
Keesokan harinya, Naila memasak bareng Bunda Ila. Mereka memasak bareng, untungnya di kulkas masih banyak sayuran, ikan, daging, telur, tahu, tempe dan yang lainnya. Jadi mereka gak perlu belanja lagi, cukup menghabiskan stock yang ada di kulkas saja. Setelah selesai masak, Naila mencuci semua peralatan yang kotor. Sedangkan Bunda Ila bagian menaruh dan menata masakannya di atas meja makan.
"Akhirnya selesai juga ya, Nai. Nanti biar Bunda yang nganter kamu ke sekolah ya, Nai," ujar Bunda Ila, yang ingin memanjakan putrinya itu. Entah kenapa, ia ingin menghabiskan waktu bersama putrinya, ingin menebus waktu-waktu yang sudah terbuang sia-sia selama ini.
"Boleh, Bunda. Kalau gitu, aku mau mandi dulu ya, Bun. Setelah itu makan bareng," ucap Naila.
"Iya sudah mandi sana, Bunda juga mau mandi, gerah," tutur Bunda Ila. Naila pun menganggukkan kepalanya. Naila pergi ke kamarnya untuk mandi, begitupun dengan Bunda Ila.
Dua puluh menit kemudian, mereka pun sudah sama-sama selesai mandi dan sudah berpakaian rapi. Naila juga sudah memakai seragamnya dan sudah memakai tas, dan kaos kaki. Sedangkan untuk sepatu, akan di pasang nanti saat keluar dari rumah ini, agar lantainya tidak kotor.
Sedangkan Bunda Ila, dia juga sudah memakai gamis warna maroon dan hijab warna marron, tas warna putih dan kaos kaki coklat.
"Bunda kayak gini, sudah kayak kaum sosialita aja," ucap Naila yang membuat Bunda terkekeh.
"Kamu bisa aja, Nai. Tapi Bunda emang sekarang fokus memperhatikan penampilan, Nai. Soalnya kan penampilan itu penting, kalau pakaian rapi, kita bisa di hargai orang. Tapi lebih tepatnya kita menghargai diri kita sendiri sih, karena kalau lihat kita cantik, tampil menarik, tentu ada rasa bahagia juga kan. Karena kita menjaga apa yang Allah kasih, dengan memakai pakaian jelek, kita seperti gak menghargai diri sendiri, dan orang pun juga merasa enggan menghargai kita," balas Bunda Ila dan Naila pun mengangguk setuju akan hal itu.
Bunda Ila dan Naila sarapan pagi bersama, selesai makan. Bunda Ila mengantarkan Naila menggunakan mobil miliknya. Mobil yang ia beli dengan susah payah, mobil yang ia beli dengan hasil jerih payahnya sendiri dan kini ia sudah bisa seperti orang lain dan tak lagi minder seperti dulu. Saat dirinya masih dalam keterpurukan.
Saat dalam perjalanan ke sekolah, Naila membuka hpnya dan ada pesan dari Marfel.
Naila pun segera membukanya dan meliha isi pesan itu. Sejak kemarin, ia tidak membuka Hp, jadi wajar jika banyak pesan yang masuk dari Marfel.
"Assalamualaikum, Sayang. Lagi apa?"
"Kok centang satu, gak seperti biasanya. Sibuk ya?"
"Aku sudah nelfon mama dan papa aku tadi, dan mereka sudah siap-siap buat besok pergi ke rumah kamu."
"Sayang?"
"Aku sudah sampai di hotel nih, tapi mau istirahat bentar, sebelum nanti pergi bertemu client."
"Yank, aku kok merasa di cuekin ya?"
"Kamu lagi seneng-seneng sama Bunda ya, tapi gak papa deh, aku akan mengalah hehe."
"Sayang, aku sudah selesai meeting nih, aku akan pulang nanti habis sholat isya,"
"Sayang, aku sudah otw pulang, jadi gak sabar pengen ketemu kamu."
"Sayang, aku hampir kecelakaan tadi, gara-gara sopirnya ngantuk banget. Untung gak papa, jadi sekarang gantian aku yang nyetir."
"Sayang, aku sudah sampai rumah ini. Aku mau mandi dulu terus istirahat."
"Sayang, sudah bangun belum?"
"Aku gak bisa ke rumah kamu hari ini, soalnya aku harus ke kantor. Kalau kamu sudah baca pesanku, balas ya. Aku gak bisa nelfon kamu, karena nomermu gak aktiv."
"Kalau kamu berangkat sekolah, hati-hati ya di jalan. Aku gak mau kamu kenapa-napa di jalan."
"I love you."
Membaca pesan dari Marfel, membuat dirinya senyam-senyum sendiri, Bunda Ila yang melihat putrinya tersenyum seperti itu pun hanya geleng-geleng kepala. Dia pernah muda, jadi dia tau apa yan di rasakan oleh putrinya saat ini. Walaupun dirinya melarang putrinya pacaran, tapi apa boleh di kata. Jika putrinya sudah terlanjur jatuh cinta ma pria lain. Dan bahkan sudah mau di lamar.
Bunda Ila gak mau menjadi ibu yang egois, yang hanya memikirkan ego sendiri. Walaupun tidak sesuai harapan dan keinginannya, tapi ia juga tak akan menentang hubungan Naila dengan orang yang di cintainya itu. Ia akan menghargai apapun keputusan putrinya, karena ia percaya jika Naila sudah berfikir matang-matang sebelum memutuskan sesuatu.
