
Ibu Maria mendekati putranya yang tengah meringkukkan badan di dekat kasur, ia sudah seperti anak yang kehilangan orang tua. Ibu Maria mengusap rambutnya dengan pelan, Marfel mendongak dan melihat Ibu Maria yang tersenyum padanya, seakan memberikan kekuatan.
"Kenapa?" tanya Ibu Maria. Ditanya seperti itu, membuat Marfel semakin lemah. Ia pun memeluk sang Mama yang duduk di pinggir kasur. Ia memeluk perut mamanya dan menaruh kepalanya di paha mamanya.
"Aku jahat ya, Ma. Aku brengsek ya?" tanyanya.
"Enggak, kok. Kata siapa brengsek?" tanya Ibu Maria yang terus menerus mengelus rambut Marfel.
"Buktinya aku selalu bikin Hati Nay, sakit. Aku selalu bikin dia sedih. Aku bahkan membentak dia," jawabnya menangis. Ia sudah seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
"Dia bilang aku seperti anak kecil, dia bilang aku gak pantas untuknya." Lalu Marfel pun menceritakan semuanya, apa yang di omongin oleh Naila tadi. Mendengar hal itu membuat Ibu Maria hanya menghela nafas.
"Kamu memang salah, Nak. Wajah jika Naila marah dan ngomong seperti it. Dulu kamu meninggalkannya begitu saja, lalu saat ini kamu nuduh dia selingkuh, bahkan kamu membentaknya. Emang kamu siapanya dia sampai membentak Naila seperti itu? Ayahnya bahkan sampai akhir hayatnya tak pernah membentak Naila, apalagi ngomong dengan kata-kata kasar. Bundannya pun juga tak pernah memarahi Naila, apapun kesalahannya, Mama yakin. Naila belum pernah merasakan bentakan itu dari orang tuanya. Bahkan Bundannya rela kerja siang malam untuk membahagiakan Naila, mencurahkan segala kasih sayangnya, karena Naila adalah berliannya, buah hatinya, permata hatinya. Dan kamu yang bukan siapa-siapanya, tiba-tiba membentak Naila, emang kamu sudah menyumbang apa dalam kehidupannya sampai berani membentak Naila. Jika Mama ada di posisi Naila, pun akan melakukan hal yang sama. Pantas jika dia meninggalkan kamu dan memilih orang lain, wanita mana yang mau bertahan dengan laki-laki yang tak bisa menghargai dirinya, menghormati dia." ucanya menasehati Marfel.
"Bagaimanapun Naila dari kecil di didik dengan penuh cinta dan kasih sayang, bukan dengan didikan kasar seperti yang kamu lakukan. Apa jadinya jika Naila bersuamikan kamu, akan jadi apa hidupnya, jika selalu mendapatkan bentakan dan sifat kasar dari kamu? Hem? Belum jadi suami, kamu sudah seperti ini. Pasti akan ada ketakutan dalam dirinya jika ia sampai menikah sama kamu. Sikap kamu yang seperti anak kecil, ada masalah, memilih putus gitu aja. Nanti misal kamu sudah nikah, kamu pasti akan mudah mengucapkan kata talak pada Naila. Belum lagi sifat kamu yang milih sembunyi-sembunyi, lari dari masalah sudah seperti laki-laki pengecut. Masa kalah sama Naila yang berani, padahal dia cewek. Naila pasti butuh sosok yang bisa membimbingnya, mendidikanya, dan melihat kamu seperti ini, tentu kamu tidak lagi masuk kriteria Naila lagi. Naila juga melihat kemarahan kamu yang suka menghancurkan barang, sedangkan Naila itu pekerja keras sangat menghargai uang, sangat menghargai barang. Pasti Naila akan berfikir ribuan kali jika ingin menikah denganmu, apa jadinya jika kamu sudah sah jadi suaminya, dikit-dikit merusak barang. Melempar barang seperti anak kecil. Naila itu cantik, Nak. Dia mandiri, walaupun umurnya masih muda, tapi fikirannya sangat dewasa. Tak mudah emosi, paling pandai mengatur amarahnya. Seharusnya kamu malu dong, apalagi sampai laki-laki. Jika Naila sudah bicara seperti tadi, pasti dia sudah muak sama sikap kamu yang seperti ini. Dan kesempatan kamu untuk dia pastinya akan semakin kecil," imbuhnya lagi yang membuat Marfel semakin sedih, ia terus terisak dan menyesali apa yang sudah terjadi. Tak seharusnya ia melakukan hal itu. Ia malu karena tak bisa mengatur emosi. Ia malu karena sudah marah-marah seperti anak kecil.
