Novemberain

Novemberain
Merasa Terkekang



Keesokan harinya, Naila berangkat sekolah sendiri pakai sepeda motornya, untungnya sepeda motornya setiap kali ada di resto, kadang ada karyawan yang rela mengantarkannya ke garasi Naila dan menguncinya di sana. Memang karyawan di sana, sudah seperti keluarga. Dan Naila pun tak merasa takut, mereka akan muncuri atau apapun. Karena baginya, selama dirinya baik, mereka juga pasti baik. Selama Naila menghargai mereka, menjaga perasaan mereka, menolong mereka saat mereka susah, pada akhirnya akan ada timbal balik, ya mereka juga menghormati Naila walaupun umur Naila masih muda. Mereka juga baik dan mau menolong Naila. Itulah kenapa kita harus menjadi orang baik, karena perbuatan baik yang kita lakukan, juga akan memberikan kebaikan kepada diri kita sendiri.


Setelah Naila berangkat, Bunda Ila pun juga langsung pergi menuju Bali. Toh lama-lama di sini, juga gak ada yang di tungguin karena Marfel ada urusan dan tengah berduka. Sedangkan dua resto yang ada di sini juga baik-baik saja, dan ada Naila yang akan mengurus dan membantu dirinya memantau restorannya. Entah kenapa dalam hati kecil Bunda Ila, ia merasa berssyukur Marfel tidak datang, karena itu artinya Naila tidak akan menikah muda. Bunda Ila malah berharap Naila menyelesaikan dulu sekolahnya sampai dia menjadi seorang dokter, atau paling tidak, menyelesaikan sarjananya dulu.


Lagian Naila masih terlalu muda untuk menjalani hubungan yang cukup serius, apalagi umurnya bahkan belum genap delapan belas tahun, Naila terlalu kecil untuk menanggung beban berat, karena bagaimanapun menikah tentu bukan hanya harus siap fisik dan materi, tapi juga harus siap mental. Dan Bunda Ila gak mau, Naila harus sakit hati karena memikirkan beban berat. Ia ingin Naila menikmati masa mudanya, tanpa harus memikirkan suami, mertua, dan anak jika Naila hamil. Sungguh, Bunda Ila ingin Naila menggapai impiannya dulu, ia ingin Naila menjadi orang sukses seperti yang ia dan suaminya inginkan.


Naila sudah sampai di sekolah, ia langsung memarkirkan sepeda motornya dan langsung pergi ke kelas. Orang pertama yang ia temui adalah Rani. Rani yang lagi mengobrol dengan Rifa, dan teman-teman yang lain langsung menoleh ketika melihat kedatangan Naila. Mereka pun menyapa Naila dan Naila menyapa mereka semua seperti biasa.


Dan sekarang, Naila tak lagi merasa galau atau apapun. Sudah tak ada lagi raut wajah sedih seperti kemaren. Kini Naila sudah ceria lagi, walaupun ia masih sedih karena Alfa yang masih sakit, tapi setidaknya ia tau dan bisa melihat langsung keadaan Alfa, tanpa harus memikirkan yang enggak-enggak. Dan lagi, walaupun ia sedih karena Marfel gak datang melamarnya tadi malam, tapi kata-kata Bundannya tadi pagi membuat Naila tak lagi memikirkan hal sepele seperti itu. Masih ada banyak hal yang harus dilakukan, jadi dari pada hanya bersedih yang tak ada gunanya, mending Naila memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat dan membuat hatinya bahagia.


"Rani, nanti kamu pulang sekolah ada acara?" tanya Naila.


"Tumben nanya gitu, Nai? Mau ngajak aku jalan-jalan ya," ujar Rani dan Naila pun menganggukkan kepala. Walaupun sebenarnya bukan jalan-jalan sih, tapi ke rumah sakit, tapi pulangnya bisa jalan-jalan kok kalau Rani emang mau.


"Tapi maaf ya, aku gak bisa."


"Kenapa?"


"Aku terlanjur janji sama Ibuku mau menemani dia ke rumah temennya.'


"Owh gitu ya, kalau besok?"


"Besok kan Minggu. Aku bebas."


"Baiklah, gimana kalau besok aku ajak kamu keluar."


"Oke, kamu jemput aku ya," pinta Rani dan Naila pun menganggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka pun diam karena bell sudah berbunyi dan guru pun sudah hadir di dalam kelas. Tak seperti kemaren, saat ini Naila mulai fokus mendengarkan gurunya yang menerangkan di kelas, dan beberapa kali ia bertanya jika tidak ada yang mengerti. Naila juga mencatat point-point pentingnya saja, agar bisa ia pelajari lagi saat di rumah.


Saat jam istirahat tiba, Naila dan teman-temannya pun pergi ke kantin. Sambil nunggu pesanan datang, Naila menghidupkan datanya dan ada beberapa pesan yang masuk.


