Novemberain

Novemberain
Fahmi Sadar




 


 


Setelah setengah jam menunggu akhirnya Fahmi pun sadar. Naila sangat bahagia melihatnya.


"Naila." Ujar Fahmi dengan suara pelan.


"Assalamu'alaikum Kak." Ujar Naila tersenyum.


"Waalaikumsalam. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Fahmi berusaha untuk bangun.


"Gak udah bangun dulu kak, terbaring aja gak papa." Jawab Naila tanpa menyentuh Fahmi. Fahmi pun mengangguk dan memilih terbaring karena memang kepalanya masih sedikit pusing.


"Aku tau kakak di rawat di rumah sakit ini dari Kak Alfa." Ujar Naila.


"Terus kemana Alfa sekarang?" tanya Fahmi.


"Keluar kak tapi dia sudah menitipkan Kak Fahmi sama aku jadi kakak tenang aja, jika kakak butuh apa apa tinggal bilang aja ke aku." Ujar Naila.


"Kamu gak sekolah?" tanya Fahmi.


"Enggak kak." Jawab Naila.


"Kenapa?" tanya Fahmi.


"Kan jagain kaka di sini." Jawab Naila.


"Maafkan aku, gara gara aku kamu jadi bolos gini."


"Gak papa ka, santai aja."


"Terima kasih ya."


"Untuk?" tanya Naila.


"Sudah bersedia meluangkan waktumu untuk menjenguk aku walau sebenarnya aku malu jika kamu  liat keadaanku yang kayak gini."


"Gak usah malu ka, santai aja. Oh ya makasih ya kak untuk bunda dan coklatnya."


"Kamu suka sama coklatnya? Maaf jika rasanya nano nano." Ujar Fahmi.


"Coklatnya belum aku makan ka."


"Kenapa? Pasti kamu takut gak enak ya? Maaf, aku baru belajar."


"Bukan kak tapi rasanya gak tega mau makan. Itu kan kaka bikin spesial buat aku, aku takut kalau nanti tak makan bisa bisa itu kue habis seketika." Jawab Naila tersenyum.


"Kalau kamu mau, aku bisa bikinin kamu tiap hari." Ujar Fahmi.


"Gak perlu kak, aku gak mau ngerepotin kakak."


"Gak repot, aku malah senang jika kamu suka dengan kue buatanku."


"Aku seneng kak, seneng banget tapi kalau kondisi kakak kurang baik, lebih baik gak usah bikin kak. Aku gak tega dengar cerita kakak dari Kak Alfa. Bagaimana perjuangan kakak bikin kue untuk aku padahal kakak lagi sakit."


"Aku hanya ingin memberikan surprise."


"Kamu gak perlu merasa bersalah, aku hanya ingin membuat mu bahagia."


"Aku bahagia jika melihat kakak sehat dan aku sedih jika aku melihat kakak sakit kayak gini. Jika kaka ingin aku bahagia, maka kakak harus cepat sembuh biar aku gak hawatir dan gak sedih lagi."


"Baiklah, aku janji. Aku akan segera sembuh demi kamu." Ujar Fahmi tersenyum.


"Beneran ya kak?"


"Iya tapi jika aku sembuh, kamu mau kan aku ajak jalan jalan?" tanya Fahmi.


"Baiklah aku mau."


"Terima kasih, aku janji aku gak akan menyentuhmu apapun yang terjadi. Aku akan menjagamu sebaik mungkin."


"Terima kasih ka, sudah mau mengerti aku."


"Nai, sampai kapan kamu di sini?" tanya Fahmi.


"Apakah kakak ngusir aku?"


"Bukan gitu nai, aku takut ganggu aktivitas kamu. Kamu kan sudah bolos sekolah apakah kamu juga akan bolos untuk jaga resto yang sudah bunda kamu titipkan ke kamu?" tanya Fahmi.


"Masalah itu gampang kak, aku tinggal meminta Mbak Rina dan Mbak Indah untuk jaga resto selama aku gak ada. Mereka kepercayaan aku dan bunda. InsyaAllah mereka berdua amanah." Ujar Naila.


"Terus bagaimana jika bunda kamu tau, kamu bolos sekolah?"


"Itu jadi urusanku sama bunda kak. Kakak gak perlu hawatir. InsyaAllah bunda gak akan marah.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya."


"Kakak, mau makan gak? biar aku belikan bubur ayam buat kaka."


"Gak usah Nai, rasanya perutku masih gak enak."


"Tapi kakak harus makan biar cepet sembuh. Katanya mau segera sembuh?'


"Baiklah, terserah kamu."


"Kalau gitu, aku tinggal dulu ya kak buat beli bubur ayam kayaknya di depan rumah sakit ini ada deh. Aku ke sana dulu ya, kakak gak papakan aku tinggal sendirian di sini?"


"Gak papa Nai."


"Baiklah, aku pergi dulu. Sebentar kog." Ujar Naila yang langsung pergi membawa tasnya untuk membeli bubur ayam yang ada di depan rumah sakit.