Novemberain

Novemberain
Keadaan Yang Semakin Kacau



Sepanjang jalan, Naila dan Marfel hanya bisa diam seribu bahasa, tak ada yang berani bersuara. Marfel yang tengah memikirkan Naila dan Naila yang tengah memikirkan Alfa. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Naila. Naila pun membuka pintu mobil dan mengambil tas yang ada di belakang, lalu segera membawanya untuk ia taruh di dalam rumahnya. Sedangakn Marfel, ia tidak memilih keluar dan tetap berada di dalam mobil. Fikirannya kacau sejak tadi malam, hingga ia terlalu malas untuk ngapa-ngapain. wajahnya juga terlihat lesu dan kusut.


Sedangkan Naila, ia menaruh tas itu di dalam kamarnya, setelah selesai ia mengunci pintu rumahnya lagi dan berjalan menuju mobil. Ia duduk di samping Marfel, Marfel sendiri melihat ke arah Naila yang sudah duduk manis di sampingnya.


"Sudah?" tanya Marfel dan Naila hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Lalu Marfel pun melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, sama seperti kemaren, Marfel menurunkannya di pertigaan tak jauh dari sekolah dan membiarkan Naila berjalan dari sana menuju sekolah. Sedangkan Marfel ia mengemudikan mobilnya menuju halaman parkir sekolah dan memarkikran mobilnya di sana. Dan saat ketika ia turun, tiba-tiba Ibu Riri menghampirinya.


"Pak Marfel, ini saya buat kue tadi buat Pak Marfel," ujar Ibu Ririn yang memberikan kotak berbentuk persegi. Awalnya Marfel tak mau menerimanya, namun ketika matanya tak sengaja menatap ke arah Naila yang berjalan menuju halaman sekolah, Marfel pun menerimanya.


"Terima kasih, Ibu Ririn," ucap Marfel tersenyum manis. Sedangkan Naila yang melihat itu, hatinya cukup sakit, namun ia tetap berjalan melewati mereka menuju kelas.


"Aku tau, Mas. Kamu melakukan itu dengan sengaja, aku gak marah karena ini emang salahku. Berikan aku waktu untuk menyelesaikan semuanya, setelah itu, aku akan menceritakan semua masalah aku ke kamu dan menjalani hubungan tanpa ada gangguan lagi," gumam Naila dalam hati.


Sesampai di kelas, Naila langsung duduk aja di kursi, bahkan ketika teman-temannya menyapanya pun, Naila tak memberi respon dan hanya diam aja.


"Kamu kenapa, Nai? Tumben gak semangat gitu? Terus ini mata kenapa, sampai bengkak gini? Kamu gak tidur semalaman?" tanya Rani dengan ocehannya sedangkan teman yang lain memilih diam, menunggu jawaban dari Naila.


Naila hanya menjawabnya dengan gelengan kepala, lalu ia menaruh kepalanya di meja dengan di bersandar di lengan kanannya, ia lagi gak mood untuk menjawab pertanyaan mereka. Kepalanya pusing efek gak tidur semalaman, dan lagi fikirannya kacau karena memikirkan keadaan Alfa, takut jika Alfa kenapa-napa di luaran sana.


"Andai kamu tau, Ran. Aku seperti ini karena mikirin Kak Alfa, cowok yang kamu suka," ucap Naila. Andai ia bisa berbagi cerita, mungkin bebannya gak akan seberat ini. Tapi sayangnya ia tidak bisa menceritakan ke siapapun, atau masalahnya akan semakin runyam. Karena mereka belum tentu mau mengerti apa yang ia rasakan.


Dan Naila pun sadar, tak seharusnya ia memikirkan cowok lain di saat ia sudah punya kekasih. Namun ia tak bisa untuk berpura-pura tak peduli, karena nyatanya saat ini ia merasa resah dan gelisah. Ia tidak akan tenang sebelum ia tau keadaan Alfa saat ini.