Bunda : Nai, bunda sudah berangkat, kuncinya Bunda bawa. Lagian kamu juga pegang kunci cadangannya, kan? Kamu hati-hati ya di rumah, kalau ada apa-apa, langsung telfon Bunda. Bye, putri kesayangan Bunda.


Naila langsung membalas pesan Bundannya itu, "Hati-hati di jalan, Bun. Nanti kalau sudah sampai, jangan lupa kabri aku."


Lalu ia melihat pesan Marfel.


"Sayang, kamu sudah bangun? Aku mungkin akan pulang nanti sore yank, aku akan pulang lebih dulu untuk bisa bertemu Bunda kamu. Sedangkan Mama dan Papa aku, akan pulang setelahl tujuh hari kematian Nenek. Soalnya di sana ada acara tahlilan sampai tujuh hari."


"Sayang, aku harap kamu jangan marah ya. Aku juga gak tau, kenapa bisa seperti ini. Aku benar-benar minta maaf."


Membaca pesan dari Marfel, Naila hanya bisa menghela nafas, lalu ia pun membalas pesan Marfel. "Bunda sudah balik ke Bali Mas, tadi pagi."


Tak lama kemudian pesan itu centang dua dan berwarna biru, lalu ada tulisan mengetik ....


Naila pun menunggu ketikan Marfel dan benar saja, gak lama kemudian, pesan dari Marfel Muncul.


"Yahhhh ... padahal aku pengen ketemu sama Bunda kamu dan kenalan langsung. Kenapa kayak gini ya, padahal aku udah buru-buru banget melamar kamu. Dua kali, dua kali gagal. Aku dalam perjalanan bisnis, dan kemaren nenekku tiba-tiba meninggal. Hmm."


"Iya sudah, Mas. Gak papa, mungkin belum takdirnya buat ketemu."


"Nanti sore aku kan pulang, nanti aku ke resto kamu ya."


"Urusan apa?"


"Rahasia hehe."


"Tumben main rahasia-rahasiaan."


"Haha kan gak semua aktivitas aku, Mas harus tau. Ada kalanya aku ingin punya privasi sendiri."


"Baiklah, kalau gitu, besok kita ketemuan ya, aku kangen banget. Beberapa hari gak lihat kamu."


"Maaf, Mas. Besok juga gak bisa."


"Kamu lagi menghindari aku ya, pasti gara-gara aku gak nepati janji buat ketemu Bunda kamu. Aku benar-benar minta maaf, Nai."


"Aku gak menghindari Mas Marfel, tapi emang beneran aku gak bisa kalau besok, gimana kalau Senin aja, pulang sekolah."


"Emang besok kamu mau kemana sih?"


"Aku mau jenguk teman aku yang sakit sama Rani."


"Iya sudah aku ikut ya."


"Gak bisa."


"Kenapa?"


"Kalau Mas ikut nanti Rani tau kalau aku menjalin hubungan sama Mas Marfel. Tolong biarkan aku bebas, jangan kekang aku."


"Apa selama ini, kamu merasa di kekang sama aku, Nai?"


"Enggak gitu maksud aku, aku cuma minta tolong, percayai aku. Aku juga ingin menikmati kebebasan aku, Mas. Hargai keputusan aku. Aku juga ingin melakukan apa pun yang aku mau, tanpa harus memberitahu semuanya ke Mas Marfel, setiap urusan aku. Aku juga ingin ada privasi sendiri."


"Baiklah, aku gak akan maksa kamu dan gak akan kepo lagi atau mau tau urusan kamu lagi. Silahkan kamu lakukan apa  yang kamu mau, dan maafin aku kalau selama ini kamu terkekang oleh sikap aku."


Dan saat Naila membalas pesan Marfel, tercata pesannya centang satu. Naila hanya bisa menghela nafas, Marfel seperti anak kecil dan tidak bisa membicarakan masalah dengan tangan kepala dingin.


"Kamu kenapa, Nai?" tanya Rani saat mendengar Naila menghela nafas kasar.


"Enggak papa," jawab Naila tersenyum kecut.


"Lagi berantem sama pacar kamu itu?" tebak Rani dan Naila menganggukkan kepala.


"Yang sabar, Nai. Kadang kalau  jalin hubungan emang gitu, ada berantem-berantemnya, gak mungkin mulus terus. Nikmati aja prosesnya," ujar Rani menasehati, seakan-akan ia sudah pengalaman banget.


"Iya, makasih ya."


Tak lama kemuudian, pesanan mereka datang. Naila dan yang lainnya pun menikmati makanan dan minuman mereka, mengobrol santai dan membahas apa saja hingga membuat suasana menjadi heboh karena kecakapan mereka yang bisa yang lain ikut ketawa.


Bersama teman-temannya, Naila sedikit melupakan masalahnya dengan Marfel. Berbeda dengan Marfel, yang kini tengah merasa  marah, sedih dan juga kecewa dengan sikap Naila padanya.