
Setelah selesai sholat, Naila pergi ke luar dan ternyata ia sudah melihat Fahmi yang duduk santai di sepeda motornya. Naila pun mendekatinya.
"Assalamu'alailaikum ka." Ujar Naila tersenyum.
"Waalaikumsalam." Balas Fahmi yang juga ikut tersenyum.
"Kakak, kog cepet nyampeknya. Kakak ngebut ya di jalan?" tanya Naila.
"Hehe iya. Habis aku takut kamu kelamaan nunggu aku." Jawab Fahmi tersenyum.
"Lain kali jangan di ulangi ya ka. Aku lebih suka menunggu lama dari pada kakak kenapa napa di jalan." Ujar Naila.
"Kamu menghawatirkan aku?" tanya Fahmi serius.
"Iya ka."
"Kenapa?"
"Kenapa gimana maksudnya?"
"Kenapa kamu menghawatirkan aku Nai?"
"Aku gak mau merasa bersalah kak, kakak ngebut ngebut demi jemput aku. Kalau kakak kenapa napa, otomatis aku akan merasa menyesal dan merasa bersalah." Ujar Naila.
"Yakin cuma itu alasannya? Gak ada alasan yang lain?" tanya Fahmi menyelidik.
"Alasan lain? Gak ada tuh." Ujar Naila dengan wajah imutnya.
"Masak?"
"Masak di dapur hahaha." Naila tertawa karena berhasil mengerjai Fahmi, orang yang diam diam mampu membuat hatinya bergetar.
"Kamu manis Nai, kalau tertawa." Ujar Fahmi yang terkesima melihat wanita yang ada di hadapannya bisa tertawa lepas.
"Sudahlah jangan ngegombal melulu. Ayo antarkan aku ke resto." Ucap Naila.
"Lah ini kamu kan sudah ada di depan resto. EMang mau di antarkan kemana lagi?" goda Fahmi.
"Ke resto yang satunya ka." Ucap Naila merajuk.
"Iya udah ayo, gak usah cemberut gitu. Jadi bikin gemes." Ucap Fahmi sambil memberikan helm yang ia pegang kepada Naila.
"Kenapa sih kak, kog jemput aku gak pakai mobil?" tanya Naila. Bukan apa apa, ia takut aja kalau naik sepeda motor bisa bisa ia terlepas kendali dan akhirnya malah megang Fahmi.
"Maaf Nai, aku belum bisa beli mobil. Jikapun aku punya, itu milik orang tuaku. Beda dengan sepeda motor ini walau gak bagus tapi aku beli dengan hasil jerih payahku sendiri. Kamu malu ya goncengan sama kau naik sepeda motor ini?" tanya Fahmi dengan nada sedih.
"Bukan malu kak tapi aku takut, soalnya kan.................." Belum selesai Naila berbicara, Fahmi langsung memotongnya.
"Aku tau maksudmu Nai. Makanya aku bawakan ini. Nanti ini taruh di tengah ya jadi kita gak mungkin bisa bersentuhan." Ujar Fahmi sambil memberikan boneka yang tadi ia beli di pinggir jalan.
"Makasih ya ka dan maaf aku merepotkan." Ujar Naila gak enak hati tapi ia tetep menerima pemberian Fahmi dan memeluk boneka itu dengan erat.
"Gak merepotkan kog. Santai aja. Ya udah ayo cepet naik, bentar lagi hujan lho." Ujar Fahmi yang melihat awan hitam di langit yang tandanya akan segera turun hujan.
"Iya udah ayo." Naila pun segera memasang helmnya dan segera naik ke atas sepeda motor. Tak lupa ia menaruh boneka yang ia pegang di tengah tengah antara dirinya dan juga Fahmi. Boneka itu menjadi pembatas agar ia tak bersentuhan dengan Fahmi.
"Nai, aku bersyukur bisa kenal kamu dan bisa goncengan sama kamu seperti ini." Ujar Fahmi saat mereka ada di jalan.
