Novemberain

Novemberain
Hujan Di Malam Hari




 


Jam 22:10, Naila sudah siap siap mau pulang sedangkan karyawan sudah pulang sejak 10 menit yang lalu. Naila emang sengaja pulang belakangan karena ia harus menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan. Besok sudah memasuki tanggal 2 November dan tiga hari lagi adalah hari gaji karyawan. Karyawan di resto itu akan di gaji tiap tanggal lima tapi kadang bisa mundur bahkan bisa maju. Jadi gak nentu tapi keseriingan tanggal lima jikapun mundur paling sampai tanggal 6 jika maju biasanya tanggal 3 atau 4.


Setelah semua selesai, Naila pun menutup semua  jendela dan pintu resto namun saat ia mau menghidupkan sepeda motornya tiba tiba hujan deras mengguyur tubuhnya. Untunglah tasnya ada pelindung plastiknya hingga tak mungkin basah dan isi dari tas tersebut pun akan aman sentosa.


Tapi seakan tak peduli dengan tubuh yang sudah basah kuyup, Naila pun tetep menghidupkan sepedanya dan ia menikmati hujan itu sepanjang jalan. Saat melewat sebuah taman Love, Naila menghentikan sepeda motornya dan memarkirkan sepeda motornya. Walau ini sudah hampir jam setengah 11 malam namun di situ masih saja rame.


Seperti yang lainnya, Naila melangkahkan kakinya ke tengah taman itu dan merentangkan kedua tangannya sambi wajahnya menengadah ke atas. Hujan menetes ke wajahnya satu persatu dan itu sungguh memberikan kesenangan tersendiri untuknya. Naila ingat ini pertama kalinya hujan turun setelah beberapa bulan mengalami musim kemarau.


"Kata bunda, jika hujan turun pertama kali harus doa dan Insya Allah doanya akan di ijabah." Ujar Naila dalam hati ketika ia ingat pesan dari bundannya. Naila pun langsung berdoa memohon kepada tuhan yang maha kuasa.


"Ya Allah semoga hari ini ada pangeran yang datang kepadaku. Pangeran yang akan menjadi jodohku kelak. Aamiiin." Ucap Naila dengan sungguh sungguh, entah kenapa tiba tiba doa yang ia ucapkan adalah itu padahal ada banyak hal yang seharusnya ia minta tapi kenapa kata kata yang keluar adalah itu. Entahlah, Naila tak mau ambil pusing. Ia pun menikmati hujan itu. Namun tiba tiba hujannya reda gitu aja. Naila pun membuka matanya dan ia sungguh terkejut melihat ada laki laki tampan yang ada di depannya sambil memayungi dirinya sedangkan dirinya di biarkan kehujanan.


Naila bengong melihat laki laki itu sedangkan laki laki itu hanya tersenyum manis membuat jantung Naila berdetak lebih cepat bahkan ia merasa panas dingin dan kaku untuk membuka suara.


"Ini payung, kamu pakai. Jangan main hujan hujanan di malam hari. Nanti kamu bisa sakit." Ucap laki laki tampan itu dengan kata kata yang sungguh lembut membuat siapa saja jadi terpana.


"Te...terima kasih." Ujar Naila gugup sambil menerima payung dari tangan laki laki itu.


"Kamu mau teh hangat?" tanya laki laki itu.


Naila hanya menganggukkan kepala, karena ia terbayang minum minuman hangat saat tubuhnya sudah mulai menggigil kedinginan.


"Ayo ikut aku." Ucap laki laki itu sambil berjalan terlebih dahulu memasuki sebuah kafe dengan taman.


"Duduklah, aku akan memesankan minuman untukmu." Ujar laki laki itu sambil berjalan untuk memesan minuman  sedangkan Naila menaruh payung yang ia pegang di kursi kosong sedangkan dirinya duduk di kursi kayu karena ia tak mungkin duduk di sova mengingat baju yang ia pakai basah kuyup.


Tak lama kemudian laki laki itu datang dengan membawa dua gelas teh hangat dan menaruhnya di atas meja.


"Minumlah." Ujar laki laki itu.


Naila pun menganggukkan kepala dan mengambil teh hangat yang ada di depannya. Ia meminumnya sedikit demi sedikit sungguh rasanya teh hangat yang ia minum bisa membuat tubuhnya yang tadinya kedinginan mulai menghangat sehangat teh yang ia pegang.


"Kamu ngapain main hujan di tengah malam seperti ini, tidak baik seorang perempuan berkeliaran di luar rumah. Banyak bahaya yang mengintai kamu. Berhati hatilah dan jangan ceroboh, walau di sini rame tapi tidak semua orang yang ada di sini itu baik semua." Ujar laki laki itu menasehati.


