
Sepulang dari sekolah, Naila menunggu di pertinggan, itu pun ia sembunyi di balik pohon, agar tak ada yang mengenalinya. Bahkan ia rela pulang belakangan, agar bisa satu mobil dengan Marfel. Padahal dirinya ingin berangkat pakai taxi online aja, tapi Marfel tetap kekeh ingin berangkat bareng dirinya.
Tak lama sejak Naila sembunyi di balik pohon, mobil Marfel berhenti tepat di hadapannya. Tanpa ragu, Naila langsung membuka pintu depan dan langsung masuk begitu saja. "Kok lama, Mas?" tanya Naila.
"Maaf, tadi Ibu Ririn mengajak Mas ngobrol dulu," jawabnya sambil menjalankan mobilnya lagi.
"Ibu Ririn?" tanya Naila.
"Iya," sahut Marfel sambil melirik ke arah Naila. Ibu Ririn umurnya masih muda, masih dua puluh lima tahun dan satu-satunya guru wanita yang belum menikah.
"Oh, emang ngomong apa?" tanya Naila lagi, ia tengha penasaran karena gak biasanya Ibu Ririn mengajak Marfel bicara.
"Oh dia cuma mau numpang mobil saja, soalnya dia gak bawa mobil hari ini. Tapi Mas menolaknya dengan alasan, Mas tengah buru-buru," balas Marfel menjawab seadanya, tanpa di lebih-lebihkan.
"Kenapa harus numpang sama Mas, kenapa bukan dengan yang lain? Atau naik mobil onlline, misalnya?" tnaya Naila lagi, dia masih mencerca Marfel dengan pertanyaan-pertanyaaan.
"Aku mana tau, Sayang. Mungkin karena dia melihat Mas melintas di depannya, terus langsung reflek bilang mau numpang sama Mas."
"Kok aku gak yakin ya?" tanya Naila pada dirinya sendiri, yang masih di dengar oleh Marfel.
"Enggak yakin kenapa?" tanya balik Marfel.
"Bisa aja itu cuma akal-akalannya Ibu Ririn saja, biar bisa pulang berdua dengan Mas Marfel.
"Kok kamu seudzon gitu?" tanya Marfel terkekeh.
"Astagfirullah." Naila langsung beristigfar berulang-ulang membuat Marfel semakin tersenyum melihatnya.
"Kamu cemburu?" tanya Marfel dan Naila pun menggelengkan kepala.
"Enggak kok," jawabnya sambil melihat ke arah luar jendela. Mendengar hal itu, Marfel mencibir.
"Enggak cemburu, yakin?" godanya.
"Iya, yakin seratus persen," sahut Naila mantap.
"Ck ... cemburu juga gak papa, Nai. Malah aku senang. Karena cemburu itu tanda cinta," tutur Marfel.
"Aku emang gak cemburu, ngapain aku cemburu sama Ibu Ririn. Aku yakin, Mas gak mungkin berpaling dariku," akunya percaya diri.
"Ya ... ya ... Mas gak akan pernah berpaling darimu, walaupun ada cewek cantik dan **** sekalipun. Karena Mas cuma cinta kamu seorang," goda Marfel membuat rona merah di pipi Naila.
"Jangan godain dong."
"Aku gak godain, aku hanya ngomong bicara fakta kok."
Naila tak mejawab lagi dan memilih diam. Ia tidak ingin Marfel terus menggodanya, jadi ia memilih untuk bungkam saja. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan resto.
"Mas, mau makan siang di sini sekalian?" tanya Naila.
"Boleh deh."
Naila dan Marfel turun dari mobil, dan saat Naila masuk ke dalam, ia lagi-lagi melihat Alfa yang tengah makan siang juga disana.
"Hai, Nai," sapa Alfa sambil bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menghadap ke arah Naila.
"Hai, Kak," jawab Naila ragu-ragu karena menatap wajah Marfel yang sudah tak sedap di pandang.
"Kamu baru pulang sekolah, Nai?" tanya Alfa sambil melirik ke arah Marfel yang ada di dekat Naila bahkan menggengggam tangan Naila dengan erat.
"Ada apa?" tanya Naila sambil menatap ke arah Marfel.
"Kamu gak mau memperkenalkan aku dengannya?" tanya Marfel. Naila yang tau maksud perkataan Marfel pun akhirnya menghampiri Alfa yang masih berdiri menatapnya.
"Oh ya, Kak Alfa, kenalin ini Mas Marfel, calon suamiku," ucap Naila membuat Alfa melotot kaget.
