
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Fahmi pun di izinkan pulang dan pada saat itu Naila gak bisa menjemputnya karena ia harus sekolah dan tak mungkin jika bolos lagi. Untunglah ada Kak Alfa yang mau menjemputnya karena memang Kak Alfa satu kosan dengan Kak Fahmi bahkan mereka bukan seperti sahabat lagi melainkan sudah seperti saudara karena sangking deketnya.
Naila sepulang sekolah berjanji akan menjenguknya tapi lagi lagi ia gak bisa karena ada masalah di restoran yang mengharuskan dia harus pergi ke resto dan tak bisa kemana- mana lagi.
Saat di resto pun Naila tak bisa sepenuhnya konsen karena ia kefikiran dengan Fahmi. Ingin rasanya ia jenguk dan melihat keadaan Fahmi sekarang tapi mengingat pekerjaannya yang begitu numpuk membuat ia hanya bisa menghela nafas apalagi mengurus dua resto itu rasanya nano nano. Naila pun berusaha untuk konsen dan melupakan Fahmi sejenenak walau sulit tapi Naila tak mungkin hanya bisa diam memikirkan laki laki yang entah sekarang lagi apa. Satu satunya cara ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa bertemu dengan Fahmi.
Setelah 3 jam berkutat dengan komputer dan berusaha memecahkan masalah yang ada di resto, akhirnya Naila pun bisa bernafas lega karena masalahnya pun sudah berhasil di tuntaskan. Ia juga meminta semua karyawan agar bisa bekerja lebih esktra lagi dan jangan membuat pelayan kecewa hingga membuat nama resto ini menjadi jelek. Naila juga sudah memesan semua sayuran dan ikan ikan segar lebih banyak lagi agar tak ada lagi yang komplen karena kekurangan. Ngantri lama tapi setelah di akhir akhir ternyata semuanya sudah habis tak tersisa.
Naila juga membuka lowongan lagi untuk menambah karyawan minimal 2 orang untuk bantu bantu di dapur dan melayani pelanggan. Naila berusaha memperbaiki restorananya atas komplen komplen yang masuk ke dalam email yang ia terima. Ia juga menambah beberapa menu makanan dan minuman, begitu pun dengan resto yang ada di cabang. Ia melakukan hal yang sama. Setelah semua merasa aman dan tak ada lagi celah untuk orang lalin menghina dan meremehkan Lala's restaurant. Ia pun bisa bernafas lega walau sedikit, ia akan liat untuk beberapa hari ke depan jika berjalan lancar maka ia akan menambah beberapa dekorasi lagi dan menyewa lahan yang ada di samping resto untuk memperluas resto yang ia pegang. Sehingga orang lain bisa makan tanpa harus nunggu antri karena tempat duduk yang tersedia sangatlah kurang.
Setelah ia menyelesaikan semua masalahnya, ia kembali ke ruangannya untuk melihat keuangan yang masuk selama sebulan terakhir. Ia juga harus menggaji karyawan 3 hari lagi.
Ia berharap bundannya segera pulang agar ia bisa sedikit leluasa untuk santai sejennak dan tak seperti ini lagi. Apalagi ia juga harus belajar karena menghadapi ujian pertengahan semester.
Saat jam menunjukkan pukul 7 malam, Naila segera membereskan semua berkas berkas yang penting dan memasukkan dalam laci dan setelah itu menguncinya dengan dua gembok karena di laci juga ada uang sekitar 3 juta lima ratus.
"Mbak Rin, aku pamit pulang dulu ya. Nanti minta tolong kalau udah waktunya pulang, jangan lupa di bersihkan dulu biar gak kotor tempatnya. Kalau udah bersih semua, pastikan semua jendela dan pintu tertutup rapat. Aku gak mau ada celah orang lain masuk ke dalam resto." Ujar Naila memberi pesan.
"Iya, kamu hati hati di jalan." Ucap Rina, pegawai kepercayaan Naila yang kini di anggap sebagai tangan kanannya.
