Novemberain

Novemberain
Pergi Ke Kantor Marfel




Sepulang sekolah, Naila langsung pergi ke resto dengan menaiki sepeda motor milik Fahmi. Sesampai di resto, ia segera mengganti bajunya dan segera membantu pegawai resto untuk menyiapkan makanan.


"Mbak Sof, ini buat apa?" tanya Naila


"Ini mbak, tadi ada yang mesen makanan 300 boks." Jawab Sofi, yang memegang kendali pemesanan online.


"Siapa?" tanya Naila.


"Dari Perusahaan PT. MAP mbak."


"Oh, sini biar aku bantuin." Ucap Naila yang langsung membantu karyawannya mengisi nasi dan lauk pauknya.



"Ini yang pakek 35k kan?" tanya Naila.


"Iya, mbak. Tadi mesennya yang paket 35k sebanyak 100 dan pakek 25k sebanyak 100 sama yang pakek 15k sebanyak 100 mbak." Jawabnya.


"Iya udah kita kerjakan yang pakek 35k ribu dulu." Ujar Naila.


"Iya mbak."


Mbak Sofi dan Naila pun menyiapkan pesanan yang harga 35k dan setelah selesai, barulah mereka mengerjakan yang pakek 25k.



"Alhamdulillah ya mbak, pakek yang 35 dan paket 25k udah selesai, tinggal paket yang 15k saja." Ujar Naila tersenyum.


"Iya mbak, ayo semangat."


"Ayo." Ujar Naila dan Mbak Sofi sambil bercanda. Mereka pun mengerjakan paket yang 15k sambil bercakap cakap.



Setelah selesai semua, mereka pun membungkusnya dan menatanya di keranjang.


Di resto Lala's Restaurant memang harganya sangatlah murah murah dari yang 8 ribuan sampai 250k ribu lebih. Tergantung menu yang mereka inginkan karena di sini ada berbagai macam menu dari yang biasa sampai yang luar biasa. Bahkan minumannya pun dari harga 3k sampai 45k.


Itulah mengapa resto ini sangat di minati oleh banyak orang. Karena bagi mereka yang punya uang seadanya, mereka tetep bisa makan di resto ini.


Selesai semua, mereka memasukkan semua makanan yang di tata di ranjang itu ke dalam mobil pengiriman. Di resto ini memang ada dua mobil untuk mengirim barang barang yang di pesan lewat online. Kalau ngirim banyak bisa pakek mobil tapi jika sedikit bisa pakai sepeda motor yang memang di siapkan oleh pihak resto dan sepeda motor itu gak boleh di pakai secara pribadi karena sepeda motor itu hanya khusus di gunakan saat mengirim makanan ke pelanggan aja.


"Mbak sopirnya gak bisa berangkat sekarang soalnya dia lagi sakit  perut kayaknya dia salah makan deh mbak sampai sampai dari tadi bolak balek ke toilet." Ujar Sofi.


"Uwaduh, terus gimana dong?" tanya Naila.


"Gimana kalau mbak nya aja yang ngirim, mbak kan bisa kalau cuma nyetir mobil." Ujar Sofi.


"Tapi aku belum hafal betul takutnya malah nanti nabrak."


"Aku yakin mbak pasti bisa." Ujar Sofi meyakinkan.


"Baiklah akan aku coba. Kamu jaga resto ini dulu ya kalau ada apa apa langsung von atau chat aku." Ucap Naila.


"Oke."


Naila segera masuk ke dalam mobil, tak lupa ia baca doa. Selesai baca doa, ia langsung meluncur ke perusahaan MAP.


Setelah sampai di depan perusahaan MAP, Naila segera keluar dari mobil dan meminta satpam untuk membantunya menurunkan keranjang.


"Pak, pimpinan perusahaan ini ada di mana ya?" tanya Naila.


"Ada di dalam mbak." Jawab Satpam itu ramah.


"Bisa di panggilkan soalnya beliau memesan catering ini ke resto kami." Ujar Naila tak kalah ramah.


"Baik mbak, tunggu bentar ya." Ucap Satmpan itu, ia pun pergi meninggalkan aku dengan catering yang sudah aku turunkan ke bawah dan menaruhnya di atas meja di depan kantor.


Tak lama kemudian satpam itu datang bersama laki laki yang sangat aku kenal.


"Pak Marfel?" Ujar Naila kaget.


"Gak nyangka aku ternyata kamu yang akan mengantarnya langsung ke sini." Ujar Marfel.


"Iya soalnya sopirnya lagi halangan jadi terpaksa aku yang menggantikan posisi dia." Ucap Naila ramah.


"Berapa semuanya?" tanya Marfel


"Ini." Naila memberikan lembaran nota untuk Marfel.


Marfel mengambil nota itu dari tangan Naila.


"Kog pakai syarat segala sih pak?" Ucap Naila tak terima.


"Kog pak lagi?"


"Maksudku mas?" Ralat Naila.


"Emang saya salah jika saya meminta kamu menemani saya makan sebentar." Ujar Marfel.


"Iya enggak juga sih tapi kan saya harus kembali ke resto pak, eh mas."


"Iya udahlah gampang, itu kan resto punya bunda kamu jadi kamu gak mungkin di pecat hanya karena terlalu lama mengirim pesanan." Ucap Marfel yang gak mau tau tentang perasaan Naila.


