
Sepulang sekolah, Naila pergi ke rumah sakit naik sepeda motor sendirian. Tak lupa ia membeli beberapa buah seperti buar pir, anggur, jeruk, apel, alpukat, pisang, kiwi dan melon madu. Dan juga ada bua kue bolu bundar yang cukup besar dengan rasa melon dan nangka. Melihat kedatangan Naila yang membawa dua kantong kresek besar dan juga satu dua kotak kue, membuat Antoni, Arini, Alfira dan Adrian kaget.
"Nai, kamu mau kemana?" tanya Arini sambil menatap dua tangan Naila yang penuh dengan kantong kresek dan juga kue.
"Mas, boleh minta tolong," pinta Naila tnapa menjawab pertanyaan Arini. Adrian langsung membantu Arini menaruh buah-buah itu di atas meja. Arini juga ikut bantu Naila menaruh kue itu.
"Huefft capek banget, ternyata," ujar Naila sambil merenggangkan kedua tangannya yang terasa kebas karena ia harus bawa dari parkiran ke sini, bahkan ia sampai berhenti beberapa kali di lantai satu dan dua karena sangking capeknya.
"Kamu mau jualan buah, Nai?" tanya Arini melihat banyak buah yang di bawa oleh Naila.
Mendengar kata jual, membuat Naila melotot kaget. Ya kali dia mau jualan buah di rumah sakit.
"Aku gak jualan kok, Tante," jawab Naila tersenyum.
"Terus ngapain bawa buah banyak gitu, Nai?" tanya Antoni yang juga merasa heran.
"Kan aku jenguk orang sakit, Om. Harus bawa oleh-oleh, kan? Kemaren aku gak bawa, jadi anggap aja ini oleh-oleh kemaren sama sekarang. Jadi double." Mendengar kata Naila, mereka hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu, Nai. Ada-ada aja. Padahal kamu datang aja, Tante udah seneng banget loh, gak perlu bawa sebanyak ini," ujar Arini. Dirinya aja misal jenguk orang sakit, cukup bawa dua macam buah, tidak banyak seperti ini.
"Hehe, gak papa, Tante. Ini bisa di makan bareng-bareng nanti," tutur Naila menggaruk hijabnya, padahal kepalanya tidak gatal.
"Ya sudah gak papa, Om, Tante. Nanti Adrian bantu makan," ucap Adrian yang merasa lucu dengan tingkah laku Naila. Belum pernah ia lihat wanita seunik Naila ini.
"Tapi tetap aja kebanyakan ini, nanti malah kalau gak di makan bisa busuk," ucap Antoni yang gak suka buang-buang makanan.
"Nanti kan Mama dan Papa aku mau ke sini, Om. Jadi buat hidangan mereka juga. Atau kalau ada keluarga yang datang, bisa menyajikan buah-buahan ini, atau bisa berbagi sama kamar sebelah," balas Adrian dan Naila pun mengangguk-angguk setuju dengan pendapat Adrian.
"Ini apa, Mbak Nai?" tanya Alfira yang dari kemaren diam.
"Ah ini kue bolu, ada yang rasa melon sama nangka," sahut Naila.
"Alfira mau dong," ujar Alfira dan Naila pun langsung mengangguk setuju.
Ia membuka kardus itu, dan untungnya ada pisau kecil dan piring kecil yang emang khusus dibawakan dari toko itu. Naila memotongnya dan memberiannya ke Alfira.
"Om, Tante dan Mas Adrian mau, biar sekalian Nai potongkan," ujar Naila.
"Boleh deh," jawab Adrian. Antoni dan Arini pun juga ikut mengiyakan karena kasihan sudah berat bawa dari parkiran ke sini, kalau gak di makan, mereka takut Naila akan kecewa. Padahal sebelumnya, mereka sudah makan siang bersama. Tapi demi Naila, mereka pun mau mencicipi kue bolu itu.
"Kamu baru pulang sekolah, Nai. Langsung ke sini?" tanya Arini.
"Iya, Tante. Soalnya habis ini mau langsung ke resto, jadi sekalian ganti baju di sana."
"Kamu kerja paruh waktu?" tanya Antoni.
"Iya, Om. Sebenarnya aku cuma bantu-bantu Bunda aja di sana."
"Oh, Bunda kamu punya resto?" tanya Arini lagi.
"Hehe iya, Tante. Alhamdulillah."
"Apa namanya, siapa tau nanti Om bisa mampir ke sana."
"Lala's Restauran, Om."
"Wah, kita dua Minggu lalu kan ke sana, Pa. Itu juga punya cabang di jalan Xx kan?" tanya Arini.
