Novemberain

Novemberain
Naila dan Rani



Di kelas, Naila berusaha untuk ceria, walaupun ia masih dalam keadaan sedih. Tapi ia sudah mau mengobrol dengan Rani dan juga yang lain, hanya saja ia belum memberitahu mereka apa yang saat sedang terjadi padanya.


Hingga pulang sekolah, Rani meminta ikut puoang ke rumah Naila, Naila pun tak bisa menolaknya akhirnya mereka berdua pulang ke rumah Naila naik sepeda motor.


Sesampai di rumah, Naila mengajak Rani makan siang bersama, sebenarnya Naila males makan, tapi ia juga gak bisa mengabaikan kesehatannya dan membuat bundannya khawatir kalau dirinya sampai sakit.


"Kamu tumben gak kerja?" tanya Rani.


"Malez," jawab Naila. Yah, dia entah kenapa malea banget untuk pergi ke resto, libur sesekali gak papa kan. Tadi dia juga sudah mengirim chat ke tangan kanan bundannya, jadi dua resto itu tetap berjalan lancar walaupun dirinya gak datang ke sana.


"Nai, kamu sebenarnya kenapa tadi pagi?" tanya Rani, sungguh ia sampai detik masih penasaran dengan apa yang terjadi pasa sahabatnya itu.


"Kak Fahmi Ran,"


"Kenapa dengan Kak Fahmi?" tanya Rani.


"Dia meninggal," jawab Naila sendu.


"Kamu jangan bercanda ah, kalau mau lelucon, jangan begini juga, ngeri dengernya," ujar Rani tak percaya.


"Aku serius," ucap Naila


"Kamu beneran?" tanya Rani yang mulai percaya, Naila hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Tapi meninggal kenapa? Kog bisa meninggal?" tajya Rani penasaran.


Dan Naila pun menceritakan semuanya.


"Ya Tuhan ... aku gak menyangka dia akan menunggal di usianya yang masih muda,"


"Hem, aku juga tak menyangka Ran. Aku juga menyesal karena aku gak mengungkapkan isi hati aku, aku mencintainya, tapi aku terlambat untuk mengatakannya,"


"Sabar ya Nai, aku ngerti gimana jadi kamu. Pasti kamu sakit banget dan merasa kehilangan setelah apa yang dia lakukan untuk kamu,"


"Iya, dia laki laki baik Ran, namun Allah uji dia dengan penyakit mematikan. Anehnya dia selalu pura pura baik di depanku, dia selalu pura pura tegar dan masih berusaha memberikan aku perhatian lebih.


Terlalu besar rasa cinta dia untukku, andai Tuhan memberikan aku kesempatan, aku ingin bisa bersamanya dan menghabiskan waktuku bersamanya sampai maut memisahkan.


Namun nasi sudah jadi bubur, dia meninggalkan aku Ran, dia ninggalin aku untuk selamanya,"


"Kamu yang sabar ya Nai, aku juga sedih denger dia udah gak ada, tapi yang jelas dia gak akan merasakan rasa sakit lagi. Dia sudah bahagia di sana, kamu jangan lupa doakan dia setiap selesai sholat,"


"Iya, Ran. Aku akan selalu mendoakannya. Oh ya nanti sore aku mau ke makam Kak Fahmi, kamu mau ikut?" tanya Naila


"Boleh, lagian juga aku gak ada kegiatan sama sekali, oh ya nanti malam boleh ya aku nginep di sini," ujar Rani, ia gak mau meninggalkan Naila di saat hatinya lagi kacau.


"Iya, lagian juga bunda gak ada di rumah. Dan entah kapan pulang. Aku juga kesepian di rumah sendiri," ujar Naila.


"Oh ya Nai, kamu sadar gak?"


"Apa?" tanya Naila.


"Entah kenapa aku merasa, Pak Marfel suka sama kamu," ucap Rani.


"Ngaco kamu Ran, mana mungkin dia suka aku,"


"Aku beneran Nai, saat kamu tadi lagi sedih di kelas, Pak Marfel menatap kamu secara insten, kayaknya dia khawatir banget sama kamu,"


"Ya, mungkin karena dia melihat muridnya menangis, jadi wajar kan jika seorang guru merasa kahwarir terhadap muridnya," ujar Naila.


"Iya juga sih, kamu bener Nai. Kalau aku jadi guru terus lihat muridku nangis, pasti aku juga penasaran dan pengen tau apa yang terjadi dengannya. Tapi entah kenapa aku merasa, dia suka loh sama kamu Nai,"


"Sudahlah, jangan mikir yang macem macem,"


"Aku gak mikir yang macem macem, cuma satu macem,"


"Tau ah, emang kamu tuh susah deh kalau di ajak omong," ujar Naila kesal lalu pergi menuju ruang keluarga dan menghidupkan Tivi.