
Naila berusaha untuk tersenyum dan mengobrol dengan teman-temannya, walaupun hatinya deg-degan, namun ia percaya, Marfel tak akan mengingkari janjinya. Saat acara di mulai, mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun dengan sangat meriah, mereka begitu semangat hingga ruangan itu tampak rame. Orang tua Rifa dan keluarganya pun ikut senang dengan antusias teman-temannya, terutama teman-teman yang Stefan bawa, mereka tanpa malu juga ikut menyanyikan lagu ulang tahun. Stefan juga ikut nyanyi namun tak seantusias yang lain. Sedangkan Naila dengan raut wajah gelisahnya, ikut menyanyi dan tersenyum, namun rasa gelisahnya masih bisa di tangkap oleh Stefan. Karena Stefan sesekali melihat ke arah Naila yang dari tadi sesekali mengecek hpnya.
Setelah selesai menyanyikan lagu dan tiup lilin. Kini Rifa tengah memotong kue, kue pertama untuk Ibunya, kue kedua untuk Ayahnya, kue ketika untuk saudaranya, lalu lanjut Stefan. Saat memberi kue ke Stefan, anak-anak yang lain bersorak membuat Rifa malu dan grogi.
Stefan sendiri seperti enggan untuk menerima, tapi karena ini ulang tahun Rifa dan gak mau bikin Rifa malu, Stefan pun menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Teman-teman Refan pun menggoda Refan, tapi entah kenapa Refan biasa aja, walaupun terlihat tersenyum, namun seperti dipaksa. Tidak terlihat tulus. Lalu kue selanjutnya untuk keluarga yang ada di sana dan teman-temanya pun ikut di kasih kue. Hingga kue itu menyikakan seperempatnya.
Orang tuanya mendoakan Rifa agar Rifa bisa menggapai cita-cita dan impiannya yang di aminiin sama orang-orang yang ada di sana.
Di saat Naila dan yang lain tengah makan kue, Hp Naila bergetar. Lalu diam-diam, Naila berjalan pelan membelakangi mereka, lalu setelah itu berjalan ke luar rumah. Di sana ia melihat seseorang pakai mobil hitam.
Naila pun menghampirinya.
"Dengan Mbak Naila?" tanya orang itu.
"Iya, saya sendiri. Mas yang disuruh Mas Marfel ya?" tanya Naila.
"Iya, Mbak benar. INi kadonya." Orang itu memberikan kado besar, membuat Naila melotot kaget.
"Astaga, ini isinya apaan, Mas?" tanyanya.
"Kurang tau, Mbak. Saya cuma disuruh nganterin aja," jawabnya.
"Oh ya sudah, Mas. Makasih ya."
"Iya, Mbak. Saya pamit dulu." Dan setelah itu Mas itu pun pergi. Setelah mobilnya tak terlihat, Naila masuk ke dalam. Melihat Naila membawa kado besar, membuat teman-temannya tercengang.
"Astaga, kado kamu besar banget, Nai," ucap teman-temannya kaget. Naila pun hanya tersenyum melihatnya. Ia berjalan ke arah Rifa dan menyerahkan kado besar nan berat itu.
"Makasih ya, Nai. Tapi seharusnya kamu gak ngasih kado segede gini, aku jadi penasarn isinya apa, karena kadonya lebih tinggi dari aku," ujar Rifa.
"Buka, Rif. Aku juga penasaran," ucap Puput.
"Iya, Rif. Ngasih apa si Nai, sampai segede itu kadonya," ujar Ayu.
Mendengar permintaan teman-teman, Rifa pun melihat ke arah Naila dan meminta persetujuannya. Naila pun menganggukkan kepala, karena ia sebenarnya juga penasaran, apa isinya.
Karena sudah mendapatkan persetujuan, Rifa pun mengambil gunting dan membuka pita berwarna pink itu. Lalu setelahnya ia membuka bungkusan berwarna pink. Lalu masih ada kardusnya di dalam. Dan setelah kardusnya di buka, ternyata isinya boneka setinggi dua meter. Dan ada coklat juga berbentuk love.
"Iya harganya bahkan di atas lima juta loh," ujap Puput.
Naila yang tau harganya pun sedikit sok, namun ia berusaha untuk tak memperlihatkannya.
"Makasih ya, Nai. Seharusnya kadonya yang biasa aja," ucap Rifa, ia juga tak menyangka jika Naila akan memberikan kado istimewa.
"Kamu kan ulang tahunnya, cuma setahun sekali, ya gak papa. Kecuali kamu ulang tahun tiap hari, aku gak mungkin memberikan kado kek gitu, lagian kan ini hari spesial buat kamu, jadi aku ingin memberikan yang spesial juga," ujar Naila membuat Rifa terharu. Ia menaruh boneka itu dan memeluk Naila.
"Nanti kalau aku ulang tahun, aku kasih yang lebih dari itu ya, Nai. Ulang tahunkku bulan depan loh," ujar Rani yang merasa sedikit iri dan cemburu karena dulu saat ia ulang tahun, Naila hanya memberikan buku deary sama pulpen dan boneka kecil yang harganya pun mungkin cuma dua ratus ribu.
"Okay, siap," ucap Naila seakan tanpa beban
"Yeey, makasih ya. Kamu dah janji loh," ujar Rani senang. Sedangkan yang lain hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Sedangkan kado yang lain, akan di buka nanti aja setelah mereka pada pulang. Punya Naila aja dibuka karena yang lain penasaran akan isinya.
Setelah itu, mereka pun bersenang-senang. Mencicipi makanan dan minuman yang disediakan di sana. Apalagi sambil ngobrol dan nyemil gitu, kadang sampai lupa waktu.
Bahkan kalau Naila gak ditelfon sama Marfel, mungkin ia masih ayik mengobroll dengan yang lain.
Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima menit, Naila pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan pamitan sama mereka semua.
"Kok sudah mau pulang sih, Nai. Kamu itu datangnya belakangan, eh pulannya duluan," ujar Rahma.
"Maaf, ya. Soalnya aku masih ada urusan setelah ini," ucap Naila meminta maaf.
"Iya sudah, gak papa. Kamu hati-hati ya, Nai," ujar Rifa yang tak ingin menahan Naila lama-lama di rumahnya.
Naila pamitan ke teman-temannya, ke keluarga Rifa dan ke Stefan dan teman-temannya. Terakhir ke Rifa sambil mengucapkan selamat sekali lagi. Setelah itu, Naila segera pergi dari sana. Dengan langkah terburu-buru. Ia memasang helm dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Tak lama setelah Naila pulang, stefan dan teman-temannya pun ikut pamit pulang. Sebelumnya kado mereka sudah mereka kasih saat baru datang. Jadi tak perlu ngasih kado lagi.
Stefan dan teman-temannya berpencar di pertinggaan tak jauh dari rumah Rifa, karena memang arag menuju rumah mereka beda-beda jadi memang harus berpencar.
Setelah kepulangan Stefan, teman-teman yang lain pun ikut menyusul pulang karena hari emang sudah malam.