
Seharian itu, Naila menghabiskan waktu bersama sang Bunda. Dan sore hari, Naila mengajak sang Bunda untuk pergi ke resto utama dan resto cabang. Di resto itu, semua karyawan merasa senang dengan kedatangan Bunda Ila. Mereka gak menyangka akan bertemu Bunda Ila secepat ini. Bunda Ila pun merasa senang dengan semua karyawannya itu yang sudah ia anggap sebagai putra dan putrinya sendiri.
Bunda Ila menyapa mereka semua dan juga mengecek kerja karyawannya, tak lupa ia juga mengecek bagian keuangan dan juga semua kebersihan resto serta kecakapan mereka dalam bekerja, kedipsilan dan bagaimana melayani pelanggan. Bunda Ila juga masuk ke dapur dan menanyakan jika ada keluhan atau apapun, sayangnya tidak ada dan itu membuat Bunda Ila merasa senang sekali.
Bunda Ila pun juga berjanji akan memberikan bonus besar buat akhir bulan nanti, mengingat keuntungan resto berkali-kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya. Tentu mereka senang, Naila pun ikut senang melihat raut wajah mereka yang di penuhi kegembiraan.
Setelah puas pergi ke resto utama dan resto cabang, Naila mengajak Bunda Ila untuk jalan-jalan sebentar, karena mereka jarang bahkan hampir gak pernah menghabiskan waktu berdua untuk bersenang-senang karena selama ini Bunda Ila sangatlah sibuk dan Naila pun berusaha untuk mengerti akan hal itu.
"Sudah berapa tahun ya, Nai. Kita gak jalan-jalan seperti ini?" tanya Bunda Ila.
"Sudah lama banget, Bun. Sejak Bunda mulai buka usaha sampai sekarang," jawab Naila terkekeh, namun Bunda Ila merasa sedih karena selama ini sudah mengabaikan putrinya dan jarang menemani putrinya mengobrol apalagi jalan-jalan.
"Maafin Bunda ya, Nai," ujar Bunda Ila dengan wajah sedihnya.
"Kenapa harus minta maaf, Bun. Aku gak papa kok, aku malah senang karena aku bisa melihat Bunda bisa seperti sekarang. Aku tau, gak mudah buat Bunda berada di posisi sekarang. Dan aku salut, gak semua orang bisa seperti Bunda. Yang mau bangkit dan berjuang buat masa depan kita," balas Naila sambil menatap ke arah sang Bunda.
"Sekarang kamu sudah dewasa, putri Bunda yang dulu kecil dan suka merengek, kini sudah dewasa dan akan segera menikah. Jujur kadang Bunda gak menyangka, jika waktu begitu cepat berlalu. Bunda merasa sudah kehilangan banyak moment buat kamu. Bunda terlalu sibuk, sampai Bunda lupa untuk memberikan perhatian buat kamu, untuk menciptakan banyak kenangan untuk kita berdua. Kamu pasti kesepian kan selama ini," ucap sang Bunda menitikkan air mata.
"Bunda, beneran deh. Aku itu gak merasa kesepian, dan aku juga gak merasa haus akan kasih sayang dan perhatian. Aku sudah merasa cukup dengan semua yang Bunda beri. Andai Bunda gak berjuang sampai seperti ini, mungkin hidup kita gak akan seperti ini, Bun. Dan mungkin aku gak akan bisa merasakan sekolah SMA, punya teman banyak. Aku mungkin gak akan merasakan bagaimana makan yang enak, tinggal di rumah yang bagus, punya sepeda motor, bisa jajan semau aku, bisa beli apapun yang aku mau. Aku bisa seperti sekarang itu berkat Bunda. Aku bisa beli baju bagus, bisa beli apapun yang aku mau. Memang ada yang harus di korbankan yaitu waktu aku sama Bunda, tapi mungkin ini lebih baik dari pada kita terus bersama, tapi dalam kekurangan hingga menjadi ejekan orang-orang. Kita akan terus dihina dan akan hidup dalam kelaparan dan hutang sana-sini. Untuk itu, aku gak patut untuk mengeluh, karena apa yang Allah kasih ke aku itu sudah banyak banget, Bun." Naila berusaha untuk bisa membuat sang Bunda tak lagi merasa bersalah terhadap dirinya. Ia gak ingin menjadi beban untuk sang Bunda.
"Sudah, jangan mellow di sini, gak enak di lihatin orang. Lebih baik kita manfaatkan waktu Bunda selama di sini, buat bersenang-senang." Naila mencoba untuk mengalihkan perhatian sang Bunda. Karena gak mungkin mereka menangis di tempat umum seperti ini.
"Baiklah, dan belilah apapun yang kamu mau, Nai. Bunda akan bayar semuanya," ujar Bunda Ila, ia menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum dan menikmati kebersamaan mereka saat ini tanpa ada drama nangis atau apapun.
"Nah gitu dong, baiklah, aku akan membeli apa pun yang aku mau hari ini." Walaupun sebenarnya, Naila bukan type orang yang suka boros, tapi demi menyenangkan sang Bunda, ia rela untuk membeli baju atau apapun yang menarik hatinya. Karena hanya dengan ini, sang Bunda tak akan lagi merasa bersalah.
Naila dan Bunda Ila pun membelli baju couople, baju gamis yang warna dan model sama, begitupun dengan hijabnya. Mereka juga membeli tas dan sandal serta kaos kaki yang sama.
"Kapan-kapan kita pakai ya, Bun. Kalau mau keluar lagi, biar romantis," ucap Naila.
