Novemberain

Novemberain
Membeli Hadiah



Hari Minggu, Naila bangun pagi. Bahkan walaupun ia tengah datang bulan, ia tetap bangun pagi, lalu bantu sang Bunda memasak, lalu sarapan pagi bareng. Habis makan, barulah Naila cuci baju sama kora-kora sedangkan Bunda bagian nyapu, ngepel dan bersih-bersih rumah yang berantakan.


Setelah selesai semua, Naila dan Bunda Ila duduk santai di belakang rumah sambil lihat tanaman, duduk di belakang rumah emang enak, soalnya anginnya itu sepoi-sepor, jadi udaranya seger, karena banyak tumbuhan dan tanahnya pun basah karena di siram oleh Naila.


"Bun," panggil Naila.


"Iya, ada apa?" tanyanya ramah sambil nyemil keripik.


"Nanti jam tiga sore, aku ada acara," jawabnya memberitahu.


"Acara apa?" tanya sang Bunda.


"Itu orang tua temannya aku annyversary katanya, terus dia ngundang aku. Sebenarnya aku malas datang, tapi karena aku dipaksa terus, jadinya aku harus datang deh," balasnya cemberut. Karena sejujurnya ia emang malas untuk kemana-mana kalau pas hari libur gini.


"Ya sudah datang aja, kalau di undang."


"Tapi aku males datang, Bun."


"Gak boleh gitu, Sayang. Lagian kan gak setiap hari kamu datang ke sana. Terus kalau temen kamu ngundang kamu, itu berarti kamu spesial di matanya."


"Iya, tapi Alexa malah ingin jodohin aku sama saudara laki-lakinya, kan aneh. Bahkan dia nyuruh aku milih, mana yang disukai, aneh kan dia," ujar Naila cemberut, berbeda dengan Bunda Ila yang terkekeh mendengar perkataan putrinya itu.


"Itu mungkin karena Alexa ingin kamu jadi iparnya sayang."


"'Tapi aku yang gak mau, lagian umur aku masih sembilan belas tahun. Aku juga gak mau nikah sama sembarangan orang, apalagi orang yang gak aku cintai," tutur Naila yang masih kesal dan cemberut.


"Iya sudah, kalau kamu emang gak suka, bicara baik-baik, gak perlu cemberut gitu. Semua masalah bisa di atasi, Bunda juga percaya, Alexa gak akan memaksa kamu jika kamu emang gak mau. Jadi orang itu harus sabar, jangan kemakakn emosi, gak baik." Bunda Ila berusaha menasehati putrinya agar tak mudah cemberut dan emosi hanya karena hal sepele.


"Iya, Bunda."


"Kadonya sudah beli?" tanya Bunda Ila.


"Emang harus bawa kado ke sana, ini kan bukan ulang tahun, Bun."


"Tapi tetap saja, harus bawa Nai. Ya ampun, gak mungkin kamu ke sana dengan tangan kosong kan," ujar Bunda Ila geleng-geleng kepala.


"Ya habis mau ngapain coba, kan yang penting hadir, Bun."


"Astaga, kamu itu. Sudalah, ganti baju dulu sana, ayo kita ke Mall."


"Ngapain, Bun?" tanya Naila bingung.


"Ya buat beli kado dong, Nai. Sudahlah jangan banyak tanya, ayo cepetan, takutnya waktunya gak cukup," ucap Bunda Ila dan Naila pun menganggukkan kepala. Ia segera pergi ke kamar untuk ganti baju dan memoles wajahnya agar tak pucat.


Dan akhirnya Naila dan Bunda Ila pun pergi ke Mall menggunakan mobil Naila, tentu Naila juga yang menyetir, tak mungkin ia menyuruh sang bunda yang nyetir mobilnya.


Di Mall, Bunda Ila langsung pergi ke toko sandal. Di sana Bunda Ila membeli Sandal Refleksi yang merupakan sandal terapi kesehatan yang punya banyak multifungsi seperti memberikan efek relaksasi pada titik akupuntur. Tak heran harganya cukup mahal yaitu 970 ribu lebih. Namun karena ini hadiah khusus buat orang tua teman putrinya, Bunda Ila pun tak mempermasalahkan.


Lalu Bunda Ila juga membeli cangkir modern untuk melengkapi momen santai. Nah untuk cangkir ini hanya berisi dua cangkir, dua piring kecil dan dua sendok. Dan harganya pun sebesar 285 ribu.


Dan terakhir Bunda Ila membelikan batik couple yang elegant dan modis buat suami istri yang umurnya sudah menua. Dan baju batik itu bisa di pakai saat ada acara keluarga, atau kondangan atau acara-acara lainnya. Dan batik couple itu harganya cukup mahal lima juta ke atas karena memang kainnya bagus dan di jahit manual. Sehingga membuatnya terlihat sangat elegant sekali.


