Novemberain

Novemberain
Kegelisahan Itu Masih Ada



Sepanjang sekolah, Naila merasa gelisah sendiri. Ia terus menelfon nomer Alfa namun tak ada yang mengangkatnya padahal nomernya sudah aktiv, ia chat pun cuma dibaca tapi gak dibalas. Dan itu membuat Naila merasa gelisah sendiri. Hanya Marfel yang rutin kirim pesan beberapa menit sekali. Dan Naila membalasnya hanya sesekali aja, karena fikirannya saat ini lagi tertuju sama Alfa. Bukan bermaksud untuk selingkuh, hanya saja, ia takut Alfa kenapa-napa. Jika dirinya sudah memastikan Alfa baik-baik aja, baru ia bisa tenang dan tak lagi khawatir seperti ini.


"Kamu kenapa, Nai?" tanya Rani yang sedari tadi melihat Naila bolak balik ngintip hpnya dari laci yang berada tepat di bawah meja.


"Enggak ada, Ran. Cuma lagi nunggu kabar dari seseorang aja," jawab Naila tersenyum kaku.


"Oh, pasti orang yang spesial ya?" goda Rani, dan Naila pun menggelengkan kepalanya.


"Bukan," jawabnya dengan raut wajah sendu.


"Lalu?" tanya Rani yang mulai kepo.


"Hanya kenalan aja, cuma aku merasa kini dia gak baik-baik aja."


"Kamu menghawatirkannya?"


"Tentu."


"Itu berarti kamu mencintainya, Nai," ujar Rani dengan suara berbisik karena takut terdengar, pasalnya saat ini, mereka ada di dalam kelas. Dan pelajaran masih berlangsung.


"No. Aku tidak mencintinya, aku hanya sedikit menghawatirkannya."


"Sedikit, apanya? Dari tadi aja kamu kek gelisah gitu," sindir Rani membuat Naila cemberut.


"Aku menghawatirkannya karena dia itu baik sama aku. Emang kalau aku kenapa-napa, kamu gak menghawatirkan teman baikmu ini?" tanya Naila.


"Ya pasti khawatirlah," jawab Rani serius.


"Apa itu artinya kamu cinta sama aku?" tanya Naila lagi.


"Intinya kamu gak cinta kan sama aku?"


"Ya enggak, kalau sayang, iya."


"Dan itu yang aku rasakan, aku tidak mencintainya. Aku khawatir karena terakhir kali dia nelfon aku, dalam keadaan mabuk berat keknya. Dan setelah itu nomernya gak aktiv. Setau aku, dia gak pernah mabuk. Dan jika dia sampai mabuk, itu artinya dia lagi frustasi atau ada masalah berat," ujar Naila. "Dan itu karena aku," lanjut Naila dalam hati.


"Oh, mungkin hpnya mati," ujar Rani santai. Andai dia tau yang dibicarakan oleh Naila adalah Alfa, apakah Rani masih bisa sesantai ini, jika tau yang di khawatirkan oleh Naila saat ini, adalah Alfa. Laki-laki yang sangat di cintai oleh Rani saat ini.


"Hpnya emang mati sejak beberapa hari yang lalu, dan baru aktiv. Hanya saja aku nelfon gak di angkat, terus aku chat pun gak di balas."


"Mungkin dia sibuk, atau dia sengaja menjauh dari kamu, karena dia malu."


"Malu kenapa?"


"Ya mungkin saat dia mabuk dan nelfon kamu, dia mengungkapkan perasaan atau hal yang lainnya. Yang akhirnya membuat dia malu sendiri ketika sadar sudah mengungkapkan sesuatu yang tidak seharusnya."


"Apa ya seperti itu?" tanya Naila.


"Ya mungkin. Aku mana tau," ujar Rani sambil mengangkat bahunya.


Melihat Rani mengangkat bahu, membuat Naila hanya menghela nafas kasar karena itu artinya, apa yang dikatakan Rani, belum tentu benar. Tapi Naila berharap, Alfa emang sengaja menjauh darinya karena malu. Bukan karena dia yang kenapa-napa.


Rani fokus kembali ke depan sedangkan Naila juga ikut menatap sang guru yang tengah menjelaskan di depan. Entah kenapa, Naila gak ada semangat buat mendengar ataupun mencoba memahami apa yang gurunya itu jelaskan.


Saat jam istirahat tiba, Naila memilih untuk diam di kelas, karena dia gak mood untuk makan makanan kantin, lagian perutnya masih kenyang setelah tadi pagi sarapan bersama sang Bunda.