
"Assalamu'alikum Nai."
Itulah pesan yang aku baca dari Kak Fahmi saat aku membuka Hp.
"Waalaikumsalam kak." Balasku.
"Lagi apa dek?"
"Ini lagi ada di kantin sama temen."
"Emang udah istirahat?"
"Iya kak, udah tadi sekitar 10 menit yang lalu."
"Oh....sama siapa aja dek di kantin?"
"Ini sama teman temen."
"Cowok apa cewek?"
"Cewek ka."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau cewek."
"Hehe iya. Emang kenapa kak?"
"Gak papa, cuma nanya aja sih."
"Oh. Kakak udah makan belum?"
"Belum dek."
"Kog belum, ini sudah jam berapa? Makan sana biar gak sakit."
"Males dek, lidah kakak rasanya pahit. Terus kalau di paksa makan malah muntah."
"Hemm emang kakak lagi sakit tah?"
"Enggak, cuma gak enak badan saja. Nanti juga sembuh."
"Oh pantes kak, tadi pagi pas kakak ke rumahku. Wajah kakak pucat. Lain kali kalau kakak sakit gak usah ke rumah ya kak. Lebih baik istirahat aja."
"Iya dek. Maaf kakak cuma hawatir aja sama kamu"
"Iya. Kalau boleh nanti pulang sekolah, aku ke rumah kakak ya sekalian mengembalikan sepeda motornya."
"Gak usah dek, kamu pakai aja sepeda motornya."
"Tapi kak, itu kan sepeda motor kakak. Gak enak kalau minjemnya kelamaan."
"Gak papa santai aja."
"Terus kalau kakak mau kemana mana naik apa dong?"
"Kakak bisa pinjem punya temen. Kebetulan temen kakak punya dua sepeda motor dan satunya gak pernah kepakek. Jadi bisa di pinjem kakak."
"Maaf ya kak, merepotkan."
"Iya gak papa santai aja."
"Ya udah kakak, istirahat aja ya. Semoga cepet sembuh."
"Aamiin. Kamu jaga diri baik baik di sana."
"Iya ka. Assalamu'alaikum."
Setelah membalas pesan Kak Fahmi, aku pun menaruh Hp ku di saku baju.
"Siapa sih Nai, sampai serius banget chatan?" tanya Rani yang ada duduk di samping Naila.
"Itu Kak Fahmi."
"Fahmi mana?"
"Kak Fahmi yang nolongin aku itu lho pas pulang dari resto, saat aku kehujanan. Yang minjemin aku mantel sama jaketnya."
"Oh dia, ngapain dia chat kamu?"
"Gak ada cuma nanya aku lagi apa." jawab Naila tersenyum.
"Oh ya kemarin aku di beliin boneka sama Kak Fahmi," ujar Naila saat ia keingat dengan boneka yang di beliin Fahmi.
"So sweet banget sih sampai di beliin boneka segala." Ujar Rani.
"Sebenarnya aku di beliin boneka biar aku dan dia gak bersentuhan."
"Maksudnya gimana sih Nai?"
"Gini lho, dia kan jemput aku pakai sepeda motor. Nah otomatis kalau goncengan pasti ada sentuhan kan, jadi dia beliin aku boneka untuk di taruh di tengah sebagai pembatas agar tak ada sentuhan apapun. Jadi aku bisa megangin boneka sepanjang jalan. Jadi walau aku di gonceng dia, sedikitpun aku gak bersentuhan dengannya. Tapi sayang, bonekanya sempet basah karena kena hujan. Tapi tadi pagi boneka sekaligus jaketnya udah aku cuci sih tapi belum kering. Semoga aja nanti sore udah kering."
"Emang di jemur di mana?"
"Di samping rumah."
"Lho terus kalau hujan kan bisa basah lagi kalau di jemur di samping rumah Nai?"
"Gaklah, kan atasnya ada atapnya gitu jadi kalau hujan gak mungkin kena. Tapi jujur saat ini, aku khawatir sama dia, soalnya tadi pagi pas di ke rumah aku, wajahnya tuh pucat banget lho."
"Mungkin dia sakit Nai."
"Iya aku fikir begitu dan tadi pas dia chat aku, dia bilang kalau lagi gak enak badan."
"Terus kamu gak ada niatan mau jenguk dia?"
"Aku sih mau tapi dianya yang gak mau."
"Mungkin dia gengsi Nai dan dia gak mau kamu melihat dia dalam keadaan sakit."
"Iya mungkin." Ucap Naila.
"Oh ya yang lain mana?" tanya Naila melihat semua temannya sudah gak ada.
"Mereka udah pergi Nai, kamu sih dari tadi serius banget chatan sama Kak Fahmi sampai gak sadar kalau teman temanmu sudah selesai makan dan udah balek ke kelas duluan."
"Terus kamu kenapa gak balek ke kelas juga?" tanya Naila.
"Nungguin kamu lah."
"Cie cie....so sweet banget sih."
"Iya dong. Makanya cepetan habisin makanannya terus balek ke kelas. Ntar lagi bell lho."
"Iya iya.
Naila pun segera menghabiskan makanan dan minumannya. Setelah selesai, ia segera membayarnya lalu pergi ke kelas bareng Rina.