Novemberain

Novemberain
Curhat Ala Naila



Naila sampai di depan rumahnya, ia langsung memarkirkan mobilnya di garasi, karena ia sudah tak mau keluar lagi. Tubuhnya sudah lelah dan ia butuh istirahat. Terlebih ia nanti harus bangun lebih awal karena besok ada jam kuliah pagi. Dan lagi, kalau pagi biasanya suka macet, setidaknya ia harus berangkat jam enam agar tidak telat, apalagi dosen di jam pertama, sangatlah killer, telat satu  menit pun tak boleh masuk, harus benar-benar di siplin.


Setelah ia membuka pintu, ia langsung mengucap salam, tapi tak ada yang menyahutnya. "Bunda kemana ya?" tanyanya pada diri sendiri. Padahal mobil Bunda ada di garasi, sepeda motor juga ada. Tapi kok gak ada orang ini, pintu juga gak di kunci, cuma di tutup rapat. Naila mencari di dapur, di kamar sang Bunda juga tak ada. Bahkan ketika ia mencari di belakang rumah dan di samping rumah pun juga tak ada.


"Apa mungki Bunda tengah keluar?" tanyanya lagi.


"Sudahlah, aku mending mandi dulu, gerah rasanya." Naila pergi ke kamarnya, ia segera menaruh tasnya, lalu membuka kaos kakinya. Lanjut ia membuka semua yang melekat di tubuhnya, lalu ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Setelah selesai mandi Naila segera memakai baju dan mengeringkan rambutnya itu. Lalu ia mengikatnya agar terlihat rapi dan tidak berantakan. Setelah selesai, ia pergi keluar kamarnya dan mencari sang Bunda.


"Bunda dari mana tadi?" tanya Naila melihat Bundannya sudah ada di ruang keluarga sedang nonton tivi.


"Oh itu, Bunda di panggil Ibu Rt tadi," jawabnya. Naila duduk di samping Bunda Ila.


"Ada apa?" tanya Naila.


"Hari Minggu besok ada gotong royong, karena kan sudah mau memasukin musim hujan. Jadi harus bersihkan semua got, terus bersih-bersih jalan dan pekarangan. Biar enak di lihat dan juga tidak menghambat air yang ngalir," jawabnya.


"Terus?" tanya Naila lagi sambil mengambil cemilan astor yang ada di atas meja. Ia memakannay sambil dengerin omongan sang Bunda.


"Ya karena kita gak ada cowoknya di rumah ini, jadi Bunda harus urunan lima puluh ribu. Atau ngasih makanan buat para laki-laki yang bekerja gotong royong nanti."


"Terus Bunda pilih mana?" tanya Nail sambil menikmati astornya.


"Ya, Bunda milih bayar aja. Bunda kasih uang seratus ribu, biar gak ribet juga kan?"


"Iya juga sih."


"Kamu sudah lama pulangnya?"


"Enggak sekitar setengah jam yang lalu."


"Oh berarti, Bunda pergi. Kamu datang ya. Untung sama Bunda gak di kunci pintunya, khawatir kamu datang. Gimana tadi pestanya?" tanya Bunda Ila sambil menatap putrinya yang tak berhenti makan astor.


"Tegang, Bun."


"Kok tegang?" tanya Bunda Ila dan akhirnya Naila pun menceritakan situasi di sana. Tentang Alex dan Alexa yang ternyata saudaraan dengan Alfa dan keluarganya. Dan lagi, Naila ketemu orang tua Marfel, mantan calon mertuanya.


"Iyalah, Bun. Setelah menyapa dan memberikan kadonya ke Mamanya Alexa, aku langsung menyapa saudara-saudaranya Alexa, dan ternyata Mas Adrian yang pernah ketemu kita di rumah sakit, ingat gak Bun. Nah itu kakak laki-laki Alexa Bun, kaka pertamanya," jawab Naila.


"Ternyata dunia ini sempit ya, Nai," canda Bunda Ila biar gak tegang.


"Iya, Bun. Aku gak nyangka akan ketemu sama mereka semua, dan lagi teman dekat aku pun masih satu lingkungan dengan mereka."


"Terus kamu nyapa keluarga Alfa juga?"


"Iya, pasti Bun. setelah menyapa Mas Adrian, Mas Andre dan Alex. Aku menyapa Tante Arini, Om Antoni, Alfira dan Alfa. Dan tau gak sih, kalau tadi siang pas ke Mall. Kita kan ketemu Tante Arini dan Tante Arini pergi ke Mall karena buat beli hadiah untuk orang tua Alexa dan kita pun sama hehe. Andai tau, mungkin aku akan berangkat bareng Tante Arini. Terus setelah menyapa mereka, aku juga menyapa Om Atmaja sama Tante Maria."


"Sikap mereka ke kamu gimana?"


"Biasa aja, sama kayak dulu. Malah Tante Maria tadi minta foto bareng aku, banyakk lagi fotonya."


"Mungkin mau di kasihkan ke Marfel, Nai."


"Entahlah, aku gak peduli."


"Kamu dah gak cinta sama Marfel, Nai?"


"Ada, tapi sedikit sudaht tak seperti dulu lagi. Yang menggebu-gebu.'


"Syukurlah."


"Tapi aku janji sama Tante Maria jika Minggu depan aku mau ke sana, mau main ke rumahnya."


"Iya sudah main aja ke sana, toh gak ada Marfel kan?"


"Iya, Bun. Tapi aku sebentar aja di sana, gak enak juga."


"Iyalah, ngapain juga lama-lama, kamu aja belum jadi mantunya," goda Bunda Ila membuat Naila malu sendiri.


Mereka pun mengobrol santai sampai adzan maghrib terdengar, barulah Bunda Ila pergi ke kamarnya untuk sholat. Naila yang lagi halangan pun tetap di sana, nonton tivi sambil makan astor, entah kenapa sekarang ia lebih suka astor ketimbang yang lain.