"Emang kenapa kak kog kakak bisa bersyukur gitu?"
"Karena kamu orang pertama yang bisa membuat kakak merasakan jatuh cinta Nai." Ujar Fahmi mencoba untuk berterus terang dengan perasaannya.
"Tapi ka..............."
"Aku tau Nai, kamu gak boleh pacarankan? Tenang aja, aku gak akan ngajak kamu pacaran kog tapi izinkan aku berada di dekatmu ya Nai, menjagamu sampai kamu halal untuk aku. Dan aku berjanji tak akan menyentuhmu apapun alasannya." Ucap Fahmi sungguh sungguh.
"Baiklah terserah kakak aja deh."
"Makasih ya Nai. Sejak kamu hadir dalam hidupku, aku seperti punya semangat untuk bertahan hidup." Ujar Fahmi.
"Apaan sih kak, kayak kakak mau ninggalin aku tuk selamanya aja. Emang sebelum aku hadir, kakak gak punya semangat hidup tah?" tanya Naila.
"Enggak Nai, aku merasa gak ada artinya aku hidup. Makanya aku selalu menghabiskan waktuku untuk bekerja dan menuntut Ilmu agar aku bisa melupakan semua beban yang aku rasakan. Tapi sejak bertemu kamu, aku selalu mempunyai gairah untuk bertahan karena aku ingin bisa melihat kamu setiap hari bahkan kalau perlu setiap waktu." Jawab Fahmi.'
"Sudahlah kak, jangan cakap seperti itu. Kakak seolah olah punya penyakit keras yang tidak bisa di sembuhkan aja. Bilang beban segala? Emang beban apa sih sampai bikin kakak kayak gitu?"
"Beban yang sangat berat tentunya Nai dan tak ada yang tau kecuali aku bahkan orang tuaku pun tak tau menau apa yang aku alami selama ini. Makanya aku pergi dan memilih untuk ngekos karena aku gak mau membebani mereka dan membuat mereka sedih."
"Emang ada apa sih kak? Kalau ada apa apa, kakak cerita aja ma aku. Siapa tau aku bisa bantu." Ujar Naila.
"Kamu cukup bantu aku dengan kamu selalu ada di dekat aku Nai. Itu udah lebih dari kata cukup kog. Aku bahagia, sangat sangat bahagia Nai saat bisa melihat wajahmu kayak gini."
"Sudahlah ka, kakak dari tadi ngegombal terus." Ujar Naila.
Tiba tiba saat mereka lagi asyik ngobrol, hujan terus mengguyur tubuh mereka. Dan mau gak mau Fahmi harus mencari tempat yang teduh untuk melindungi tubuh mereka dari rintiknya hujan.
Saat melihat ada halte kosong di depannya, Fahmi pun segera menghentikan sepeda motornya.
"Maaf Ka, bonekanya jadi basah gini." Ujar Naila merasa bersalah.
"Gak papa Nai, boneka bisa beli lagi. Kamu gak perlu sedih."
"Jangan beli terus ka, sayang sama uangnya. Nanti sesampai di rumah, boneka ini akan aku cuci lalu aku jemur biar bisa kayak semula lagi." Ucap Naila tersenyum.
"Terserah kamu Nai, yang penting kamu seneng. Ini jaketnya pakai kamu aja ya." Ujar Fahmi sambil melepas jaket yang ia pakai.
"Tapi kak, nanti kakak kedinginan. Kakak kan cuma pakai baju pendek."
"Gak papa Nai, aku tahan dingin kog. Kamu pakai aja ya, nanti kamu sakit kalau kedinginan terus kayak gini." Ucap Fahmi tersenyum karena gak mau mengecewakan Fahmi, Naila pun menerima jaket itu dan memakainya.
"Makasih ya kak, terima kasih sudah mau peduli sama aku." Ucap Naila.
"Aku akan selalu peduli sama kamu Nai karena kamu adalah wanita berharga yang ada di hati aku." Ucap Fahmi yang hanya bisa ia ucapkan dalam hati.