Novemberain

Novemberain
Menolak Laramarannya



Satu bulan sudah, Naila selalu main ke rumah Ibu Maria setiap pulang kuliah. Kadang saat Hari Sabtu Minggu, ia menyempatkan pergi ke sana, Bunda Ila pun tak mempermasalahkan, malah seneng kalau Naila mau pergi ke sana dan menemani Ibu Maria. Karena Bunda Ila sendiri dari pagi sampai malam selalu ada di resto, jadi gak pernah kesepian, karena ada banyak karyawan yang di ajak ngobrol. Belum lagi kalau pas hari Minggu, walaupun resto libur, dirinya tetap punya kesibukan lain, seperti selalu ikut pengajian RT, RW. Ikut arisan, kadang senam pagi bersama di kompleks itu, kadang juga anak-anak karyawan datang ke rumahnya buat rujaan atau yang lainnya. Sehingga Bunda Ila akrab banget sama mereka. Jadi benar-benar gak kesepian banget. Naila pun kadang ikut gabung sama karyawan resto, rujaan bareng, makan bareng, dan nonton film bareng di rumah Naila.


Jadi, misal Ibu Maria membutuhkan teman, tentu Bunda Ila gak akan melarangnya, karena dulu ia pernah merasakan hal yang sama. Dan rasanya gak enak banget. Hidup selalu kesepian dan tak ada teman cerita.


Hari ini, Naila mau pergi ke rumah Ibu Maria, naik grab. Karena Naila terlalu malas untuk nyetir sendiri. Jadi Naila memilih untuk memesan mobil grab karena ini sudah jam sepuluh siang, tentu panas jika ia naik sepeda motor. Bukannya takut item, tapi mungkin karena kebiasaan naik mobil selama ini, jadinya ia lebih suka kemana-mana pakai mobil.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, mobil pun datang. Namun betapa kagetnya dia saat seseorang turun dari mobil. "Mas Andrian," ucap Naila. Ia pun mengecek kembali plat mobil, foto profil, dan nama akun pengemudinya dan benar saja, itu atas nama Adrian dan fotonya pun juga fotonya Adrian.


"Hay, Nai," sapa Adrian ramah.


"Mas Adrian, kenapa Mas malah jadi sopir gini?" tanya Naila kaget. Pasalnya, Adriain orang kaya, dia aja kerja pakai sopir. Kenapa sekarang, malah kerja seperti ini.


"Gak papa, soalnya bosen di rumah terus. Jadi aku ngisi waktu luang aku jadi sopir grab," jawabnya terkekeh. Membuat Naila hanya geleng-geleng kepala. Apakah emang seperti ini kalau orang kaya lagi bosen, cari kesibukan yang bisa menghasilkan cuan.


"Oh gitu, sudah berapa lama, Mas?" tanya Naila sambil berjalan masuk ke dalam mobil. Awalnya ia mau duduk di belakang, tapi Adrian menyuruh untuk duduk di depan. Naila pun menurutinya, lagian cuma tempat duduk, yang penting gak gak ada sentuhan apapun.


"Baru jalan dua Minggu."


"Oh, jadi baru-baru ini, aku fikir dah lama."


"Belum. Ini aja, gak ada yang tau, kecuali kamu, Nai."


"Kenapa?"


"Ya kalau mereka tau, pasti aku di jadikan bullyan di rumah. Mereka pasti bilang aku kekurangan uang, padahal aku mah ngojek gini karena bosen di rumah, sedangkan pekerjaan sudah selesai semua. Mau kencan, juga gak punya pacar. Ya kali seharian di kamar dong. Biar keriput aku," tutur Adrian membuat Naila terkekeh.


"Kenapa gak cari pacar, Mas?"