Bunda Ila hanya melihat putrinya yang tengah asyik mengetik sesuatu di hpnya, tak lupa senyum cerah menghiasi wajahnya. Bunda Ila gak mau mengganggu dan ia pun fokus ke depan untuk nyetir mobil agar tak sampai menabrak orang.
Naila berusaha membalas pesan Marfel satu persatu.
"Waalaikumsalam, Mas. Maaf ya, aku baru mengaktifkan hp aku ini."
"Keadaan Mas Marfel gimana? Gak papakan? Kok bisa sampai kecelakaan sih, seharusnya mah kalau ngantuk, mending berhenti aja dulu di kafe, resto atau warung-warung yang masih buka, buat ngopi, ngilangin rasa ngantuk."
"Aku sudah otw ke sekolah, Mas. Tapi di antar Bunda hehe.
"Selamat bekerja ya, Mas. Dan sampai ketemu nanti di rumah aku."
Dan setelah itu, Naila pun keluar dari chat Marfel. Karena walaupun centang dua, tapi belum dibaca, mungkin Marfel lagi di perjalanan atau ada kesibukan lain. Naila pun tak akan marah hanya karena hal sepele seperti itu, karena memang tidak semua orang memegang hp dua puluh empat jam.
"Chatan sama siapa, Nai?" tanya Bunda Ila pura-pura gak tau.
"Sama Mas Marfel, Bunda," jawab Naila tersenyum malu. Tiba-tiba ia keingat sesuatu. "Astagfirullah," pekik Naila yang membuat Bunda Ila kaget.
"Kenapa, Nai?" tanya Bunda Ila yang masih kaget, untung dia gak sampai nabrak orang, gara-gara ulah putrinya itu.
"Hehe, gak papa, Bun," jawab Naila cengengesan. Ia menelfon nomer Alfa, dan ternyata sudah terhubung, hanya saja belum diangkat. Lalu ia membuka aplikasi chat lagi dan melihat jika pesannya sudah bercentang dua, bahkan sudah berwarna biru. Itu artinya semua pesan sudah di baca oleh Alfa.
"Tapi kenapa, pesan aku gak di balas?" tanya Naila dengan wajah sendu.
"Kamu kenapa, Nai?" tanya Bunda Ila melihat wajah Naila yang tadi terlihat bahagia, kini sudah terlihat sendu setelah melihat hpnya
"Enggak apa-apa, Bun," jawab Naila sambil menghela nafas kasar.
"Kamu kalau ada cerita, bilang sama Bunda. Jangan di pendem sendirian. Anggap Bunda ini sebagai sahabat kamu, agar kamu bisa nyaman saat cerita sama Bunda," ujar Bunda Ila memberitahu.
"Aku akan cerita, tapi nanti ya, Bun. Kalau dah siap, karena jujur masalah aku itu bikin pusing kepala," ucap Naila terkekeh, bersuaha untuk mencairkan suasana.
"Masalah apa, sekolah, pekerjaan, atau apa?" tanya Bunda Ila yang penasaran.
"Laki-laki, Bun," cicit Naila dengan suara kecil namun masih didengar oleh Bunda Ila.
"Astagfirullah, emang kamu punya berapa pacar, Nai?" tanya Bunda Ila kaget. Tak menyangka jika putrinya itu sudah menjadi playgirl.
"Aish, satulah, Bun. Ya kali aku punya pacar banyak, aku mah cintanya cuma sama Mas Marfel kok," sahut Naila dengan wajah cemberut, karena ia tak suka jika Bundannya berfikiran negatif tentangnya.
"Tapi kok kamu sedih gitu, setelah lihat sesuatu di hpnya."
"Ini beda lagi, Bun."
"Beda kenapa, Bunda gak suka ya kalau kamu punya banyak selingan gitu, satu saja sudah cukup. Bunda gak mau kamu di cap anak yang nakal karena punya laki-laki idaman di mana-mana."
"Ya ampun, Bun. Aku mah gak gitu, tapi aku juga gak bisa cerit, ruwet Bun. Bener dah, aku aja mending di kasih pelajaran banyak, atau pekerjaan banyak, ketimbang mikir ini. Karena cuma bisa bikin dadaku sesek, Bun."
"Kamu sakit asma?" tanya Bunda Ila kaget.
"Gak gitu juga, Bun. Ya kali Nai punya penyakit asma. Dadaku sesek karena mikir mereka semua."
"Mereka siapa? Ya Allah, Nai. Ngomong yang jelas dong, jangan bikin Bunda ikutan pusing karena mikirin kata-katamu yang gak jelas itu," ujar Bunda Ila yang akhirnya ikutan pusing kepala karena ulah putrinya itu.
"Kak Alfa dan Kak Stefan, Bun."
"Siapa mereka?"
"Orang yang suka sama Naila."
"Terus?"
"Duh, aku cerita nanti aja ya, Bun. Setelah pulang sekolah, udah sampai di depan gerbang ini. Kalau aku cerita sekarang, nanti aku bisa telat," ujar Naila setelah mobil berhenti tepat di depan gerbang sekolah.
"Okay, Bunda tunggu kamu sepulang sekolah. Kamu harus jujur semuanya ke Bunda, tidak boleh ada yang ditutup-tutupi lagi."
"Iya, Bunda."
"Kalau gitu, aku turun dulu ya, Bun." Naila mencium punggung tangan Bunda Ila, lalu turun dari mobil.
"Assalamualaikum, Bun," ucap Naila sambil menutup pintu mobil dengan pelan.
"Waalaikumsalam." Dan setelah itu, Bunda Ila pun pergi dari sana untuk menuju resto sedangkan Naila, ia segera berjalan menuju kelasnya.