
Naila masuk ke dalam kamarnya untuk mandi, pakai baju lalu sholat. Selesai sholat, Naila duduk sebentar sambil mencoba nelfon Alfa lagi namun tetapi belum terhubung. Naila pun mengirim pesan dan entah sudah ke berapa kalinya, mungkin sudah ada sekitar tiga puluh pesan yang ia kirim sejak tadi malam dan tak ada satupun yang di balas karena memang baru centang satu.
Naila hanya bisa menghela nafas, ia hanya bisa berharap Alfa baik-baik aja. Ia cuma bisa memohon sama Tuhan sang maha pencipta agar bisa menjaga dan melindungi di manapun Alfa berada.
Naila menaruh hpnya di meja kamar, lalu ia mulai beres-beres rumah, membersihkan semua debu, dan menyapu serta mengepel semua lantai. Ia juga membersihkan semua jendela agar bersih mengkilap. Tak lupa ia juga mengganti semua gorden dengan yang ada di lemari, sedangkan gorden yang kotor ia taruh di mesin cuci bersama dengan bajunya yang kotor.
Setelah selesai membersihkan semua debu, nyapu, ngepel, membersihkan jendela dan lain sebagainya. Naila juga menyapu di halaman rumah dan sekelilinnya serta menyiram semua tanaman yang hampir mati karena di tinggal beberapa hari.
Rumahnya pun terasa sejuk, mungkin karena tanah halamannya yang kini basah. Sehingga udaranya semakin dingin dan segar.
Setelah selesai menyiram tanaman, Naila lanjut mencuci baju pakai mesin cuci, sambil nunggu cuciannya selesai, Naila membersihkakn ruang tamu, kamar Bundannya dan kamar miliknya dan mengganti semua sprai dan juga sarung bantal dan guling untuk ia cuci juga. Sehingga kamar itu pun tampak bersih dengan sprai baru dan sarung bantal dan sarung guling baru.
Naila membawa sprai dan yang lainya ke keranjang karena gak bisa di satukan sama yang tadi, karena sudah terlalu penuh. Jadi harus gantian.
Setelah menaruh sprai kotor di keranjang, Naila lanjut membersihkan dapur dan mencuci kembali piring dan gelas serta peralatan dapur lainnya agar mengkilap semua.
Naila terus saja memastikan tak ada satupun yang kotor ataupun berdebu, ia memastikan dari depan rumah sampai semua ruangan bersih semua, begitupun dengan sekeliling rumahnya.
Dua jam kemudian, semua cucian pun selesai. Dari cucian pertama sampai cucian kedua, dan kini dengan susah payah, Naila menjemur semua baju-bajunya itu di samping rumah, begitupun dengan gorden, sprai, sarung bantal, sarung guling dan lap-lap yang tadi sempat ia cuci, semuanya di jemur di samping rumah.
"Hhhhh ... akhirnya selesai juga," ujar Naila dengan nafas terengah-rengah karena merasa kelelahan. Tapi setidaknya ia senang karena kini rumahnya sudah bersih dan harum, apalagi tadi ia menyemprotkan parfum ruangan di ruang tamu, ruang keluar, di semua kamar, dapur dan yang lainnya.
Jam setengah lima sore, Naila mandi terus sholat. Selesai sholat, Naila menutup semua jendela dan semua pintu karena ini sudah sore dan gak baik jika di biarkan terbuka. Sambil nungu adzan maghrib, Naila pun mengaji di kamarnya.
Tak terasa adzan maghrib berkumandang, Naila segera sholat maghrib dan setelah itu ia melanjutkan baca Al Quran sekitar lima belas menit. Baru setelah itu, Naila menutup Al Qur'annya dan menaruh di tempatnya, begitupun dengan mukenahnya, ia segera melipatnya dan menaruh di tempatnya agar tak berantakan.
Naila pergi ke kulkas dan ternyata isi kulkas kosong, dan jika pun ada itu sudah gak enak karena sudah cukup lama gak di pakai. Naila mengeluarkan isi kulkas dan membuangnya di sampah depan. Setelah itu, Naila membersihkan kulkas hingga tampak seperti baru beli.