"Oke. Aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah itu, ia pun pergi menuju parkiran. Sebelum pergi, ia meminta alamat Kak Fahmi kepada Kak Alfa. Untunglah dia kemaren sempat tukeran nomer hp sama Alfa sehingga sekarang ia bisa nanya tempat tinggal Fhami ke Alfa. Setelah Alfa mengirim alamat lengkapnya, Naila pun tersenyum dan langsung menuju kos kosan di mana Fahmi kini berada. Oh ya sepeda motor yang di gunakan Naila masih punya Fahmi karena sepeda motor miliknya sampai sekarang masih belum juga di taruh di bengkel. Hingga sepeda momtor itu masih ada di garasi dan belum di apa apain.
Setelah 20 menit mengendarai sepeda motor akhirnya, ia sampai juga di depan kos kosan. Ia pun mengucap salam kepada salah satu kamar yang ada namanya Alfa n Fahmi. Ternyata itu ada dua kamar namun dalam satu ruangan.
"Assalamu'alaikum." Ujar Naila sambil melihat jam yang ada di tangannya. "Masih jam 7 lewat 22 menit. Apa gak papa ya kalau cewek datang ke kosan cowok malam malam gini?" tanya Naila sama dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka.
"Waalaikumsalam." Jawab Alfa.
"Mana Kak Fahmi, ka?" tanya Naila.
"Ada di dalam, masuk ayo."
"Tapi.............."
"Gak papa, nanti pintu ini akan kakak buka biar gak di kira ngapa ngapain." Ujar Alfa tersenyum. Naila mengangguk lalu ia pun pergi ke dalam.
"Fahmi ada di kamarnya." Ujar Alfa. Naila lagi lagi hanya bisa mengangguk dan pergi ke kamar utama sedangkan Alfa ada di kamar kedua.
"Assalamualaikum kak." Ucap Naila sambil duduk di kursi yang ada di samping tidur Fahmi.
"Jenguk kakak, aku hawatir sama kakak." Jawab Naila.
"Tapi ini udah malam, gak baik cewek datang ke kosan cowok. Apa kata orang nanti."
"Iya aku tau, aku cuma sebentar ke sini. Aku cuma ingin memastikan kakak baik baik aja."
"Sekarang kamu kan sudah tau bagaimana keadaanku, lebih baik kamu pulang segera Nai. Bukan maksudku untuk mengusir kamu tapi aku gak mau orang orang membicarakan kamu yang tidak tidak. Kamu ngerti kan maksudku."
"Iya kak, aku ngerti. Oh ya sepedanya kakak............"
"Kamu bawa aja, aku masih belum butuh."
"Iya udah kalau gitu, aku pulang dulu ya kak."
"Iya, nanti kalau kakak udah bener bener sehat, kakak akan chat kamu dan kita bisa jalan jalan bareng."
"Iya kak. Assalamu'alaikum." Ujar Naila sambil pergi dari kamar Fahmi.
"Lho Nai, kog udah mau pulang, baru aja nyampek." Ucap Alfa yang menunggunya di luar kamar karena tak mau mengganggu kehidupan dua orang yang lagi di mabuk cinta hanya saja mereka berdua lebih memendamnya di dalam hati.
"Iya kak, soalnya udah malam. Aku minta tolong, jagain Kak Fahmi ya. Kalau ada apa apa, tolong segera beritahu aku." Ucap Naila.
"Iya. Kamu hati hati ya di jalan. Jangan ngebut ngebut, dan gak usah kemana mana lagi. Langsung pulang aja. Biar gak kenapa napa." Ujar Kak Alfa menasehati.
"Iya kak, aku pamit ya kak. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah pamit, Naila pun segera pulang menuju rumahnya. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia menemui cowok langsung ke kosannya kalau bukan karena ia hawatir, ia gak mau melakukan ini semua.