
Sepulang sekolah, Naila pergi ke resto dengan naik taxi online. Biasanya Marfel yang akan menjemputnya, sekalian Marfel akan pergi ke kantornya. Hanya saja saat ini ada rapat guru, sehingga Marfel meminta Naila untuk pergi lebih dulu, karena tadi pagi Naila berangkat bareng Marfe.
Sedangkan sepeda motor miliknya ada di rumahnya dan sudah lama gak kepakek, gara-gara Marfel yang suka antar jemput dirinya layaknya sopir. Namun walaupun begitu, setiap pagi, Naila tak pernah lupa untuk memanasi sepeda motor itu.
Naila akan langsung pergi ke resto, karena ia sudah menyiapkan baju ganti, jadi ia tak perlu pulang ke rumah dulu. Lagian ia malas buat pulang, toh di rumah sepi gak ada siapa-siapa. Bundannya juga belum pulang karena masih harus mengurus cabang di Bali.
Di resto, Naila menyapa semua karyawan yang ada di sana, lalu ia masuk ke dalam ruangannya untuk ganti baju dan mulai bekerja. Sesekali ia akan keluar dan memantau secara langsung karyawan ada di sana. Ia tak ingin jika melihat sedikit kesalahan dari mereka, ia tak ingin jika sampai ada pelanggan yang tak puas karena rasa ataupun karena kebersihkan atau karena keramahan karyawan yang kerja di sana.
Sungguh, Naila ingin memberikan yang terbaik, dari segi pelayanan, kenyamanan dan kebersihan.
Karena dengan begitu, resto ini akan terus berjalan dan di minati banyak orang.
Naila juga mengecek setiap setok bahan, masih ada atau kurang. Jika kurang, ia akan segera memesannya, jangan sampai sudah habis baru mesen. Setidaknya, harus mesen jika sudah sisa sedikit.
Naila juga tak akan segan menegur siapapun yang menurutnya cara kerjanya tak sesuai.
Sungguh, walaupun Naila masih SMA tapi jika menyangkut pekerjaan, ia tak akan pernah main-main.
Setelah puas mengecek semuanya, ia kembali ke dalam ruanganya dan menghidupkan komputer.
Namun baru aja bekerja, tiba-tiba ia mendapatkan telfon dari seseorang.
"Sayang," panggil seseorang. Naila mengerutkan dahi dan mengecek di layar HPnya, dan benar itu nomer Marfel, tapi kenapa yang menelfon mamanya.
"Naila, kamu denger suara Tante?" tanyanya lagi, membuat Naila tersadar dan segera menjawabnya.
"Iya, Tante. Ada apa?" tanya Naila gugup.
"Nak, Tante cuma mau bilang kalau Marfel kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit,"
"Astagfirullah. Terus gimana keadaan Marfel, Tan?" tanya Naila panik.
"Dia belum sadar sampai sekarang, bisakah kamu datang ke sini?" tanyanya.
"Bisa, Tan. Mas Marfel di rawa di mana?"
"Di Rumah Sakit Citra Abadi, di kamar nomer enam."
"Baiklah, aku akan segera ke sana, Tan."
Naila segera mematikan kembali komputernya. Dan setelah itu, ia segera pamit ke beberapa karyawan yang ada di sana. Lalu ia segera memesan taxi online dan pergi menuju Rumah Sakit Citra Abadi.
Sepanjang jalan, Naila merasa takut, cemas dan juga sedih. Ia tak ingin kehilangan Marfel seperti ia kehilangan Fahmi dulu. Ia tak ingin kehilangan lagi untuk kesekian kalinya.
Walaupun ia belum mencintai Marfel, namun ia sudah cukup nyaman berada di dekat laki-laki itu. Laki-laki yang beberapa terakhir ini selalu ada untuknya dan selalu mengacaukan hari-harinya.
Sesampai di rumah sakit, Naila segera membayar sang sopir, baru setelah itu, ia berlari menuju rumah sakit. Ia tak perlu nanya ke resepsionis di kamar apa Marfel di rawat, karena tadi ia sudah di beritahu oleh Tante Maria-Mamanya Marfel.
"Tante, gimana keadaan Mas Marfel?" tanya Naila panik.
"Dia masih ada di dalam, Nak."
"Kenapa ini bisa terjadi, Tan?" tanyanya penasaran. Air mata juga mengalir di pipinya.
"Dia mengalami kecelakaan, katanya orang-orang yang membawanya ke sini, ada kucing yang menyebrang sembarangan, dan Marfel beruasaha untuk menghindarinya. Tapi sayangnya, saat banting setir, ia menabrak pohon di pinggir jalan. Dia sempat sadar sebentar, tapi akhirnya ia tak sadarkan diri. Untungnya, Hp dan tasnya juga aman, tak ada yang mengambilnya. Makanya Tante bisa menelfon kamu," ucapnya menjelaskan.
"Terus Pak Atmaja kemana?" tanya Naila.
"Om lagi ada di kantor polisi untuk mengurus mobil milik Marfel," jawabnya. Naila menganggukkan kepala, ia mengerti. Memang jika ada kecelakaan, biasanya kendaraan akan di bawa ke kantor polisi untuk di amankan. Apalagi itu mobil milik Marfel, selain mahal itu juga mobil kesayangannya, tentu Pak Atmaja akan mengurus semua itu.
Tak lama kemudian, sang dokter membuka pintu UGD. Dan Tante Maria langsung menghampirinya.
"Dok, bagaiimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Tante Maria menangis.
"Keadaan Pak Marfel, Alhamdulillah baik. Walaupun sedikti ada benturan di kepala, tapi gak papa. Lukanya sudah di jahit, sebentar lagi akan segera sadar," ujar dokter tersebut tersenyum.
Mendengar hal tiu membuat Naila dan Tante Maria lega, setidaknya tak ada luka serius yang membuat Marfel harus operasi.
"Bolehkah saya masuk, Dok?" tanya Tante Maria.
"Silahkan."
Dan setelah itu, Tante Maria dan Naila pun masuk ke dalam dan melihat Marfel yang belum sadarkan diri.
Tante Maria memeluk putranya itu dan menangis sambil memeluknya. Sedangkan Naila hanya diam, bagiamanapun ia adalah orang luar, ia tak punya hak untuk mendekatinya. Jadi ia memilih untuk menghampiri Marfel belakangan aja.
Tak lama kemudian, Pak Atmaja datang untuk menjenguk putranya itu karena urusan dengan polisi sudah kelar.
"Ma, gimana keadaan Marfel?" tanyanya.
"Alhamdulillah anak kita gak papa, Pa. Hanya mendapatkan jahitan aja di kepalanya, mungkin karena kepalanya terbentur dengan kemudinya sampai terluka dan keluar darah," balasnya menjelaskan.
"Syukurlah, Papa dari tadi gak tenang, makanya Papa buru-buru ke sini setelah menyelesaikan urusan di kantor polisi," ujar Pak Atmaja.
"Naila kamu di sini juga?" tanya Pak Atmaja melihat Naila yang berdiri agak jauh dari brankar.
"Iya, Pak," jawab Naila gugup.
"Jangan panggil, Pak. Panggil Om aja, ini kan bukan di sekolah lagi," ujar Pak Atmaja tersenyum dan Naila pun menganggukkan kepala
Lalu Tante Maria memberikan kesempatan buat Naila untuk menghampiri Marfel. Bahkan Tante Maria dan Pak Atmaja keluar dari ruangan itu, agar Naila bisa leluasa menemani putranya.