
Sudah dua jam Naila pingsan, dan Marvel pun dengan setia menemani Naila. Marvel juga tak lagi pakai infus, ia tak mau pura-pura lagi dan membuat Naila sibuk karena mengurus dirinya. Ia tak mau egois lagi, ia tak ingin hanya karena pengen dapat perhatian Naila, sampai pura-pura sakit dan membuat Naila harus kerumah sakit setiap hari dan mengurus dirinya di sela-sela kesibukannya. Lengannya juga yang tadi terluka karena mencabut infus, sudah di obati oleh dokter.
Ibu Maria pun juga sudah pulang setelah dijemput oleh Pak Atmaja, namun mereka janji, besok pagi akan ke rumah sakit untuk menemui Naila.
Setelah Ibu Maria dan Pak Atmaja pergi, kini tinggal Marvel sendirian yang menemani Naila.
"Nai, maafin aku ya. Gara-gara aku, kamu jadi sakit kayak gini. Kamu pasti capek banget ya ngerawat aku beberapa hari terakhir ini. Pasti capek banget, kan? Maaf ya aku egois. Aku gak pernah mikirin kamu, aku cuma mikir diri aku sendiri. Aku janji ke depannya, aku gak akan kayak gini lagi. Aku akan berubah, aku akan menjadi pria dewasa dan tak lagi bersikap kekanak-kanakan." Marfel terus menggenggam tangan Naila dan mengecupnya berulang-ulang. Ia sangat menyesali perbuatannya.
"Janji ya, Mas. Kamu harus berubah," ujar Naila yang ternyata sudah sadar dan mendengar ucapan Marfel.
"Kamu sudah sadar, Nai? Aku panggil dokter dulu ya." Saat Marfel ingin memencet bell yang ada di dinding atas brankar, Naila dengan gercep memegang tangan Marfel.
"Enggak usahlah, Mas. Lagian aku gakĀ papa kok. Mas bisa ambilkan air, aku haus," pinta Naila. Marfel pun dengan sigap langsung mengambilkan air dan memberikannya ke Naila.
"Makasih ya, Mas." Naila memberikan gelas kosong ke Marfel.
"Sama-sama. Kamu tadi ke sini naik apa, Nai?" tanya Marfel sambil duduk kembali di kursi samping brankar.
"Taxi, Mas. Sepeda motornya aku taruh di resto. Soalnya aku takut kenapa-napa di jalan, kalau dipaksa nyetir," sahut Naila sambil menatap ke arah Marfel.
"Mas sudah sembuh, kok gak di infus lagi?" tanya Naila.
"Iya aku sudah sembuh, besok aku sudah boleh pulang, Nai."
"Alhamdulillah, aku seneng dengernya, Mas. Berarti besok aku juga boleh pulang kan?"
"Iya, kalau keadaan kamu sudah baik-baik aja. Oh ya, Nai. Kan kamu tinggal sendiri, kamu mau ya tinggal di rumah aku, kan di sana ada Mama dan Papa aku. Ada aku juga yang akan menjaga kamu. Kalau kamu sendirian, aku takut kenapa-napa. Aku juga gak bisa nginep di rumah kamu, karena di sana gak ada orang lain selain kamu. Aku gak ingin orang-orang menganggap kamu negatif walaupun niat aku tinggal di rumah kamu, hanya sekedar jaga kamu."
"Tapi aku khawatir, Nai. Haruskah aku beli rumah di dekat rumah kamu, agar aku bisa mantau terus keadaan kamu?" tanya Marfel.
"Ya ampun, gak segitunya juga kali, Mas," balas Naila gak nyangka dengan pemikiran Marfel.
"Terus aku harus gimana, apa aku lamar kamu aja, Nai? Aku janji gak akan menghalangi kamu buat ngejar cita-cita kamu, kamu juga tetap bisa sekolah. Aku juga gak akan minta hakku sebagai suami. Aku cuma ingin terus ada di samping kamu, Nai. Menjaga kamu dan melindungi kamu," ucap Marfel mengungkapkan isi hatinya.
"Kalau aku jadi istri kamu, aku gak bisa melayani kamu, Mas. Aku gak bisa seperti yang lainnya. Aku ngurus diri aku aja, kadang keteteran, apalagi masih ngurus kamu. Aku takut, Mas. Aku takut melalaikan kewajiban aku sebagai seorang istri. Terlebih aku masih sekolah SMA dan belum lulus."
"Kalau kamu gak mau nikah, paling gak lamaran aja, Nai. Aku ingin mengikat kamu dalam sebuah hubungan. Setidaknya, misal kamu kenapa-napa, aku bisa selalu ada dengan alasan kamu tunangan aku. Bukankah kalau cuma tunangan gak ada masalah, Nai. Itupun gak harus teman-teman kamu tau. Kita bisa tunangan dan cukup mengundang keluarga terdekat saja, sama tetangga terdekat. Mau ya, Nai. PLease. Aku cuma ingin menjaga dan merawat kamu, Nai. Aku ingin melindungi kamu."
"Baiklah, aku fikirkan dulu ya, Mas. Aku gak bisa mengambil keputusan, karena aku masih tanggung jawab bunda. Jadi keputusannya ada di tangan Bunda. Jika Bunda setuju, aku mungkin juga akan setuju," ujar Naila.
Mendengar hal itu membuat Marfel tersenyum senang dan ia sangat berharap, jika calon Ibu mertuanya itu mau menerima dirinya dan membiarkan dirinya dan Naila menjalin hubungan 'tunangan'.
"Semoga Bunda kamu mau ya nerima aku jadi calon menantunya."
Naila hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum.
"Iya sudah kamu tidur dulu ya, ini masih gelap. Nanti aku bangunin pas adzan shubuh," ujar Marfel dan lagi-lagi Naila pun hanya bisa mengiyakan saja. Lagian ia masih pusing, jadi ia butuh istirahat yang cukup untuk membuat tenaganya pulih kembali.
"Iya, Mas." Setelah itu, Naila pun memejamkan matanya dan tak lama kemudian, sudah tidur nyenyak. Melihat hal itu, Marfel pun hanya tersenyum. Ia pergi menuju sofa dan tidur di sana. Sambil menghadap ke arah Naila yang tengah tertidur lelap.
"Aku sayang kamu, Nai. Sayang banget, bahkan mungkin bukan hanya sayang, tapi cinta. Yah, aku mencintai kamu, wanita yang diam-diam sudah berhasil mencuri hati aku. Dan aku gak akan membiarkan kamu sakit lagi kayak gini, aku akan menjaga kamu, Nai." gumam Marfel dalam hati.