"Aku harus gimana, Tuhan? Aku harus gimana? Perasaan ini datang tanpa bisa aku cegah, rasa khawatir, rasa takut, rasa cemas. Semuanya itu datang dan membuat aku seperti ini. Aku gak ingin seperti ini Tuhan, tapi aku pun tak berdaya, Tuhann. Aku tak berdaya," ucap Naila dengan isakan kecil. HIngga membuat Rani bingung, karena untuk pertama kalinya ia melihat Naila yang tengah menangis.


"Kamu kenapa, Nai? Cerita sama aku," ucap Rani sambil menepuk bahu Naila dengan pelan.


"Kamu bisa cerita sama aku, kamu ada masalah apa? Kamu bertengkar sama cowok yang kamu suka itu? Atau ada masalah di resto?" tanya Rani, ya dia emang tau jika Naila punya resto, berbeda dengan teman-temannya yang hanya tau, jika Naila kerja di resto itu sebagai karyawan biasa, bukan sebagai pemilik resto.


"Aku gak bisa cerita, Ran. Aku gak bisa."


"Ya sudah gak papa, aku cuma bisa berdoa, semoga masalah kamu segera selesai ya," ujar Rani dan Naila pun menganggukkan kepalanya.


Jam pelajaran pertama di mulai, namun Naila hanya menatap ke depan dengan tatapan kosong, ia bahkan tak mau mengajukan pertanyaan satupun seperti biasanya. Sampai sang guru yang menjelaskan pun merasa heran, karena Naila tak sesemangat seperti biasanya.


"Nai, kamu gak nanya?" tanya sang guru. Namun Naila tetap diam membisu. Sampai Rani menyikut lengan Naila, baru Naila menoleh.


"Ada apa?" tanya Naila sedangkan Rani menatap tajam. "Itu Pak Haikal tanya," ujar Rani geram karena ternyata Naila sedari tadi tak mendengarkan.


"Nanya apa?" ujar Naila seperti orang kebingungan. Teman-temannya yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka pun hanya bisa melongo, karena ini sejarah buat mereka melihat Naila tak mendengarkan saat guru sedang menjelaskan.


"Nai, kamu kenapa? Ada masalah?" tanya Pak Haikal melihat Naila yang lesu dan mata yang ada lingkaran hitam di bawahnya, bahkan sedikit bengkak.


"Enggak, Pak. Saya cuma kurang tidur aja, semalam," ucap Naila berbohong. Pak Haikal pun menganggukkan kepala, karena ini pertama kali Naila membuat kesalahan, jadi Pak Haikal pun memaafkan karena ia tau, jika bukan karena ada masalah, murid kesayangannya itu tak mungkin sampai seperti itu.


"Iya sudah anak-anak, saya harap kalian mengerti penjelasan bapak tadi. Nah sekarang kalian buka buku LKS nya dan kerjakan halaman 32. Kalian harus isi kolom pertama sampai kolom keempat, setelah selesai, kalian bisa kumpulkan ketua kelas. Untuk ketua kelas, nanti taruh di meja ruangan bapak ya. Soalnya bapak ada urusan, jadi tolong jangan rame, kerjakan dengan benar dan jangan menyontek. Sekian dari bapak, selamat bertemu di Minggu berikutnya." Setelah itu Bapak Haikal pun pergi dari sana dengan membawa buku paket yang ia gunakan untuk mengajar di kelas.


Setelah Pak Haikal pergi, anak-anak yang lain yang tadinya sepi, langsung mulai bersuara, mereka mengerjakan soal itu berkelompok biar cepat selesai. Sedangakn Rani dan teman-teman se gengnya menghampiri Naila untuk menanyakan, apakah Naila baik baik aja. Hanya saja, Naila cuma menjawab dengan anggukan dan gelengan kepala.


Naila benar-benar tak ingin di ganggu, melihat respon Naila, mereka pun tak lagi bertanya dan memberikan waktu buat Naila untuk menyendiri.


Sedangkan Marfel kini ia mengajar di kelas sebelah, selama mengajar, Marfel pun banyak bengongnya. Ia hanya menjelaskan sebentar, lalu setelah itu, ia memberikan soal untuk di kerjakan para muridnya. Dan setelahnya ia hanya diam memikirkan Naila. "Ada apa dan kenapa?" itulah yang ada dalam fikirannya saat ini.