"Hemmm iya deh, tapi hanya sekali saja ya dan jangan terlalu lama." Ujar Naila.


Marfel hanya tersenyum, ia pun mengambil 2 kotak nasi dan membawanya ke ruangan sedangkan Naila mengikutinya dari belakang. Sedangkan semua nasi yang ada di ranjang itu di bagi bagikan kepada semua karyawan oleh pak satpam. Karena memang tadi saat pak satpam memanggil Marfel untuk keluar karena ada yang mencari, Pak Marfel langsung memberikan instruksi agar membagikan makanan yang ia pesan kepada semua pegawainya.


Sesampai di ruangan Pak Marfel, Naila langsung duduk di kursi yang agak jauh dari Marfel.


"Kenapa kita mesti makan di sini sih, kenapa gak di luar aja." Ucap Naila yang agak keberatan jika harus seruangan dengan Marfel.


"Emang kenapa kalau kita cuma berdua, kamu takut?" tanya Marfel.


"Bukan gitu, tapi kan gak baik cewek cowok berduaan di ruangan tanpa ada orang lain yang menemaninya." Jawab Naila.


"Tenang aja, aku gak mungkin ngapa ngapain kamu kog. Santai aja, lagian di sana ada CCTV jadi gak mungkin aku berani melakukan hal buruk sama kamu. Jika pun iya, kamu bisa melaporkannya ke polisi atau kamu teriak maka orang di luar sana akan masuk ke sini dan menolongmu." Ujar marfel tersenyum.


"Hemm sudahlah, ayo cepet makan biar saya bisa segera kembali ke resto." Ujar Naila.


"Iya ya sabar." Ujar Marfel. Ia memberikan satu kotak nasi untuk Naila dan satunya lagi untuk dirinya sendiri.


"Kenapa saya di kasih juga?" tanya Naila.


"Kamu gak mungkin kan mau makan satu kotak berdua sama aku? Tapi kalau kamu mau, aku sih gak papa. Malah seneng." Jawab Marfel sambil mencuci tangan karena ia lebih suka makan pakai tangan dari pada harus pakai sendok.


"Hemm sejak kapan bapak mulai belajar gombal gini, biasanya juga judes, cuek dan dingin banget sikapnya. Tumben banget sekarang ramah dan murah senyum. Pasti ada apa apanya nih." Ujar Naila dalam hati.


"Sudah ayo cuci tangan dan setelah itu langsung makan, emang kamu mau berlama lama di sini?" goda Marfel.


"Iya iya." Naila pun segera mencuci tangannya dan segera makan makanan yang ia bawa dari restorannya.


"Enak juga lauk pauknya, pantas saja resto kamu tiap hari rame." Puji Marfel.


"Makasih pujiannya, kalau enak sering seringlah mesen banyak gini biar aku cepet kaya." Ucap Naila yang asal ceplas ceplos.


"Aku sih gak masalah jika harus mesen tiap hari asal kamu bersedia makan bareng sama aku kayak gini." Ujar Marfel.


"Kenapa harus dengan aku? Kan mas bisa toh makan sama yang lain." Ujar Naila.


"Gak ah, aku lebih suka makan berdua sama kamu aja."


"Emang kenapa dengan aku?" tanya Naila.


"Seneng aja bisa makan berdua sambil menatap wajahmu yang imut itu." Goda Marfel yang membuat Naila langsung batuk batuk, Marfel pun segera mengambil air minum dan memberikannya kepada Naila. Naila segera meminumnya hingga air itu habis tak tersisa.


"Kalau makan tuh pelan pelan biar gak tersedak." Ujar Marfel tersenyum.


"Saya sudah makan pelan pelan tapi ucapan bapak itu yang membuat saya jadi tersedak kayak gini." Ucap Naila seweot,.


"Kenapa sih seneng banget manggil aku bapak, kan udah aku bilang panggil aku mas ketika di luar sekolah."


"Iya ya maaf." Ucap Naila.


"Iya sudah deh, tapi lain kali jangan di ulangi lagi ya dan tolong jangan sampai cerita ke siapapun tentang aku yang ngajak makan kamu berdua kayak gini terutama kepada sahabatnya Rani." Ujar Marfel.


"Emang kenapa?" tanya Naila.


"Ya gak papa sih, emang kamu mau di gosipin merayu guru atau di tuding menggoda guru sendiri. Enggak kan? Mereka tak mungkin menyalahkanku atau pun mengira aku yang menggoda kamu, mereka pasti taunya kamu yang menggoda aku."


"Enak aja, yang ngajak siapa makan siapa, yang di salahkan siapa." Ucap Naila sewot.


"Makanya kamu harus rahasiain ini berdua, cukup kamu dan aku aja yang tau."


"Iya ya." Ujar Naila sambil terus melanjtukan makananya.


Setelah selesai makan, Naila pun pamit untuk segera balik ke resto. Marfel memberikan uang sebesar satu juta tapi Naila mengembalikan uangnya sebesar 250k karena ia tak bisa mengambil sesuatu yang bukan haknya.


Setelah itu, Naila pun segera pamit dengan mengemudikan mobil milik resto.