"Iya, Tante. Alhamdulillah."
"Wah Bunda kamu hebat, Nai," puji Arini.
"Iya, Tan. Sekarang Bunda buka cabang lagi di Bali. Tadi pagi berangkat, sebenarnya kemaren itu Bunda pulang karena kangen, tapi tadi pagi sudah berangkat lagi ke Bali. Dan gak tau kapan pulang."
"Terus kamu kamu sendirian di rumah??" tanya Arini kasihan sama Naila.
"Iya,"
"Ayah kamu?" tanya Antoni.
"Sudah meninggal, Om," ujar Naila sambil memberikan kue itu kepada Antoni, Arini, dan Adrian.
"Kamu pasti kesepian," tutur Adrian merasa kasihan sama kehidupan Naila.
"Enggak juga sih, Mas. Kan pagi-pagi habis sholat aku sibuk bersih-bersih rumah, terus masak, berangkat sekolah. Pulang sekolah langsung ke resato dan pulang kadang jam sepuluh malam, kadang jam sebelas malam. Soalnya resto kan nutupnya malam, lalu pulang ke rumah, masih harus bersih-bersih lagi dan ngerjakan tugas, lalu tidur deh. Jadi gak kesepian. Bangun tidur ya aktivitas menanti lagi. Dinikmati aja sih," ucap Naila terkekeh. Ia juga mengambil kue itu dan memakannya. Ia seakan lupa kalau dia beli buat keluarga Alfa, tapi ia malah ikutan makan.
"Eh, kok aku makan kuenya juga ya," ujar Naila saat sadar. Mendengar hal itu mereka pun terkekeh.
"Gak papa kali, Nai. Lagian itu kebanyakan, kamu ikut makan juga sisanya masih banyak," ujar Arini terkekeh. Naila pun hanya tersenyum malu. Entah kenapa, mereka mudah akrab sama Naila. Mungkin karena Naila yang apa adanya, dan tak bermuka dua. Jadi mudah menggaet orang lain buat suka sama Naila.
"Kamu gak capek Nai, kayaknya aktivitas kamu sibuk banget dari pagi sampai malam," ujar Antoni.
"Kamu emang hebat, Nai. Pantas aja Alfa suka sama kamu," ucap Arini memuji Naila.
"Tapi aku gak suka sama Alfa, Tan," ujar Naila jujur.
"Kenapa?"
"Kak Alfa telat sih ngomongnya. Dia baru ngomong setelah aku jalin hubungan sama cowok lain. Aku juga kan gak mungkin mutusin cowok aku gitu aja. Nanti aku disangka mainin perasaan anak orang. Tapi tetang aja, Tan. Sahabat aku besok mau ke sini. Namanya Rani, dia itu baik, sholehah, suka menolong, pintar, cantik juga. Dan dia itu suka banget sama Kak Alfa," ujar Naila.
"Kamu mau jodohin sahabat kamu?" tanya Adrian, entah kenapa ia merasa heran, melihat wanita yang ngomong blak-blakan kayak gini, entah dia terlalu polos, atau emang suka kejujuran hingga ngomong santai, seperti ngomong sama temannya sendiri.
Namun Adrian suka dengan sifat Naila seperti ini, dia jujur akan peraasannhya dan tidak pura-pura suka sama Alfa, padahal ada keluarganya di sini. Gak jaim juga.
"Gak di jodohin juga kali, Mas. Aku cuma ingin ngasih kesempatan aja buat mereka. Sahabatku baiknya itu minta ampun, dan dia itu cinta banget sama Kak Alfa, aku cuma berharap posisi sahabat aku bisa gantiin aku di hatinya Kak Alfa. Bagaimanapun aku ingin Kak Alfa bahagia, aku ingin Kak Alfa bisa merasakan indahnya mencintai dan dicintai. Aku sendiri gak bisa balas perasaan Kak Alfa, karena aku sudah mencintai orang lain. Untuk itu, aku ingin sahabatku itu bisa memberikan Kak Alfa kebhagiaan yang belum bisa aku berikan. Intingya aku ingin semuanya bahagia. Aku juga minta maaf buat Kak Alfa begini. Aku benar-benar gak tau, kalau Kak Alfa akan minum minuman haram itu setelah aku memperkenalkan orang yang cukup dekat sama aku," ujar Naila hati-hati, ia gak menyebut pacar atau calon suami, karena menjaga hati mereka, ia lebih memilih orang terdekt aja.