"Dan tadi kamu itu salah faham. Naila sudah menceritakan sama Mama. Dia itu mau ke sini karena Mama yang minta, tapi karena dia malas menyetir, dia memesan grab yang ternyata sopirnya itu adalah kakak dari temannya di kampus. Mama juga kenal kok, karena Adrian itu anak teman mama. Naila juga sudah menceritakan itu dulu. Dan di dalam mobil, Adrian emang sempat ingin melamar Naila, dan jika Naila mau. Ia akan melamar nanti malam secara resmi. Tapi sayangnya, Naila menolaknya dengan halus. Karena selain ia tidak menyukai Adrian, ia juga belum siap dilamar. Tapi mungkin karena lihat kamu yang tiba-tiba ada di depan mata, jadi dia gugup, dan reflek menganggukkan kepala saat kamu bertanya. Lagi-lagi kamu salah faham, Nak. Dulu masalah Naila yang menjenguk Alfa, sekarang kamu juga lagi-lagi salah faham karena hal sepele. Apakah tak bisa jika di selesaikan dengan kepala dingin. Tak bisakah jika kamu bicara baik-baik padanya. Ngomong yang halus seperti Naila, tanpa menggunakan suara tinggi, apalagi membentaknya. Ingat, Nak. Naila itu paling benci di bentak. Bukan hanya Naila sih, semua wanita juga paling benci di bentak. Bahkan Mama tak akan segan-segan pergi dari sini, jika Papa sampai ngomong dengan nada tinggi di hadapan Mama, apalagi sampai bentak. Mungkin Mama gak akan berfikir dua kali untuk meninggalkannya. Karena bagi Mama, sekali di bentak, mungkin hanya beberapa detik, tapi efeknya sangat luar biasa," ucap Ibu Maria, ia harus bisa menasehati putranya dengan lembut agar bisa memperbaiki sikapnya ke depannya dan tak lagi melakukan hal seperti ini. Bagaimanapun harus ada seseorang yang menyadarkan kesalahannya itu agar ke depannya tak terulang kembali.
"Terus aku harus gimana, Ma?" tanya Marfel sambil menatap ke wajah Mamanya.
"Aku yang terbaik buat Naila, Ma. Aku. Tidak ada yang boleh menikahinya selain aku. Nai hanya milikku."
"Jangan egois, Sayang. Nai itu berhak memilih dan kamu tidak boleh memaksa kehendakknya. Kamu harus bisa lapang dada, jika memang dia tak memilih kamu sebagai pendampingnya nanti."
"Enggak mau, pokoknya Nai itu milikku, Ma."
"Inilah yang Nai gak suka darimu, Nak. Kamu terlalu egois, suka memaksakan kehendak dan tak mau memikirkan perasaan orang lain, kamua hanya memikirkan perasaan kamu sendiri, dan tak peduli orang lain terluka karena sikap kamu."
"Tapi aku sangat mencintai Naila, Ma. Aku gak mau dia jadi istri orang lain. Naila hanya milikku."
"Kalau Naila emang milikmu, kenapa kamu meninggalkannya hem? Kenapa kamu mutusin dia? Sekarang setelah ada yang melamarnya, kamu seperti cacing kepanasan seperti ini?" tanya Ibu Maria yang mulai jengah juga dengan sikap putranya itu.
"Aku mutusin karena dulu aku terlalu kesal, karena Nai lebih memilih Alfa dari aku. Aku kesal karena Nai bohong sama aku, aku kesel karena bukan aku yang jadi perioritas dia. Dan lagi aku ingin Naila fokus sama sekolahnya, aku ingin dia menjadi lulusan terbaik. Aku juga gak bisa terlalu dekat dengannya, karena setiap ada di dekat Naila, aku seperti merasa ada tegangan tinggi. Aku takut akan merusak Naila jika aku terus ada di dekatnya, Ma. Aku sangat mencintainya, aku tak ingin merusak wanita yang aku cintai, itulah kenapa aku memilih untuk pergi. Lagian aku juga ingin memperbaiki diri aku agar semakin layak untuk bersanding dengan Naila. Karena bagi aku Naila terlalu sempurna, aku akan malu jika kau tak bisa mengimbanginya," jawaab Marfel membuat Ibu Maria hanya geleng-geleng kepala.
"Mama pusing, Nak. Mikirin kisah percintaan kamu. Karena kamu sendiri yang bikin permasalah ini jadi rumit. Mama sudah pasrah, bahkan jika bukan Naila yang akan jadi menantu Mama. Mama juga tak akan memaksakan diri lagi, karena memang nyatanya Naila terlalu sempurna buat kamu yang masih suka memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Masih suka cemburuan, suka terbakar amarah dan tak bisa mengendalikan diri sendiri. Mama pergi dulu, kamu renungi aja apa yang sudah Mama dan Naila ucapkan. Jika kamu sudah menyadari kesalahan kamu, mandilah dan temui Naila. Lalu minta maaf padanya, Mama harap dia masih mau memaafkan kamu," ucap Ibu Maria dan pergi dari sana meninggalkan Marfel agar bisa merengungi masalahnya.
Ibu Maria gak akan membela putranya jika memang Marfellah yang bermasalah di sini. Ia bahkan ikut malu kepada Naila, karena tak bisa mendidik putranya menjadi laki-laki yang baik, sholeh, sabar dan tak menyakiti wanita.