Novemberain

Novemberain
Pertemuan Yang Tak Menyenangkan




Marfel pun di antar oleh wali kelas ke kelas XI.


"Assalamu'alaikum anak anak." Ucap Bu Indah, wali kelas XI.


"Waalaikumsalam bu." Jawab mereka serempak sambil melihat ke arah Marfel.


"Siapa dia bu?" tanya salah satu murid perempuan yang ada di kelas itu.


"Apakah dia guru baru yang akan ngajar di sekolah ini?" tanya lagi seorang perempuan yang pakai kaca mata.


"Boleh minta nomer hp nya gak, siapa tau nanti butuh buat konsultasi masalah pelajaran yang gak aku mengerti." Ucap salah satu perempuan centil yang sok cantik.


Tapi Marfel hanya acuh tak acuh dan seperti tak mendengarkan ucapan mereka.


"Sudah sudah, jangan rame sendiri. Perkenalkan dia Bapak Marfel yang akan mengajar di sekolah ini selama beberapa bulan ke depan. Saya harap kalian menghormati beliau karena beliau adalah putra dari bapak kepala sekolah." Ucap Bu Indah tegas.


"Bapak bisa memperkenalkan diri bapak, saya masih ada urusan di kantor." Ucap Bu Indah ramah.


"Baik, bu." Ucap Marfel beusaha untuk ramah juga.


Setelah kepergian Bu Indah. Marfelpun mulai melirik ke arah semua murid yang ada di kelas itu.


"Saya harap selama saya mengajar, tak ada ocehan sana sini karena saya gak suka keributan. Dan juga jangan sampai kalian main HP selama jam pelajaran saya. Dan saya juga tidak suka dengan murid  yang terlambat jadi selama pelajaran saya, berusahalah datang lebih awal karena jika saya sampai tau ada yang datang terlambat maka lebih baik pulang atau tunggu pelajaran berikutnya karena saya tidak suka mempunyai murid yang kurang di siplin. Jika saya menerangkan, tolong dengarkan dan perhatikan dengan baik karena bisa jadi sewaktu waktu saya akan memberikan kalian pertanyaan pertanyaan dan kalian harus menjawabnya dengan benar atau saya akan mengurangi nilai kalian hingga saya pastikan kalian tidak akan naik kelas. Terlebih jika ada tugas dari saya, wajib di kerjakan karena saya tidak menerima alasan dalam bentuk apapun. Kalian faham." Ucap Marfel tegas hingga membuat semua murid diam dan tak lagi mengeluarkan suara.


"Kalian faham tidak dengan apa yang saya ucapkan tadi?" tanya Marfel sekali lagi dengan nada sedikit tinggi.


"Faham pak." Jawab mereka semua kompak.


"Bagus." Ujar Marfel masih dengan sifap dinginnya.


"Sekarang buka buku kalian, saya akan menerangkan dari awal sampai bab 3. Jadi dengarkan baik baik dan jika perlu catat bagian bagian yang menurut kalian itu penting. Ngerti?" tanya Marfel.


"Ngerti pak." Jawab mereka sambil menyiapkan buku tulis dan juga pulpen.


Saat Marfel ingin menjelaskan, tiba tiba seseorang datang mengetuk pintu 3x dan tak lupa mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikumm." Ucap seorang wanita yang baru saja menyelesaikan setoran paginya.


"Waalaikumsalamm. Masuk." Ujar Marfel tegas.


Wanita itu yang tak lain adalah Naila, segera membuka pintu dan masuk. Naila pun menghadap ke arah seseorang yang kini ada di hadapannya.


"Kamu." Ucap Naila kaget begitupun dengan Marfel yang tak mengerti kenapa ia harus bertemu dengan wanita ini lagi.


"Kenapa telat?" tanya Marfel.


"Maaf, tadi saya ada urusan." Jawab Naila karena tak mungkin ia bilang karena ia sakit perut dan baru aja nyetor. Itu sungguh memalakukan.


"Saya tadi dari kamar mandi." Jawab Naila akhirnya karena ia takut melihat sifat Marfel yang begitu tegas dan dingin.


"Ngapain?" tanya Marfel lebih lanjut.


"Sakit perut pak."  Jawab Naila menahan rasa malunya.


"Baiklah. Saya tak akan hukum kamu atas keterlambatannya. Saya tau kamu datang sebelum bell berbunyi tapi sebagai gantinya, kamu harus bantu saya menjelaskan ini di papan." Ucap Marfel sambil memberikan buku yang ia pegang.


"Tapi pak." Ucap Naila.


"Mau menerangkan atau keluar dari kelas ini sekarang?" tanya Marfel.


"Baiklah." Naila pun mengambil buku itu dari tangan Marfel lalu menghadap ke semua murid. Semua murid itu juga melihat Naila dengan rasa iba tapi gak bisa membantu apa apa.


Naila hanya tersenyum dan mengucap bismillah. Setelah itu ia pun menerangkan layaknya seorang guru dan sesekali ia menulis sesuatu di papan sambil menerangkan maksud dari tulisan tersebuh.


Marfel memperhatikan bagaimana cara Naila menjelaskan dan menerangkannya sampai detail. Marfel tersenyum, ia tak menyangka mempunyai murid sepintar Naila. Rasa kesal itu pun seakan hilang begitu saja dan berganti dengan rasa kagum.


"Baiklah, sampai sini apakah ada yang kalian tidak fahami?" tanya Naila. Tapi semua murid hanya tersenyum dan mengatakan bahwa mereka faham dengan apa yang di terangkan oleh Naila.


Setelah selesai menerangkan, Maarfel pun menyuruhnya duduk. Naila menaruh buku yang ia pegang di meja guru dan ia langsung berjalan menuju kursinya.


"Baiklah karena kalian sudah faham, maka saya akan memberikan kalian pertanyaan. Satu orang satu pertanyaan. Apakah kalian sudah siap, bagi yang tidak bisa menjawab kalian bisa berdiri sampai jam istirahat tiba." Ucap Marfel membuat semua murid yang di sana merasa panas dingin.


Marfel pun memberikan pertanyaan pertanyaan kepada mereka dan merekapun menjawabnya dengan benar dan tepat akan tetapi ada 2 orang yang tidak bisa menjawabnya dan mereka pun harus berdiri sampai jam istirahat.


Setelah Satu jam 30 menit, bell pun berbunyi 3x yang artinya jam istirahat telah tiba. Marfel pun menutup kelas itu dengan ucapan hamdalam dan setelah itu, ia keluar dari ruangan.


Semua murid pun bernafas lega.


"Tampan sih tapi wajahnya dingin. Bikin takut liatnya." ucap salah satu wanita yang ketakutan melihat wajah Marfel.


"Iya, aku aja takut liat sifat dinginnya itu. Wajahnya gak ada ceria cerianya sedikitpun, dari tadi seperri orang marah melulu. Apa mungkin dia lagi ada masalah?" tanya lagi wanita yang memakai hijab dan bersandar ke dinding sambil memainkan bolpoint nya.


"Mungkin sudah sifatnya seperti itu, dingin tapi tegas dan berwibawa. Orang seperti itulah yang kelak akan menjadi orang yang sukses." Bela wanita yang menutup bukunya dan mengambil buku novel dari dalam tas. Sedangkan Naila dan Rani hanya diam mendengarkan.