Novemberain

Novemberain
Pertanyaan Pak Atmaja Untuk Marfel



Sesampai di depan rumah Naila, Marfel pun ikut turun.


"Kenapa mas ikut turun?" tanya Naila bingung.


"Gak papa, kepengen aja. Kamu sama siapa di sini?" tanya Marfel basa basi yang sebenarnya pengen lebih lama berada di dekat Naila.


"Iya sendiri,"


"Kamu gak mau basa basi mau buatin aku minum?" goda Marfel.


"Sudah malam, gak enak sama tetangga, nanti di kira kita sedang melakukan hal gak seno noh. Lagian gak baik kan mas bertamu di rumah wanita di malam hari kayak gini terlebih di rumah itu lagi kosong dan hanya ada aku seorang, kecuali ada bunda. Mungkin aku masih mau nawarin mas minum," ujar Naila menjelaskan panjang lebar.


"Hehe aku cuma bercanda. Masuk gih, jangan lupa mandi, sholat isya juga," ucap Marfel mengingatkan.


"Iya, aku masuk dulu ya, Assalamualaikum," ujar Naila yang gak mau ngomong panjang lebar lagi karena tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin segera mandi, sholat lalu istirahat.


"Waalaikumsalam," jawab Marfel sambil melihat Naila masuk ke dalam rumah, lalu setelah itu Marfel pun masuk ke dalam mobilnya dan pulang.


Sesampai di rumah, ternyata ia sudah di tunggu oleh kedua orang tuanya yang duduk santai di ruang tamu.


"Assalamualaikum ma, pa," sapa Marfel sambil mencium tangan mereka bergantian.


"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.


"Duduk," ucap Pak Atmaja dingin.


Marfel yang mendengar suara dingin papanya pun merasa ketakutan karena itu tandanya kini sang papa lagi marah padanya.


"Dari mana?" tanya Pak Atmaja sedangkan mama memilih diam. Pat Atmaja emang selalu tegas kalau sudah menyangkut masalah Marfel, bukan apa apa ia hanya takut putranya itu salah jalan. Bukan tak mempercayai nya, hanya saja sebagai seorang papa, dia ingin anaknya terus berada di jalan yang benar dan tak salah jalan tentunya.


"Aku tadi nganterin seseorang pa, pulang ke rumahnya," jawab Marfel jujur.


"Perempuan?" tanya Pak Atmaja lagi.


"Iya pa,"


"Tadi sepulang kerja aku mampir ke kafenya, terus aku bantuin dia menyelesaikan pekerjaannya terus karena ini dah malam, jadi aku nganterin dia pulang karena gak baik kan pulang malam seorang diri terlebih dia seorang perempuan, aku takut nanti dia kenapa napa di jalan, " ujar Marfel.


"Siapa dia?" tanya Pak Atmaja lagi.


"Naila pa, muridku. Dia selalu kerja sepulang sekolah, dia membantu bundannya mengurus kafe," jawab Marfel.


"Kamu mencintai nya?" tanya Pak Atnaja yang membuat Marfel bingung mau jawab apa.


"Kalau cinta, bilang nak. Mama tau pasti dia wanita yang cantik dan baik kan?" tanya Mama.


"Iya ma, pa, aku menyukainya, karena dia mempunyai pribadi yang sangat baik. Di saat yang lain sibuk menghambur hamburkan uang. Dia malah sibuk sekolah sambil kerja, dia wanita yang mandiri, sholehah, ramah dan baik juga. Orangnya juga cantik," ujar Marfel yang tanpa sadar membicarakan dan memuji Naila.


"Kamu yakin menyukai anak yang bahkan statusnya masih seorang pelajar?" tanya Pak Atmaja.


"Yakin pa, dia emang pelajar tapi fikiranya sangat dewasa, gak kekanakan seperti yang lainnya," balas Marfel.


"Baiklah, papa setuju. Tapi ingat jangan sampai kamu merusak anak gadis orang ya," ucap Pak Atmaja mengingatkan.


"Iya pa," jawab Marfel senang karena papanya ternyata menyetujui dirinya yang menyukai muridnya sendiri.


"Kapan kapan bawa ke sini ya nak, biar mama juga bisa kenalan dengannya," ucap mama yang penasaran dengan wanita pilihan putranya itu.


"Iya, Insyaallah ma," jawab Marfel. Ia bahagia karena kedua orangtua nya itu seakan memberikan lampu hijau kepada Marfel.


"Iya sudah, kamu masuk gih, mandi, lalu istirahat,"


"Iya ma." Jawab Marfel lalu ia pun masuk ke dalam kamarnya sendiri.