"Kayaknya aku harus ke supermarket deh," ujar Naila. Ia pun segera menghambil hijabnya dan mengambil tas kecil yang berisi dompet dan hp. Ia memesan taxi online menuju supermarket terdekat.
Di supermarket, Naila membeli beras sepuluh kilo, berbagai macam sayuran, daging, ikan,berbagai macam buah, bumbu dapur, camilan, susu dan ada makanan instant juga seperti sosis, segala macam mie, terus juga nugget dan yang lainnya.
Tak terasa satu keranjang sudah full, padahal Naila pakai keranjang besar. Yang bisa di dorong. Setelah merasa cukup, Naila langsung pergi ke kasir dan untungnya sepi. Sehingga tanpa menunggu giliran.
Setelah nunggu beberapa menit, Naila pun membayar satu juta tiga ratus lima puluh delapan ribu. Cukup banyak juga belanjaanya. Sang satpam yang melihat Naila kewalahan, akhirnya membantu Naila membawa semua belanjaannya ke taxi yang menunggu Naila sedari tadi. Memang Naila meminta taxi itu menunggu, tentu dengan uang berbeda seperti berangkatnya tadi.
"Maaf ya, Pak. Lama," ucap Naila gak enak hati karena emang setengah jam lebih ia berada di dalam supermarket.
"Enggak papa, Non. Santai aja," ujar sang sopir yang memang terlihat penyabar. Ia juga dari tadi memanfaatkan waktu dengan vidio call anak dan istrinya sehingga tak bosan walaupun cukup lama menunggu.
Sepanjang jalan, Naila hanya menaruh kepalanya di kursi sandaran, ia memejamkan matanya, rasanya hari ini ia benar-benar lelah sekali.
Tak terasa sudah sampai di depan rumahnya, Naila menurunkan barangnya satu persatu di bantu oleh sang sopir.
"Ini, Pak. Makasih ya," ujar Naila sambil memberikan uang cash dua ratus ribu.
"Mbak, ini kebanyakan."
"Enggak papa, buat anaknya bapak aja lebihnya."
"Makasih, Mbak."
"Sama-sama."
"Saya pamit, Mbak."
"Iya, Pak."
Dan setelah itu, Naila membuka pintu rumahnya dan memasukkan hasil belanjaannya tadi ke dalam rumah, tanpa mau buang waktu, setelah menaruh tas dan hp di kamarnya, Naila mulai menata semua belanjaanya itu ke dalam kulkas dan lemari.
Setelah selesai, ia mengambil pocari sweet yang masih dingin dan ia minum hingga menyisakan setengahnya. Dan setengahnya ia taruh di kulkas, agar tetap dingin.
"Alhamdulillah selesai juga, tapi masih lapar. Pengen nasi, tapi males masak," ujar Naila, ia melihat cemilan yang ia tata di rak sehinga tanpak seperti toko, namun sayangnya tak ada satupun yang ia minati. Karena ia ingin makan nasi dan lalapan, ya itulah yang kini ada dalam fikirannya.
"Nanti aja deh belinya, sekarang istirahat dulu," ujar Naila sambil duduk di ruang tengah dan nonton tivi.
Namun baru aja duduk beberapa menit, ada yang mengetuk pintu. Dengan malas, Naila pun membuka pintu itu. Dan betapa kagetnya Naila melihat ada Marfel dan kedua orang tuanya.
"Asssalamualaikum," ucap mereka kompak.
"Waalaikumsalam." Naila mencium tangan mereka bertiga secara bergantian.
"Masuk Om, Tante, Mas Marfel," ujar Naila sambil membuka pintu lebar-lebar.
"Astaga, untung aku tadi sudah bersih-bersih," ucap Naila dalam hati.
"Silahkan duduk dulu Om, Tante, Mas," ujar Naila sambil pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
Walaupun lelah, tapi Naila tetap membuatkan teh hangat untuk mereka bertiga, walaupun banyak minuman di kulkas, tapi rasanya kurang etis kalau mengeluarkan minuman botolan itu.
Tak lupa Naila juga mengeluarkan beberapa cemilan dan kue yang sempat ia beli, dan menatanya di piring dengan rapi dan membawanya ke ruang tamu. Nai juga membawakan beberapa buah, walaupun belum tentu di makan, setidaknya Nai sudah berusaha menjamu mereka sebaik mungkin.
