
Naila marah-marah di kelas, ia memarahi teman-temannya itu, karena ia yakin di antara mereka ada yang sudah memberikan nomer Naila pada Stefan.
"Ayo kalian mengaku, siapa yang suka ngasih nomer aku ke Kak Stefan!" bentak Naila, untuk pertama kalinya, ia benar-benar marah, karena ia merasa mereka sudah berkhianat padanya, memberikan nomer dirinya tanpa izinĀ pada orang lain.
"Bukan aku, Nai. Sumpah," ujar Rani melihat Naila semarah itu, entah kenapa bulu kuduknya pada merinding. Ini pertama kalinya ia melihat Naila marah seperti ini.
"Aku juga gak, aku ketemu Kak Stefan aja saat di kantin. Lagian aku mana berani ngasih nomer kamu tanpa izin kamu," kata Puput, ia emang tak akan berani memberikan nomer temannya pada orang lain, keculai itu sudah ada izin dari temannya.
"Apalagi aku, aku juga gak mungkin ngasih nomer kamu ke Kak Stefan," tutur Ayu.
Naila menatap ke arah Firoh dan Rahma yang sedari tadi diam.
"Kamu gak mungkin nuduh aku kan, Nai? Aku gak mungkin berkhianat sama kamu," lontar Firoh yang melihat tatapan Naila yang menatap dirinya begitu tajam.
"Aku gak ngasih nomer kamu, Nai. Tenang aja, walaupun aku kadang sedikit gesrek, tapi percayalah, aku gak akan berani memberikan nomer kamu begitu aja ke orang lain, terlebih ke Kak Stefan," ucap Rahma yang tak mau disalahkan, karena emang dirinya tak melakukan kesalsahan kali ini.
"Terus siapa? Sedangkan yang punya nomer aku cuma kalian?" tanya Naila kesal. Ia duduk dengan wajah cemberut, ia merasa sakit hati karena di antara temannya itu tak ada yang mau mengaku.
"Aku mana tau, Nai. Mungkin orang lain. Kamu gak boleh nuduh orang sembarangan, apalagi gak ada bukti, jatuhnya fitnah loh," jawab Rani yang tak suka melihat Naila tak lagi percaya padanya dan juga ke teman-temannya yang lain.
"Orang lain siapa, Ran? Tak banyak yang tau nomer aku kecualli kalian. Dan lagi, Kak Stefan itu satu sekolah dengan kita. Gak mungkin kan dia tau dari orang di luar sana. Sedangkan tak banyak yang tau tentang aku, apalagi nomer aku. Aku gak pernah memberikan nomerku ke sembarang orang," ketus Naila. Entahlah, emosinya sekarang lagi gak stabil, ingin rasanya ia marah-marah kepada semua orang yang ada di dekatnya itu. Mungkin juga karena efek datang bulan hingga membuat Naila marah-marah.
Saat mereka tengah berdebat, Rifa datang.
"Kenapa dengan kalian, kok pada tegang gitu?" tanya Rifa santai, ia duduk di kursinya.
"Itu si Naila marah-marah dari tadi, dia nuduh kita yang ngasih nomer ke Kak Stefan, padahal loh gak ada di antara kita yang ngasih nomer ke Kak Stefan," jawab Puput.
Mendengar hal itu membuat Rifa menegang, bagaimana tidak, jika dirinyalah yang menjadi sumber masalahnya itu.
"Kenapa kamu, Rif. Jangan-jangan kamu ya yang ngasih tau Kak Stefan nomer Naila?" tanya Rani meliht wajah Rifa yang seperti orang gugup.
"Maafin aku, Nai," ujar Rani. Ia tak mungkin berbohong, karena pasti ujung-ujungnya juga akan ketahuan.
"Ya ampun, jadi beneran kamu, Nai," ujar Rani kaget. Padahal tadi dia asal aja, siapa nyangka jika Rifa ternyata dalang utama yang membuat Naila menjadi emosi pagi ini.
"Kenapa kamu tega, Nai?" tanya Ayu yang tak menyangka jika Rifalah yang tega menyebarkan nomer Naila.
"Seharusnya kamu gak boleh melakukan itu, atau paling gak, kamu harus izin dulu ke Naila, boleh apa gak nomer dia kamu kasih ke Kak Stefan," ujar Firoh ikut-ikutan.
Sedangkan Rahma memilih diam dulu karena ia ingin tau alasan Rifa memberikan nomer temannya itu ke Kak Stefan. Naila pun juga hanya diam, namun ia menatap Rifa dengan tatapan tajam, seolah-olah tatapan itu bisa menembus jantung Rifa.
"Kemaren Kak Stefan mengajak aku makan berdua, aku fikir Kak Stefan suka sama aku dan mau PDKT sama aku. Ternyata dia mengajak aku makan karena ingin minta nomer Naila. Awalnya aku menolak, tapi karena Kak Stefan terus menerus merayu aku, aku akhirnya luluh juga. Dan tanpa sadar, aku memberikan nomer kamu, Nai. Maafin aku, Nai. Aku menyesal," ujar Rifa meminta maaf.
Mendengar hal itu, membuat mereka tercengang. Karena gak nyangka jika Rifa diam-diam menyukai Stefan. Ya wajar aja sih kalau Rifa memberikan nomer Naila. WAnita mana yang tahan di rayu oleh laki-laki yang dia sukai.
"Jujur aku pengen marah, Rif. Aku tau kamu suka sama Kak Stefan, tapi kamu gak boleh mengorbankan temanmu sendiri. Kali ini aku akan memaafkanmu, karena ini baru pertama kali kamu bikin aku kesal, tapi jika di lain hari, kamu masih mengorbankan aku, maka aku gak akan bisa menganggap kamu teman aku. Karena tak ada teman yang mengorbankan teman yang lain demi tujuannya sendiri," ujar Naila. Walaupun masih kesal, ia masih menerima maaf dari Rifa. Karena jika dia ada di posisi Rifa, bisa jadi ia melakukan hal yang sama.
"Terima kasih, Nai. Aku janji, itu pertama dan terakhir kali aku melakukan kesalahan," Rifa memeluk Naila. Ia senang karena Naila tak marah padanya, ia juga janji, tak akan lagi ceroboh. Ia tak akan melakukan sesuatu yang membuat Naila marah padanya.
"Nah karena masalah sudah selesai, jadi kita bisa bergosip lagi kali ini," ujar Rahma.
"Gosip apaan, ini sudah masuk jam sekolah. Ntar lagi guru datang," protes Ayu.
"Kalau mau gosip, nanti aja pas istirahat, biar lebih afdol dan lebih lama gosipnya," ujar Puput membuat Nailla yang menggelengkan kepalanya, tak menyangka ia punya teman yang suka banget bergosip.
"Jiah kamu, Put. Ngomong bijak gitu bikin telingaku gatal," seloroh Firoh sambil pura-pura menggosok telingannya membuat Puput cemberut.
Mereka pun mengobrol santai, hingga guru datang dan semua anak di kelas itu pun diam. Mana berani mereka bicara jika guru sudah berdiri di depan kelas, apalagi dengan wajah datar, membuat mereka seperti mati kutu saja.