"Maaf, tadi aku dari resto dan saat mau pulang, tiba tiba hujan turun dengan deras. Jadi mau gak mau, aku berusaha untuk melanjutkan perjalananku sambil menikmati hujan yang sangat aku suka. Dan ketika melihat taman yang begitu ramai, entah kenapa tiba tiba aku ingin sekali berhenti dan ikut menikmati hujan dengan mereka semua." Jawab Naila mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.


"Tapi apakah kau tak lihat di sana lebih banyak laki lakinya dari pada wanita bahkan hanya kau sendirilah yang memakai hijab sedangkan mereka menggunakan baju yang terbuka semua. Awalnya aku gak mau peduli tapi ketika melihat tatapan laki laki yang begitu liar terhadapmu, aku takut mereka berbuat macam macam. Untuk itulah, aku menghampirimu karena aku tak ingin kamu jadi santapan laki laki biadab itu." Ucap laki laki itu santai tapi tegas.


"Maafkan aku, lain kali aku akan berusaha untuk hati hati dan tak lagi mampir ke sana ke mari jika memang sudah waktunya pulang." Ujar Naila menyesal, ia bersyukur karena masih ada orang baik dan peduli terhadap orang lain.


"Sudahlah, lebih baik kamu segera pulang. Kasihan orang tuamu yang menunggumu di rumah. Ini jaket kamu pakai agar gak terlalu kedinginan di jalan. Dan ini juga buat kamu, mantel ini akan melindungimu dari hujan. Walau kamu suka hujan tapi tak baik main hujan di malam hari karena itu akan membuat dirimu sakit. Aku juga suka hujan tapi aku tau batasan batasannya." Ucap laki laki itu tersenyum sambil memberikan mantel dan jaket yang ia pegang.


"Terima kasih, aku akan mengembalikan jaket dan mantel ini secepatnya." Ujar Naila tersenyum.


"Bagaimana kamu bisa mengembalikannya, kamu aja gak tau namaku bahkan nomer hp ku." Ucap laki laki itu tersenyum.


"Namaku Fahmi Ghaffar, kamu bisa panggila ku Fahmi." Lanjut laki laki itu.


"Aku Naila Cellina Okta, kamu bisa panggil aku Naila." Ujar Naila tersenyumm.


"Iya, kog kamu tau?" tanya Naila.


"Kan namamu Naila Cellina Okta, Okta itu sebenarnya Oktoberkan?" tanya Fahmi.


"Iya kamu benar. Boleh aku minta nomer Hpmu, nanti jika aku ada waktu aku akan menghubungimu untuk mengembalikan jaket dan mantel ini." Ujar Naila.


"Baiklah catat nomerku ya." Ujar Fahmi.


"081331970960." Ucap Fahmi.


"Oke, nomernya sudah aku catat. Nanti aku akan menghubungimu lewat chat Wa." Ujar Naila.


"Aku tunggu chat darimu." Ucap Fahmi tersenyum.


"Kalau gitu aku permisi dulu ka. Gak papakan aku manggil kaka dengan sebutan Kak Fahmi karena aku lihat umur kakak lebih tua dari aku." Ujar Naila.


"Iya umurku sudah 20 tahun." Ucap Fahmi.


"Nah benerkan? Aku masih 17 tahun." Ujar Naila.


"Wah masih muda dong, masih SMA ya?" tanya Fahmi.


"Iya ka. Kakak sendiri masih kuliah apa sudah kerja?" tanya Naila.


"Masih kuliah tapi sambil kerja juga. Sama seperti kamu, kamu pasti sekolah sambil kerja kan mengingat kamu tadi bilang dari resto." Ujar Fahmi.


"Iya kak, aku sekolah sambil kerja di resto bantu bunda." Jawab Naila.


"Oh kapan kapan aku mampir ke resto kamu, boleh?" tanya Fahmi.


"Boleh banget kak. Kakak bisa datang aja ke restoku nanti alamatnya kau chat lewat Wa. Aku permisi pulang dulu ya kak, mumpung hujannya sudah gak terlalu deras."


"Iya hati hati di jalan." Ujar Fahmi.


"Iya kak, Assalamu'alaikum." Ucap Naila sambil berdiri dan memasang  jaket yang ia pegang.


"Waalaikumsalam."


Naila pun pergi dari situ setelah menghabiskan teh nya dan ketika sudah sampai di dekat sepedanya, ia segera memakai mantel yang ia pegang. Setelah merasa sudah siap, ia pun mulai mengemudikan sepeda motornya menuju rumahnya.