Novemberain

Novemberain
Naila Pingsan. Kenapa?



Setelah pulang sekolah, Naila pulang lebih dulu. Namun di jalan ia melihat ada yang jual es kelapa, ia pun memarkirkan sepeda motornya dan membeli es kelapa sambil duduk santai di sana, main Hp, minum es, makan gorengan sambil lihat jalan sesekali. Kalau seperti ini terus, rasanya sangat nikmat, sayangnya, ia tak bisa seperti yang lain karena ada banyak tugas yang menunggu dirinya.


Setelah hampir setengah jam di sana, Naila segera membayar es kelapa dan gorengannya, setelah itu, ia melanjutkan perjalanannnya menuju rumah. Sesampai di rumah, ada yang menyapa Naila, tetangga sebelah, hanya saja Naila tak terlalu kenal. Jadi Naila pun hanya menjawab sekedarnya aja.


Lalu setelah itu, Naila mengambil baju kotornya dari dalam jok sepeda motor, lalu membawanya ke dalam rumahnya untuk ia cuci pakai mesin cuci dan menjemurnya di samping rumah, dan menutup atap atas dengan menarik talinya sehingga akan tertutup sendiri, jadi misal hujan gak akan bikin baju basah.


Setelah selesai, Naila masih duduk santai, nonton tivi. Setelah rasa lelahnya usai, ia segera bersih-bersih rumah lagi, karena gak terlalu kotor, jadi hanya hitungan lima belas menit sudah selesai. Setelah itu, Naila pun mandi dan setelah itu pergi ke resto untuk kerja.


Rasa lelah membuat Naila pusing. Bahkan sampai di resto, Naila pun hanya menyapa karyawannya sekedarnya, lalu pergi ke ruangannya. Dengan tenaga yang masih tersisa, Naila masih berusaha untuk fokuus mengerjakan pekerjaannya. Namun karena rasa pusing yang semakin berat, Naila memutuskan untuk tidur sebentar. Ia menaruh kepalanya di meja, membaca istigfar untuk mengurangi rasa sakitnya.


Saat Naila ketiduran, Hpnya bergetar. Ada chat masuk dari Marfel, namun sayangnya Naila tak akan mengetahuinya karena ia tengah tertidur. Marfel terus mengirim chat dan nelfon beberapa kali, namun siapa yang akan mengangkat, jika yang punya hp aja tengah tertidur lelap.


Sejam kemudian, Naila bangun dan ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Karena fisiknya yang tidak meyakinkan, Naila pun akhirnya memilih mematikan komputernya lalu pergi dari sana. Tak lupa ia juga pamitna ke teman-temannya itu.


Karena merasa pusing, Naila gak berani untuk bawa sepeda motor sendiri, akhirnya ia pun masukin sepeda motornya ke dalam, lewat sampiing resto. Setelah itu, ia mengunci pintu pagarnya dan membawa kunci itu dengan menaruhnya ke dalam tas.


Setelahnya, ia memesan taxi online. Tak lama kemudian, taxi online pun datang, karena emang jaraknya dekat, jadi Naila hanya nunggu enam menit saja.


Sepanjang jalan, Naila memilih diam, ia terlalu  malas untuk membuka pesan dari Marfel dan teman-temannya, kepalanya semakin sakit kalau lihat HP.


Saat sampai di rumah sakit, Naila segera turun. Dengan jalan sempoyongan ia jalan menuju ruangan Marfel dan ketika ia mengetuk pintu dan membuka pintunya, tiba-tiba ...


Bruk ...


Naila jatuh pingsan, Marfel dan Ibu Maria yang melihat itu langung kaget dan histeris. Marfel bahkan tanpa sadar menyabut selang yang tertancap di lengan kirinya. Marfel menggendong Naila ke atas brankar.


"Ma, tolong panggilkan dokter, Ma," ucap Marfel panik. Ibu Maria pun menganggukkan kepala dan memanggil dokter, padahal di sana ada tombol emergency, tapi mungkin karena terlalu panik, jadi pada lupa.