Setelah selesai, Bunda Ila mengajak Naila yang sedari tadi berjalan di belakangnya untuk makan di resto karena ini sudah jam setengah dua belas siang. Memang ya kalau sudah ke Mall, suka lupa waktu. Ngerasa bentar, padahal sudah berjam-jam.


Di resto, Bunda Ila dan Naila memesan makanan dan minuman dan saat mereka baru makan. Tiba-tiba ada yang menyapanya.


"Naila," ucapnya. Dan Naila pun langsung menoleh ke asal suara.


"Tante Arini," sapanya sambil mencium pungung tangan Arini dengan lembut.


"Jeng Arini." Bunda Ila pun menyapa Mamanya Alfa itu. Karena dulu mereka sudah bertemu walaupun sekali, jadi tak mungkin Bunda Ila pura-pura lupa.


"Ah Jeng Ila. Gimana kabarnya?" tanya Arini sambil berjabat tangan dengan Bunda Ila sambil memeluknya sebentar, tak lupa cipika-cipiki.


"Alhamdulillah sehat juga," ujar Arini ramah.


Lalu Naila dan Bunda Ila juga menyapa Alfira, adiknya Alfa.


"Ayo jeng, gabung sini," ucap Jeng Ila sambil menepukk kursi kosong yang ada di dekatnya.


"Wah, saya sudah habis makan, Jeng. Ini juga buru-buru mau pulang, soalnya ada acara keluarga," tutur Arini karena memang ia juga sudah dari tadi berada di Mall itu dan karena lelah, jadi Alfira minta beli jus sambil duduk bentar, karena kakinya yang terasa sakit, dari tadi jalan kesana-kemari. Dan akhirnya karena gak tega, Arini pun memesan minuman di resto itu agar putrinya itu bisa duduk lebih lama.


"Oh gitu, hati-hati jeng pulangnya."


"Iya, Jeng."


"Nai, Tante pulang dulu ya,"


"Iya, Tan. Hati-hati di jalan."


"Iya."


Dan setelah itu, Naila pun mencium punggung tangan Arini lagi, sedangkan Alfira juga melakukan hal yang sama, ia mencium punggung tangan Naila dan Bunda Ila.


Setelah itu, Arini dan putrinya pun pulang karena mereka buru-buru. Sedangkan Bunda Ila dan Naila meneruskan makanannya yang terhenti karena kedatangan mereka.


Setelah selesai makan, mereka pun bergegas pulang. Sesampai di rumah, Bunda Ila menyuruh Naila untuk mandi dan istirahat bentar, biar nanti gak pusing. Naila pun mengangguk setuju. Sedangkan Bunda Ila, ia membungkus kadonya sebagus mungkin agar tak membuat putrinya malu. Ia ingin selalu memberikan yang terbaik putrinya.


Setelah selesai, ia menaruhnya di meja ruang keluarga. Lalu setelah itu, Bunda Ila pun masuk ke kamarnya untuk istirahat juga.


Jam setengah tiga, Naila bangun. Ia segera mandi dan bersiap-siap. Ia menggunakan baju warna kuning sehingga membuat Naila bersinar. Karena kulitnya yang seputih susu, di tambah ia memakai gamis kuning dan hijab kuning, tas putih. Sehingga Naila benar-benar tampak bersinar. Bahkan ketika Bunda Ila lihat pun juga ikut terpanah dengan kecantikan putrinya itu.


"Ya ampun, ini bener Naila putri, Bunda. Kenapa cantik sekali?" tanya Bunda Ila membuat Naila malu.


"Apaan sih, Bun. Aku mah biasa aja kali, Bun," ujar Naila merendah.


"Tapi beneran deh, kamu cantik banget sayang, make up nya natural, lipstik kamu pun bagus."


"Aku cantik karena Bunda juga cantik," ujar Naila membuat Bunda Ila terkekeh.


"Iya sudah sana berangkat, ini sudah hampir jam tiga loh, kamu bilang acaranya di mulai jam tiga."


"Hehe iya, Bun. Kayaknya aku telat deh,"


"Gak papa, yang penting datang."


"Iya, Bun. Aku pamit ya."


"Iya, jangan lupa kadonya di bawa, sudah Bunda bungkusin serapi mungkin."


"Makasih ya, Bun."


"Sama-sama, Sayang."


"Aku berangkat ya."


"Ya, hati-hati di jalan."


"Iya, Bun."


"Asaslamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dan setelah itu, Naila pun berangkat sambil membawa kadonya. Ia mengemudi mobilnya sendiri dan saat ia menghidupkan hpnya, sudah banyak chat dari Alexa. Naila pun segera membalasnya dan mengatakan ia akan segera sampai, walaupun sebenarnya ia baru saja keluar dari rumah hehe.