"Rumah kamu bersih, Nai. Sejuk, Tante betah rasanya di sini," ujar Ibu Maria karena sejak turun dari mobil, rasanya sangat asri banget apalagi tanah di luar masih basah dan dari depan aja terlihat bersih sekali. Apalagi saat masuk ke dalam rumah, ada aroma lavender membuat Ibu Maria rasanya betah lama-lama di sana.
"Hehe Iya, Tan," ucap Naila yang bingung mau ngrespon gimana karena ia pun masih gugup dengan kedatangan mereka bertiga.
"Ah, andai kalian datang tadi sore, mungkin rumah ini masih berantakan dan bauk apek karena beberapa hari gak di sapu," gumam Naila dalam hati.
"Oh ya Nai. Ini tadi Tante masakin buat kamu, takutnya kamu belum makan," tutur Ibu Maria sambil memberikan makanan buat Naila.
"Makasih, Tante. Sejujurnya aku emang belum masak, dan tadinya mau beli makanan di luar. Untungnya belum berangkat," balas Naila jujur. Ia menaruh makanan itu di meja di belakang kursi, karena ada meja kecil di sana. Dan akan ia makan nanti jika tamunya sudah pulang, karena walaupunn ia lapar saat ini, ia tak mungkin langsung makan gitu aja, rasanya kurang etis dan gak enak dilihat.
"Bunda kamu kapan mau datang, Nai?" tanya Pak Atmaja.
"Belum tau, Om. Soalnya Bunda belum ngasih tau, tapi nanti misal Bunda datang, Nai akan ajak Bunda ke rumah Om dan Tante untuk silaturahmi," sahut Naila sopan.
Sejujurnya tadi yang punya ide mau ke rumah Naila adalah Ibu Maria. Awalnya Pak Atmaja dan Marfel menolak, tapi karena Ibu Maria bilang mau berangkat sendiri, akhirnya mereka pun ikutan datang ke sini.
Mereka pun mengobrol santai, Naila juga mengajak Ibu Maria melihat-lihat isi rumahnya, karena Naila sendiri juga sudah melihat isi rumah mereka. Marfel pun ikutan, hanya Pak Atmaja yang tetap diam di ruang tamu karena tak mau ikut-ikutan mereka.
Ibu Maria merasa takjub walaupun Naila baru pulang dari rumahnya hari ini, tapi sekarang rumahnya mengkilap semua, tak ada debu yang nempel bahkaan semua ruangan harus lavender. Barang-barangnya juga tertata rapi.
"Itu camilan banyak banget, Nai," ujar Ibu Maria melihat ada camilan yang di tata di rak.
"Hehe iya, Tan. Itu aku baru beli tadi di supermarket, langsung aku tata disana. Soalnya kalau malem, saat ngerjakan tugas, aku sering nyemil untuk menghilangkan rasa ngantuk," jawab Naila.
Mendengar jawaban Naila, Marfel pun berjanji akan sering-sering mengirimkan cemilan buat Naila.
"Itu cucian kamu banyak banget, Nai?" tanya Ibu Maria karena hampir di samping rumahnya itu pakaian yang masih banyak.
"Iya, Tan. Soalnya tadi semua gorden, sprai, sarung bantal, sarung guling, lap, dan baju-baju yang kotor aku cuci semua," ucap Naila dan Ibu Maria pun mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi kamu belum istirahat sejak pulang sekolah?" tanya Ibu Maria lagi dan Naila pun hanya tersenyum.
"Jangan terlalu capek, Nai. Nanti kamu sakit lagi, kerjakan satu-satu aja, di cicil," tutur Ibu Maria mengingatkan.
"Iya, Tan. Tadi aku kerjakan, maksud Naila biar sekalian capeknya," balas Naila.
"Masih mau ke resto malam ini?" tanya Ibu Maria lagi.
"Kayaknya enggak, Tante. Soalnya ini juga sudah malam, entar lagi juga resto sudah mau tutup, biar besok aja sepulang sekolah," sahut Naila lagi.