"Nai, kamu kenapa Nai?" tanya Marfel sambil menatap wajah Naila yang pucat. Tubuhnya juga sangat panas sekali.


"Kenapa kamu gak bilang kalau lagi sakit, Nai," ujar Marfel sambil mengelus rambut Naila dengan lembut. Melihat Naila tak sadarkan diri seperti ini membuat hati Marfel terasa sakit sekali.


"Dok, tolong periksa Naila dok," ujar Marfell dengan wajah kusutnya.


"Iya, Mas," ucap dokter it. Ia pun mulai memeriksa Naila.


"Gimana, Dok?" tanya Marfel setelah melihat dokter itu selesai memeriksa keadaan Naila.


"Mba Naila hanya kurang istirahat aja, dia terlalu capek dan terlalu memforsir tubuhnya. Mulai hari tolong di jaga kesehatannya, istirahat cukup, makan teratur. Maka Mbak Naila akan kembali fit."


"Apa gak perlu di infus, Dok?" tanya Marfel.


"Tidak perlu, Pak. Mbak Naila gak papa, dia hanya terlalu capek aja. Nanti saya berikan obat penurun panasnya," ujar dokter itu sambil pamit pergi dari sana.


Setelah dokter itu pergi, Marfel menatap Naila.


"Naila pasti capek banget kan, Ma. Dia harus sekolah dan juga harus kerja, mengurus dua resto pasti gak mudah, belum lagi dia harus menulis cerita demi mengumpulkan cuan. Padahal Naila gak kekurangan uang, tapi dia terlalu bersemangat, dia tak pernah menyia-nyiakan waku, dia selalu menyibukkan dirinya untuk mengahasilkan banyak cuan," ujar Marfel sambil memegang tangan Naila dan menciumnya berulang-ulang. Sedangkan Ibu Maria hanya diam mendengarkan.


Melihat Marfel seperti orang yang frustasi, membuat Ibu Maria semakin yakin bahwa anaknya itu sudah bucin terhadap Naila.


"Melihat Naila kayak gini, hatiku sakit Bun. Naila itu seharusnya senang-senang bukan malah mengurus dua resto kayak gini, belum lagi harus belajar keras agar tetap jadi juara satu di kelasnya. Dia terlalu memforsir tubuhya dan lihatlah sekarang. Dia sudah terkapar tak berdaya. Misal Naila pulang ke rumahnya, siapa yang akan merawatnya, sedangkan dia sendirian di rumah itu. Bundannya masih harus mengurus resto cabang, ayahnya gak ada. Dia sendiriaan, aku gak bisa membayangkan jika dia jatuh sakit tapi gak ada satupun yang menemaninya, menjaganya dan merawatnya," ujar Marfel menitikkan air mata. Ibu Maria pun juga ikut meniitikkan air mata.


Ia juga gak membayangkan jika misalnya Naila sakit dan tak ada satu orang pun di sampingnya. Bagaimana jika Naila kenapa-napa di rumahnya sendirian.


"Aku ingin menikahinya, Ma. Aku janji gak akan meminta hubungan layaknya suami istri, aku pasti bisa menahannya sampai Naila siap untuk melakukannya. Aku juga akan membantu dia mewujudkan semua impiannya, aku akan selalu ada untuknya, menjaganya, melindunginya, merawatnya dan membantu semua kesusahannya. Aku ingin Naila berbagi beban sama aku, aku gak ingin Naila harus kerja berat seorang diri," ujar Marfel.


"Baiklah, jika memang itu mau kamu. Nanti jika Bunda Naila datang, Mama akan melamar Naila untuk kamu, jadi misal Naila di tinggal Bundannya, dia bisa tinggal di rumah kita, karena ada Mama yang akan jaga dia misal kamu sibuk," ujar Ibu Maria yang menyetujui permintaan putranya itu.


Bagaimanapun ia juga tak ingin Naila kenapa-napa, Ibu Maria juga terlanjur sayang ke Naila dan gak mau kehilangan gadis cantik dan ceria seperti Naila.