
Sejak Marfel memutuskan hubungannya, nomer Marfel tak lagi bisa di hubungi bahkan semua sosial medianya seakan menghilang begitu saja. Dan ketika Naila bertanya ke Pak Atmaja, Pak Atmaja hanya bilang jika Marfel pergi keluar negeri karena menempuh pendidikannya lagi di sana dan membuka cabang usaha di sana. Dan Pak Atmaja gak bilang negara mana Marfel berada.
Naila pun tak bisa memaksanya, ia hanya bisa pasrah. Ia tak bisa memaksa Pak Atmaja dan Ibu Maria untuk jujur padanya. Naila sadar, dirinya sudah salah dan mungkin Marfel butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya atau mungkin Marfel sengaja pergi untuk menjauhinya dan melupakan Naila begitu saja.
Naila merasa sedih, namun untungnya ia punya sahabat yang selalu memberikan support padanya sehingga Naila bisa melupakan sedikit kesedihannya. Terlebih ia harus fokus mengurus resto dan sekolahnya membuat Naila sedikit demi sedikit melupakan rasa sakit hatinya. Sang Bunda juga yang tau akan keretakan hubungan Naila dan Marfel hanya bisa memberikan nasihat dan semangat untuk menggapai impiannya. Dan masalah jodoh, jika memang Marfel adalah jodohnya, kelak pasti akan kembali lagi.
Akhirnya karena terlalu banyakk dukungan itu membuat Naila mulai fokus dan semangat lagi. Bahkan ketika kenaikan kelas, ia mendapatkan rangking satu karena nilanya yang sempurna bahkan tak ada salah satupun. Tak sia-sia Naila belajar hingga dini hari, agar bisa mengulang kembali semua pelajarannya. Bahkan Naila juga mencari soal di google untuk ia jawab, dan itu semua ia lakukan untuk melatih otaknya.
Sang Bunda pun merasa senang saat tau jika putrinya rangking satu dan mendapatkan nilai sempurna. Setelah selesai rapotan, sekolah libur selama dua Minggu. Dan Naila pun memanfaatkannya untuk pergi ke Bali selama seminggu untuk bertemu sang Bunda sekalian liburan. Sedangkan seminggunya lagi, ia harus ngurus resto yang di Jakarta dan menulis banyak cerita agar bisa menghasilkan banyak uang.
Kadang juga Naila memanfaatkan waktu itu untuk jalan-jalan bersama para sahabatnya, Rani, Rifa, Puput, Ayu, Firoh dan Rahma. Mereka mengunjungi semua wisata yang ada di kota itu. Bahkan tak jarang mereka harus menginap di penginapan jika hari sudah terlalu malam untuk pulang. Dan para orang tua pun tak mempermasalahkan selama mereka pergi tanpa ada laki-laki.
Mereka juga sudah tau kalau resto itu milik Bunda Ila, Mereka tu setelah Rani tak sengaja keceplosan di depan mereka. Dan Naila pun akhirnya mentraktir mereka semua. Tapi bagi Naila gak masalah, toh Naila gka mentraktir mereka setiap hari. Jadi its okay, Naila dan Bunda Ila gak mempermasalahkan itu semua.
Dan untuk liburan kali ini, Naila benar-benar sangat menikmatinya. Dari yang liburan di Bali, sampai liburan bareng teman-temannya itu. Naila sangat menikmati semuanya.
Dan untuk Alfa, dia sudah sembuh. Dan dia sudah tak lagi benci sama Rani, dia sudah mau berteman dengan Rani, tapi untuk menjalin hubungan Alfa, gak mau. Karena ia belum bisa mencintai Rani dan Alfa gak mau terjebak dalam hubungan tanpa ada cinta di dalamnya.
Rani pun tak mempermasalahkan, ia juga tak akan memaksa Alfa untuk membalas cintanya itu. Bagi Rani, Alfa mau berteman dengannya pun sudah jauh lebih dari pada dulu yang selalu menghindar darinya. Setiap kali Rani mengirim pesan, Alfa selalu menjawabnya dengan cepat. Bahkan sesekalli mereka sering telfonan atau vidio call.