"Susah cari yang mau nerima aku apa adanya, Nai. Apalagi, aku ingin langsung nikah aja, kalau nemu yang cocok. Males pacaran, nambah dosa juga kan. Karena kalau pacaran, gak mungkin gak pegangan tangan, belum lagi tatap-tatapan. Belum lagi buang-buang waktu, iya kalau jadi nikah, kalau enggak. Itu kan kayak buang-buang waktu, harus ngeladeni chatan siang malam."


Mendengar hal itu membuat Naila ingat akan Marfel. Dulu saat pacaran sama Marfel, ia sering pegangan tangan, makan saling suap, tinggal bareng saat di rumah sakit, bahkan berduaan di rumah sakit, belum lagi ia menginap di rumah Marfel, padahal mereka bahkan belum resmi tunangan atau pun menikah. Hanya sebatas pacar. Tapi dia sudah mau menginap di rumah cowoknya dan tinggal di sana, seolah-olah dirinya sudah di lamar secara resmi.


Mengingat itu, membuat Naila beristigfar dalam hati. Andai bundannya tau, mungkin ia akan marah besar atau kecewa berat padanya. Tanpa terasa Naila menitikkan air mata.


"Kok kamu nangis, Nai?" tanya Adrian kaget, melihat Naila yang menitikkan air mata.


"Enggak papa, Mas. Aku cuma ingat sesuatu aja," jawab Naila menghapus air matanya.


"Hemm gitu, apa karena ucapanku tadi?" tanya Adrian dan Naila pun menggelengkan kepalanya.


"Aku bahkan sekarang selalu pergi ke rumahnya. Tuhan, kenapa aku salah jalan gini sejak kenal sama Mas Marfel," gumam Naila dalam hati. Ia menyesali apa yang sudah terjadi.


"Iya, Mas," sahut Naila berusaha untuk bersikap biasa aja, tak menampakkan sedihnya lagi.


"Apakah kamu punya pacar, atau deket dengan seseorang?" tanya Adrian memberanikan diri.


"Kenapa Mas Adrian nanya gitu?" tanya Naila heran.


"Kalau kamu berkenan, aku ingin melamar kamu, Nai. Nanti malam."


"APA!" Naila kaget, padahal ia baru beberapa kali bertemu dengan Adrian, saat di rumah sakit, saat di rumahnya kemaren pas perayaan anniversary orang tuanya, lalu sekarang. Bahkan di antara mereka belum ada yang menyatakan cinta.


Adrian pun kaget dengan suara Naila yang melengking itu. "Nai, jangan teriak gitu," ucap Adrian membuat Naila malu sendiri.


"Habisnya aku kaget, Mas. Mas serius mau melamar aku?" tanya Naila.


"Iya, itu pun kalau kamu mau. Kalau enggak ya gak papa, mungkin kita emang gak jodoh aja," balasnya santai. Padahal hatinya ketar ketir, jantungnya deg-deg ser.


"Maaf ya, Mas. Aku gak bisa."


"Kenapa?"


"Aku masih ingin fokus sama cita-cita aku, aku masih ingin lulus kuliah dan jadi dokter dulu. Aku ingin membahagiakan Bunda."


"Oh gitu, ya gak papa sih. Aku ngerti."


"Mas gak marah, kan?"


"Enggaklah, Nai. Ngapain aku marah. Seperti kataku, mungkin emang kita gak jodoh."


Mendengar hal itu, Naila pun tersenyum lega. Karena ia melihat Adrian baik-baik aja setelah ditolak olehnya. Tak lama kemudian, mobil pun berhenti di depan rumah Marfel. Naila segera turun, "Makasih ya, Mas."


"Iya, sama-sama. Jangan lupa bintang lima."


"Hehe okay-okay, Mas."


"Aku balik dulu ya."


"Iya, Mas." Setelah itu, Adrian pun segera pergi dari sana. Tak lupa Naila memberikan bintang lima dan ulasan yang bagus untuk Adrian. Ia juga sudah bayar pakai koin, jadi gak perlu bayar cash.