"Ca ... calon suami?" tanya Alfa tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Naila.
"Iya, Mas Marfel, perkenalkan ini teman aku, namanya Kak Alfa, dia itu sahabat Kak Fahmi, orang yang pernah aku ceritakan dulu," ujar Naila memperkenalkan duanya.a
Lalu Marfel pun menyodorkan tangannya ke arah Alfa, Alfa pun menerimanya dengan kikuk.
"Se ... selamat ya," ucap Alfa yang masih terkejut, dan tak menyangka wanita yang sudah mengambil hati dan cintanya itu, kini akan segera jadi milik orang lain. Entah kenapa, hati Alfa hancur sekali, tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Padahal dirinya sudah lama menyukai Naila, tapi kenapa harus cowok lain, yang mendapatkan dia, bukan dirinya.
"Terima kasih," jawab Marfel sambil melepas tangannya. Ia senang karena Naila memperkenalkan dirinya sebagai calon suami.
"Iya sudah, Kak Alfa aku ke dalam dulu ya. Aku masih ada kerjaan soalnya."
"I ... Iya, Nai," jawab Alfa sambil menatap ke arah Naila dengan tatapan kosong. Hatinya seperti ditikam ribuan jarum, sakit sekali rasanya.
Marfel pun tak tega sebenarnya melihaat Alfa seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Ia tak akan menyerahkan Naila pada siapapun karena Naila adalah miliknya. Dan selamanya akan selalu jadi milliknya.
Naila membawa Marfel ke ruangannya, namun sebelum itu, Naila meminta karyawannya untuk membawa makanan dan minuman untuknya dan untuk Marfel.
"Ruangan kamu cukup luas ya, yank," ujar Marfel menatap ke ruangan itu. Walaupun ruangan ini bahkan hanya seperempat dari ruangan miliknya, tapi bagi seorang yang memiliki resto yang cukup terkenal, ruangan ini sudah lebih dari cukup.
"Iya, Mas. Tapi ini bukan ruanganku loh, tapi ruangan Bunda." Naila mengoreksi kata-kata Marfel.
"Tapi kan sekarang ruangan kamu, Yank," ucap Marfel yang sudah memanggil Naila dengan sebutan sayang, bukan Naila lagi. Dan Naila pun tak menolaknya.
"Iya, tapi cuma sementara aja. Kalau Bunda kembali, ya pasti Bunda yang di sini. Karena semua ini milik Bunda, aku hanya membantu saja," ujar Naila yang tak ingin mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Naila menghidupkan komputernya dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Marfel yang tak mau ganggu, hanya diam saja, duduk santai di kursi sambil menatap ke arah Naila.
"Kenapa ngelihatin aku sampai segitunya, Mas?" tanya Naila, yang sadar jika dirinya di tatap sedari tadi.
"Kamu cantik banget, yank. Apalagi kalau fokus gitu, kecantikannya berkali-kalli lipat," jawab Marfel. Naila hanya mencibir, ia kadang merasa jenuh juga dengan gombalan-gombalan dari Marfel.
Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk," ucap Naila, dan tak lama kemudian, seseorang datang membawa makanan dan minuman.
"Taruh di meja sana ya, Mbak," ucap Naila sopan.
Karyawan itu pun menurut dan menata makanan dan minuman itu di meja yang di tunjuk oleh Naila.
"Makasih ya, Mbak."
"Sama-sama Mbak Nai."
Dan setelah itu, dia pun pergi dari sana, karena tak mau mengganggu Naila yang tengah bekerja. Padahal Naila sudah meminta mereka untuk manggil Naila saja, tapi ternyata ada sebagian yang merasa sungkan dan tetap memanggil Naila dengan sebutan, MBak. Lebih menghargai katanya. Dan Naila pun tak bisa menolak, dia menyerah. Dan membiarkan mereka memanggil dirinya sesuka mereka, dan senyaman mereka aja.
"Makan dulu yuk, Mas," ajak Naila dan Marfel pun mengiyakan saja.
Naila dan Marfel makan bareng, dan sesekali mereka saling menyuapi satu sama lain. Setelah selesai makan, Marfel pun langsung pamit karena ia harus bekerja di kantornya, dan Naila pun tak mencegah, karena ia tau, bahwa Marfel ada pekerjaan lain yang tak bisa di ganggu. Naila bukan anak kecil, yang harus meminta Marfel untuk terus berada di dekatnya. Ia tidak akan melarang Marfel melakukan apapun, selagi Marfel jujur dan tak mengkhianati dirinya.