"Iya, Nai. Bunda jadi gak sabar pengen nyoba ini."
"Tapi di cuci dulu, Bun. INi kan pasti kotor karena di pajang, dan juga pasti gak enak kalau langsugn di pakai."
"Tentu dong, harus di cuci dulu. Bunda juga ogah kalau langsung di pakai."
"Oh ya, kamu sudah selesai belanjanya belum, kalau sudah kita ke resto di lantai empat yuk. Makan di sana," ajak Bunda ila yang sudah merasa lapar. Ini sudah jam delapan malam, dan sudah waktunya makan malam."
"Ayo, Bun. Aku juga lapar nih," ujar Naila yang juga sudah lelah kesana kemari untuk beli baju dan yang lainnya.
Akhirnya mereka pun pergi ke lantai empat dan memesan makanan di sana. Saat Naila dan Bunda tengah menunggu makanan, tiba-tiba seseorang memanggil nama Naila.
"Nai, ya Tuhan, gak nyangka ketemu kamu di sini," ujar Rani.
"Kamu sama siapa, Ran?" tanya Naila yang juga kaget, gak nyangka bisa ketemu Rani di Mall ini.
"Aku sama keponakan aku, tuh lagi di sana," ujar Rani sambil menunjuk anak kecil yang tengah makan es krim.
"Oh, aku fikir sama pacar kamu."
"Mana ada, aku punya pacar. Kamu kenapa tadi gak masuk sekolah?" tanya Rani menatap sahabatnya itu.
"Bundaku datang."
"Perkenalkan saya Bundanya Naila," ujar Bunda Ila yang memang belum pernah ketemu Rani. Hanya saja, Naila pernah beberapa kali bercerita tentang teman-temannya ke Sang Bunda.
"Salam kenal, Tante. Alhamdulillah akhirnya bisa ketemu Tante juga," ucap Rani sambil mencium tangan Bunda Ila.
"Kamu Rani yang sering di ceritakan kamu itu, Nai?" tanya Bunda Ila.
"Iya, Bun. Ini Rani sahabat aku, teman dekat aku," jawab Naila.
"Wah, Tante titip Naila ya, Ran, kalau dia nakal, bilang sama Tante," canda Bunda Ila.
"Naila mana pernah nakal, Tan. Dia mah baik banget, ramah juga. Nilainya selalu bagus," ujar Rani tertawa.
"Syukurlah, Tante seneng dengernya kalau gitu. Kamu gak duduk aja sini, kita kumpul-kumpul, mumpung ketemu."
"Aduh, gak bisa Tan. Kalau malam ini, hehe. Soalnya keponakan saya harus pulang sebelum jam sembilan. Ini juga sebenarnya sudah mau pulang, terus karena ngelihat seperti Naila, makanya tak samperin."
"Oh gitu, naik apa ke sini?"
"Naik sepeda motor, Tan."
"Hati-hati loh di jalan, apalagi ini sudah malam."
"Iya, Tan. Makanya ini juga mau pulang, takutnya kalau kemalaman, kenapa-napa di jalan. Kalau gitu, Rani pulang dulu ya, Tan, Nai." pamit Rani.
"Iya, hati-hati ya, Ran."
"Iya, Assalamualaikum."
"Waalikumsalam." Entah kenapa Rani malah mengucap salam, padahal tadi aja, dia lupa ucap salam. Setelah menyapa Naila sebentar, Rani pun menghampiri keponakannya yang juga sudah menghabiskan es krimnya itu. Mereka langsung pulang agar tidak kemalaman di jalan, walaupun sebenarnya ini emang sudah malam sih, tapi paling gak, kalau masih jam segini, di jalan cukup ramai, beda kalau sudah di atas jam sembilan, sudah mulai sepi.
Setelah kepergian Rani, makanan pun datang dan sudah tersaji di atas meja.
"Temen kamu baik kayaknya, Nai," ujar sang Bunda sambil menikmati makanannya.
"Temen-temen aku emang pada baik semua, Bun. Bahkan kayak saudara," ujar sang Naila yang juga tengah menikmati makanannya itu.
"Kalau gitu, sesekali bawa ke resto kita dan traktir di sana."
"Sebenarnya belum ada yang tau kalau aku itu anak pemilik resto kita. Hehe. Aku sengaja menyembunyikannya, hanya Rani yang tau. Kalau yang lain, taunya aku di sana itu cuma karyawan biasa Bun. Mereka kan pernah makan di resto kita dan ketemu aku. Terus pas mau aku traktir, mereka menolak alasannya ya karena mengira aku kerja di resto milik Bunda," ucap Naila terkekeh kalau ingat kejadian beberapa Minggu yang lalu.
"Wah, seharusnya kamu kasih tau, Nai."
"Enggak, Bun. Enggak enak rasanya, biarlah mereka mikir aku ini karyawan di sana."
"Iya sudah terserah kamu, enaknya gimana."
Mereka pun makan sambil mengobrol, selesai makan. Bunda Ila langsung membayar tagihan makanan dan minumannya itu, dan setelah itu mereka pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam, lagian Mall juga akan segera di tutup.
Hari ini, mereka sangat puas sekali jalan-jalan. Mungkin, jika Bunda tidak ada janji samsa Marfel, sang calon menantu, sudah tadi sore dia berangkat ke Bali. Namun mungkin ini jalan dari Allah, sehingga Bunda Ila masih tetap ada di sini dan bisa menemani putrinya itu jalan-jalan bersama, menghabiskan waktu berdua untuk belanja dan makan malam di luar.