"Selama ini aku cuma menganggap Kak Alfa itu teman, karena dia sahabatnya Kak Fahmi, gak lebih dari itu. Lagian aku jarang mengobrol sama Kak Alfa, jarang ketemu juga. Tapi ternyata Kak Alfa mencintai aku sedalam ini bahkan sampai kehilangan nyawanya karena aku. Aku benar-benar minta maaf, Om, Tante," ujar Naila dengan raut wajah sedihnya.
"Ini bukan salah kamu, Nai. Ini salah Alfa yang gak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Wajar dia patah hati, tapi tidak seharusnya dia melampiaskan rasa sakitnya dengan minum-minuman keras itu," ucap Antoni, tak ada yang menyalahkan Naila di sini. Karena memang dari awal Alfa hanya diam dan tak memperjuangkan cintanya. Dan setelah Naila jadian sama orang lain, barulah Alfa sakit hati dan merasa putus asa.
"Makasih, Om, Tante," ucap Naila tersenyum sambil menatap ke arah Alfa yang masih memejamkan matanya.
"Aku berharap Kak Alfa segera sadar dan bisa tersenyum lagi. Walaupun aku gak mencintainya, tapi aku sayang dia sebagai teman, bahkan aku gak akan nolak jika misal Kak Alfa nganggep aku adiknya, karena aku ini cuma putri tunggal, gak punya saudara hehe," ujar Naila dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa kesepian dan kesedihan di matanya, namun Naila memaksa tersenyum walaupun matanya sudah berembun.
"Mbak Naila sudah kelas berapa?" Alfira yang mengerti bahwa suasana sudah mulai meredup, langsung mengalihkan pembicaraan.
"Mbak Nai kelas dua, Sayang. Tapi bentar lagi sudah mau kelas tiga. Kamu kelas berapa?" tanya Naila.
Dan suasana pun mulai kondusif lagi karena Alfira. Tak ada kecanggungan lagi. Dan Naila sudah mulai tertawa karena tingkah laku Alfira.
Saat Naila tengah mengobrol sama mereka, tiba-tiba Hpnya Naila berbunyi, dan ternyata Bunda Ila yang menelfon. Naila pun langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bun."
" .... "
"Alhamdulillah kalau sudah sampai."
" .... "
"Ya, Nai sudah pulang sekolah, tapi mampir dulu jenguk Kak Alfa."
" .... "
"Iya, entar lagi langsung ke resto kok."
" .... "
"Siap, Bun. Bunda hati-hati juga ya di sana."
" .... "
"Iya, waalaikumsalam."
Dan setelah itu, Naila pun menaruh hpnya kembali ke dalam tas. Lalu Naila menelfon Mbak Indah, dan menanyakan masalahnya apa. Setelah tau, Naila pun langsung memberikan solusi dan meminta Mbak Indah menyelesaikan masalah yang ada di sana. Karena Naila akan segera sejam lagi.
"Kenapa, Nai?" tanya Antoni setelah Naila menutup telphonnya.
"Om, Tante, Mas Adrian, Alfira. Nai pamit pulang dulu ya, besok Nai akan ke sini bareng Rani, sahabat Naila," ujar Naila tersenyum ramah.
"Kamu ada masalah, Nai?" tanya Arini.
"Ah, sedikit cuma. InsyaAllah Nai bisa beresin kok," jawab Naila optimis. Yah, serumit apapun masalahnya, selama dirinya yakin, ia pasti bisa keluar dari masalah itu dan mendapatkan solusi terbaik.
"Iya sudah, kamu hati-hati ya di jalan," tutur Antoni.
"Iya, Om. Besok mau aku bawakan apa, Tante?" tanya Naila lagi, takut jika nantinya ia salah bawa.
"Enggak perlu bawa apa-apa lagi, Nai. Ini sudah banyak, bahkan mungkin sampai besok masih ada."
"Ah gitu baiklah."
Dan setelah itu, Naila mencium tangan Arini, Antoni dan Adrian. Sedangkan untuk Alfira, dirinya yang mencium tangan Naila, karena gak mungkin membiarakn Naila yang mencium tangannya, karena itu gak sopan.
Melihat Nai seperti itu membuat mereka kaget dan terkejut, namun mereka berusaha bersikap biasa aja. Setelah selesai, Naila membisikkan sesuatu ke telinga Alfa.
"Kak Alfa, Naila sayang Kakak. Cepat bangun ya, besok Nai ke sini lagi," bisiknya. Dan setelah itu, Naila pun pergi dari sana setelah mengucap salam.
Naila buru-buru pergi ke resto, karena ada masalah cukup berat di sana. Nai berharap, ia keburu sampai di sana, sebelum masalah semakin membesar dan akan mempersulit semuanya.