Sedangkan untuk Stefan, kini ia sudah lulus dan memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Ia melanjutkakn kuliahnya di sana. Ia sudah berangkat setelah selesai ujian. Dan masalah surat-suratnya, di kirim belakangan oleh orang tuanya. Karena mereka semua yang mengurus berkas Stefan.
Sebelum pergi, Stefan memberikan hadiah untuk Naila sebuah boneka dan gelang. Namun Naila menolaknya akhirnya Stefan pun memberikan itu kepada Rifa. Rifa justru merasa senang sekaligus sedih karena itu pertemuan terakhir mereka.
Mereka pun tentu mau, terutama Rani. Dan jika mereka menginap, maka Naila pulang dari resto jam enam sore, kadang paling lambat jam delapan karena Naila gak mau mengecewakan mereka.
Naila pernah bertemu Ibu Maria saat di supermarket, dan mereka menyapa biasa aja, seakan-akan tak terjadi apa-apa. Hanya saja, Ibu Maria tak seantusia dulu, dan Naila memaklumi itu karena dirinya sudah menyakiti putranya, tentu saja sebagai seorang Ibu, pasti ada rasa kesal dan marah. Jadi Naila memakluminya jika Ibu Maria tak seantusias seperti dulu saat bertemu dengannya. Tapi Ibu Maria tetap baik dan menyapa dengan ramah.
Sedangkan Pak Atmaja, Naila jarang bertemu walaupun satu sekolah, karena memang jarang bisa bertemu dengan kepala sekolah, kalau tidak kebetulan.
Dan dua minggu pun berlalu begitu saja. Padahal mereka belum puas liburan, namun mereka sudah harus masuk sekolah dan menuntut ilmu. Naila pun sangat antusias sekali apalagi kini ia sudah kelas tiga. Dan untuk kelas tiga pun tak sampai setahun, jadi ia harus bekerja keras agar bisa mendapatkan rangking satu lagi dengan nilai sempurna. Ia ingin membuat sang Bunda bangga dengan prestasinya itu.
"Mas Marfel, di manapun kamu berada. Semoga Tuhan selalu melindungimu. Aku kangen, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menyebutmu dalam doa." gumam Naila dalam hati.
Walaupun Naila sudah bahagia, tanpa kehadirannya. Namun, ada kalanya Naila merasa rindu terhadap Marfel. Dan ketika ia rindu, ia hanya mencurahkan semuanya sama Tuhan Sang Maha Pencipta.. Yah, itulah yang Naila lakukan selama ini. Karena hanya dengan berdoa, ia bisa merasakan ketenangan dan tak lagi merasa galau.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Naila masih berharap jika suatu saat Marfel akan kembali dan mereka bisa bersama.
Sedangkan di tempat yang beda, Marfel tengah fokus menempuh pendidikannya dan membuka cabang di sana. Ia belajar dan bekerja keras siang malam. Karena jika ia bersantia sebentar saja, maka ia akan mengingat Naila lagi dan lagi.
Bahkan Marfel hanya tidur dua sampai tiga jam saja, hingga membuat berat badannya turun drastis. Ada rasa penyesalan karena ia telah mengambil tindakan yang buru-buru. Memutuskan Naila begitu saja, tanpa memberikan Naila kesempatan untuk menjelaskan.
Ingin rasanya Marfel minta maaf, namun rasa ego yang cukup tinggi, membuat Marfel tak ingin lagi ada hubungan di antara mereka. Apalagi ketika ia tau, jika Naila ternyata lebih bahagia tanpannya. Ia melihat foto Naila saat liburan di Bali bersama Bundannya dan foto Naila saat bersama teman-temannya pergi wisaa.
Naila emang sering upload fotonya di IG, namun akunnya di privat, untungnya Marfel membuat akun baru dan Naila menerimanya, sehingga Marfel bisa memantau keadaan Naila di saat ia merasa lelah dan tak lagi bisa menahan rasa rindu yang menyiksa dirinya.