atas brangkar dengan keadaan mengenaskan karena ada banyak selang yang menempel di tubuhnya.


"Kak Alfa," gumam Rani pelan.


"Halo, Tante, Om, Ini aku bawakan bubur buat kalian, tapi sebenarnya aku beli di depan rumah sakit sih," ujar Naila malu. Karena ia membawa oleh-oleh dari depan rumah sakit.


"Gak papa, Nai. Tapi kenapa kamu bawa bubur ayam sampai banyak gitu, Nai."


"Biar kita bisa makan bareng, Tante," sahut Naila sambil memberikan mereka satu persatu. Dan sisanya ia taruh di atas meja.


"Oh ya, Tan, Om, Mas Adrian dan Alfira, perkenalkan ini Rani, wanita yang aku bicarkan kemaren. Dan Rani, ini keluarganya Kak Alfa," ucap Naila memperkenalkan mereka.


"Halo, semuanya. Salam kenal," ucap Rani gugup, andai ia tau Naila akan membawanya ke sini, pasti ia akan memakai baju yang lebih bagus, bukan baju santai kayak gini. Tadinya Rani berfikir Naila akan mengajak Rani nongkrong eh gak taunya ke rumah sakit dan bertemu dengan keluarga Alfa.


Keluarga Alfa pun menyapa Rani dengan ramah, dan mereka saling mengobrol satuu sama lain. Sedangkn Naila memilih diam sambil melihat ke arah Alfa.


"Maaf, sebelumnya. Apa kita gak makan dulu, soalnya saya laper," ucap Naila ini sudah hampir jam setengah sembilan dan dirinya belum sarapan pagi. Perutnya terasa perih sekali.


"Kamu laper, Nai. Makan dulu aja, Nai. Om dan Tante sudah makan, begitupun dengan yang lain," ujar Arini terkekeh melihat wajah malu-malu Naila.


"Aku juga sudah makan tadi, Nai. Kamu makan duluan aja," tutur Rani. Naila pun tak mau malu-malu lagi. Ia langsung duduk di kursi dan menikmati bubur ayamnya yang sudah hampir dingin itu. Saat Naila makan, Adrian memberikan sebotol air.


"Ini airnya," ujar Adrian dan Naila pun tersenyum ramah.


"Makasih, Mas," balas Naila gak enak hati.


"Sama-sama," jawab Adrian, entah kenapa ia merasa lucu dengan semua sikap Naila, karena Naila tidak jaim dan selalu apa adanya.


Selesai makan, Naila membuang tempatnya di tempat sampah. Sebenarnya di ruangan ini ada tempat sampah, namun Naila memilih buang keluar, tempat sampah yang ada di samping tangga. Setelah itu, Naila pun kembali ke ruangan.


"Kondisi Kak Alfa, masih belum ada perubahan?" tanya Naila.


"Belum, Nai. Entah kapan Alfa mau membuka matanya," ucap Arini sedih. Rani pun yang ikut mendengarnya juga iku sedih. Walaupun Alfa belum membalas perasaan Rani, namun entah kenapa rasa sayang dan rasa cinta Rani untuk Alfa, juga tak kunjung berubah. Jangankan memudar, yang ada malah semakin menggebu-gebu. Rani pun juga tak mau seperti ini, tapi apalah daya, ia tak punya kuasa untuk mengatur perasaan yang ia rasakan karena semakin ia berusaha melupakan Alfa, nyatanya rasa itu semakin tumbuh dan sulit untuk di hilangkan.


Rani menatap ke arah Alfa, hatinya berdenyut sakit, ingin rasanya ia memeluk pria yang kini tengah berbaring di atas brankar ini, namun rasa keinginannya ia kubur dalam-dalam, karena ia tak mau melakukan hal-hal yang membuat Alfa dan keluarganya itu membenci dirinya.