Setelah puas lihat-lihat, Ibu Maria, Marfel dan Naila pun kembali ke ruang tamu. Di sana mereka mengobrol hampir sejam, dan karna sudah malam, mereka pun pamit pulang. Tak lupa Pak Atmaja meminta maaf karena ganggu Naila. Naila pun menjawabnya dengan sopan, bahwa dirinya senang dengan kedatangan mereka, apalagi Ibu Maria membawakan makan malam di saat dirinya emang belum masak. Tak ada rasa sungkan, Naila bicara jujur dan apa adanya.
"Besok Tante bawakan sarapan pagi ya, biar nanti di tititpkan ke Marfel," ucap Ibu Maria sebelum masuk mobil.
"Enggak usah repot-repot, Tante. Tadi Nai sudah belanja banyak, eman kalau gak di masak, mungkin lain kali aja," balas Naila dan Ibu Maria pun menganggukkan kepala, tidak mau memaksa.
"Aku pulang dulu ya, Nai. Kalau ada apa-apa, jangan lupa telfoon aku," ujar Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.
"Makasih ya, Mas."
"Iya, nanti aku telfon kamu boleh?" tanya Marfel dan Naila pun menganggukkan kepala.
"Boleh, kok."
Dan setelah itu, Marfel pun masuk ke dalam mobil, ia duduk di belakang kemudi. Sedangkan Pak Atmaja duduk di samping Marfel. Ibu Maria sendiri duduk di kursi belakang.
"Om pulang dulu ya, Nai. Kamu hati-hati, kunci semua pintu dan jendela, takutnya ada orang masuk," ujar Pak Atmaja mengingatkan.
"Iya, Om."
Dan setelah itu, mereka pun pulang. Naila segera masuk ke rumah dan tak lupa mengunci semua pintu dan jendela. Lalu dirinya segera mengambil makanan dari Ibu Maria dan makan di ruang keluarga sambil nonton tivi. Selesai makan, ia segera mencuci tempatnya dan membersihkan ruang tamu.
Setelah selesai semuanya dan perut kenyang. Naila mematikan tivinya, ia pergi ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah dan mengerjakan pekerjaan yang di kirim oleh orang kepercayaannya. Tak lupa jika nanti Naila masih belum ngantuk, ia ingin update cerita, walaupun hanya satu atau dua bab saja.
Dan di saat Naila tengah sibuk mengerjakan tugas, Marfel pun vidio call. Naila mengangkatnya dan menaruh hpnya di depannya, ia mengobrol dengan Marfel sambil fokus mengerjakan tugasnya. Marfel pun tak mempermasalahkan, walaupun Naila hanya menatapnya sesekali saja, karena ia terlalu fokus mengerjakan tugas.
Tak terasa Marfel sudah sudah jam nelfon, namun Marfel tak mau mematikannya karena ia masih ingin melihat Naila mengerjakan pekerjaannya. Ya setelah menyelesaikan tugas sekolah, Naila langsung buka laptop dan mengerjakan pekerjaannya yang berkaitan dengan resto tentunya. Sesekali Naila menjawab pertanyaan Marfel namun Marfel kebanyakan diam, karena tak mau mengganggu Naila yang tengah fokus. Bagi Marfel, bisa natap Naila aja sudah seneng banget. Dari pada dirinya hanya diam sendirian di kamar dan bingung mau ngapain, sedangkan semua pekerjaan Marfel pun sudah selesai di kerjakan tadi sore.
Setelah mengerjakan pekerjaannya, Naila lanjut buat cerita. Dan tak terasa jam satu malam. "Mas, aku sudah ngantuk, kita udahin dulu ya. Lanjut besok lagi," ujar Naila sambil menguap, ia mematikan laptopnya dan mencopot charget laptop.
"Iya, met bobok ya sayang. Semoga mimpi indah."
"Iya, Mas."
Dan setelah itu, Naila pun mematikan HPnya yang terasa panas karena kelamaan vidio call. Gara-gara kesibukannya Naila sampai lupa dengan Alfa.
Naila langsung mengambil wudhu dan sholat isya, setelah itu, ia pun langsung naik ke atas tempat tidur dan tak lama kemudian, ia pun terlelap karena sangking lelahnya.