
Hari ini pernikahan Marfel dan Naila. Mereka menekah di KUA dengan di saksikan oleh beberapa keluarga Marfel. Sedangkan dari Naila, hanya ada dirinya dan Bunda Ila aja, karena mereka hanya berdua. Yang lain, mereka seakan menjauh jadi Naila menganggap jika mereka memang tak mau berhubungan lagi dengannya maupun sang Bunda.
Bunda Ila juga membawa beberapa makanan dari restorannya untuk selametan kecil-kecilan dan di bagikan kepada keluarga Marfel yang ikut meramainkan pernikahan putrinya dan juga buat para petugas KUA.
Marfel memberikan uang satu miliar sebagai maharnya. Awalnya Naila dan Bunda Ila terkejut, tak menyangka jika Marfel akan memberikan uang sebanyak itu. Dan saat itu juga, Marfel mentransfernya ke rekening Naila dan juga memberikan Naila dua rekening yang tanpa batas. Sedangkan Marfel hanya memegang satu untuk pegangan.
"Astaga, baru juga jadi istri, aku sudah langsung jadi sultan, Bun," ucap Naila sok, ia memberitahu kepada Bundanya dua kartu yang di kasih Marfel tadi. Belum lagi uangnya yang mendadak gendut dii ATMnya.
Orang-orang yang mendengar ucapan Naila pun terkekeh, karena mereka merasa jika Naila itu lucu. Setelah ijab qobul selesai, mereka langsung pulang ke rumah Marfel untuk membuat perayaan kecil-kecilan, sambil mengobrol santai. Malamnya, Naila menginap di rumah Marfel begitupun dengan Bunda Ila. Karena Ibu Maria memaksa besannya untuk menginap di sana.
Keesokan harinya, Marfel langsung menaruh beberapa barang pentingnya ke dalam koper karena besok ia akan tinggal di rumah miliknya yang sudah ia beli kemaren. Namun sebelum pergi ke rumah kontrakannya, Marfel akan menginap di rumah Naila lebih dulu. Yah, biar adil. Jadi hari ini, setelah kemaren mereka menginap di rumah Ibu Maria. Hari ini, mereka menginap di rumah Bunda Ila semalam.
Untuk pertama kalinya, Marfel memasuki kamar pribadi Naila, tak seluas kamarnya tapi sangat bersih dan harum. MEmbuat Marfel betah lama-lama di sana.
Marfel dan Naila juga belum melakukan hubungan suami istri, hanya sekeda tidur biasa. Ia takut, jika Marfel melakukan hal lebih membuat mereka mengeluarkan suara, dan Marfel gak mau jika suara Naila akan kedengeran keluar. Jadi ia akan tahan sampai mereka pulang ke rumah sendiri.
Di rumah Naila, Marfel hanya menginap satu malam. Karena keesokan harinya, Naila langsung mengemas buku-bukunya, laptop dan barang-barang miliknya ke dalam koper. Lalu ia pun berpamitan ke Bunda Ila.
"Bun, mulai hari ini aku tidak akan tinggal di sini, aku akan ikut suamiku kemanapun suamiku pergi. Tapi Nai janji, sesekali Nai akan menginap di sini, Nai juga akan sering mengunjungi Bunda," ucap Naila sambil memeluk Bunda Ila.
"Iya, Bunda. Nai, janji. Nai akan berusaha menjadi istri yang baik buat Mas Marfel. Doain Nai juga, semoga Nai bisa seperti Bunda yang sangat menyayangi Ayah hingga akhir hayatnya."
"Aamiin."
Setelah itu, Marfel pun juga ikut pamit ke mertuanya, tak ada adegan pelukan seperti yang Nai lakukan tadi. Marfel hanya mencium punggung tangan Bunda Ila.
"Marfel pamit ya, Bun. Jaga diri Bunda baik-baik, jika ada apa-apa, jangan sungkan menghubungi Marfel."
"Iya, Nak. Bunda titip Naila ya."
"Iya, Bunda. Pasti."
Dan setelah itu, Marfel pun membantu Naila membawakan kopernya dan menaruhnya di bagasi di samping miliknya. Yang sejak kemaren masih ada di bagasi dan belum di turunkan.
Naila pun naik mobil Marfel, sedangkan mobilnya akan di pakai Bunda Ila sementara waktu. Nai pun tak mempermasalahkan, malah Nai menitipkan mobilnya di sana, karean mulai hari ini dan seterusnya. Marfellah yang akan mengantarkan kemanapun Naila pergi.