
Sesampai di kelas, ia melihat teman-temannya sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Naila tau, dirinya sudah telat dua menit. Untungnya pagar tadi masih di buka, dan guru belum datang. Naila pun segera duduk di samping Rani.
"Tumben telat, Nai?" tanya Rani.
"Iya, tadi jenguk saudara di rumah sakit," jawab Naila sambil menaruh tasnya di laci.
"Oh, tugas kamu gimana, sudah?" tanya Naila lagi.
"Sudah dong." Naila pun mengambil bukunya dari dalam tas dan menaruhnya di atas meja, lengkap dengan pulpennya.
"Oh ya, nanti malam ulang tahun Rifa. Rifa mengundang kita datang ke rumahnya. Kamu mau ikut?" tanyanya.
"Giimana ya, aku kan harus kerja. Terus harus jaga saudaraku di rumah sakit."
"Cuma sebentar kok, Nai. Sejam aja, yang penting kamu datang. Kamu kan selalu gak pernah ikut, kalau di ajak kemanapun. Di ajak liburan kamu nolak, di ajak jalan juga kamu nolak, di ajak kerja kelompok juga kamu nolak, di ajak kumpul-kumpul di rumah aku dan di rumah yang lainnya, kamu juga nolak. Aku tau kamu sibuk, tapi please, ini ulang tahun Rifa. Tak bisahkan kamu meluangkan waktumu untuk teman-teman terdekatmu?" Rani menatap Naila yang seperti sedang berfikir keras.
Setelah diam dalam hitungan dua menit, Naila pun buka suara.
"Jam berapa mulainya?" tanya Naila.
"Jam delapan. Tapi anak-anak mungkin datangnya habis maghrib atau palint telat jam tujuan lah. Kamu mau datang?"
"Ya," jawab Naila sambil menganggukkan kepalanya.
"Nah gitu dong, mau aku jemput apa gimana?"
"Enggak usah, nanti aku bawa sepeda motor sendiri."
"Oke deh."
Tak lama kemudian guru pun datang, dan pelajaran pertama pun di mulai.
Selama jam pelajaran, Naila tidak konsen, karena ia memilih untuk membalas chat Marfel. Untungnya kali ini Naila duduk di tengah-tengah di barikan nomer empat, Rani yang melihat Naila tak seperti biasanya pun hanya geleng-geleng kepala.
Sedangkan Rani senyam-senyum sendiri membaca balasan dari Marfel.
"Nai, kamu chatan sama sisapa sih?" tanya Rani penasaran.
"Ini lagi chatan sama saudara aku. Loh gurunya mana?" tanya Naila saat mendongak ke depan, gurunya sudah gak ada.
"Udah pergi kali. Kamu terlalu fokus sih sama Hpnya," sindir Rani. Yang di sindir pun hanya cengengesan.
"Ke kantin yok," ajak Puput yang menghampiri mereka.
"Ayo." Rani dan Naila pun menaruh bukunya di dalam tas dan pergi menuju kantin bersama yang lain.
"Loh Rifa gak masuk?" tanya Naila, karena cuma ada Rani, Puput, Ayu, Firoh dan Rahma.
"Enggak, kan dia lagi ulang tahun sekarang. Jadi dia di ajak orang tuanya liburan. Nanti malam kamu ikut kan?" tanya Ayu ke Naila.
"Ya, aku ikut kok. Tadi Rani sudah jelasin. Mungkin aku datang jam tujuan," sahut Naila.
"Nanti mau pakai baju kembarangan gak?" tanya Firoh.
"Boleh, biar terlihat kompak," ucap Rahma.
"Aku juga setuju, tapi mau pakai baju warna apa?" tanya Rani.
"Warna apa bagusnya?" tanya Puput.
"Emm gimana kalau warna pink, Rifa kan suka warna pink, nanti baju dan hijabnya warna pink, bawahannya hitam, atau celana jeans juga boleh," usul Rahma.
"Oke, kita pakai itu aja," ujar Firoh. Naila pun hanya bisa ikut kemauan mereka.
Sesampai di kantin, mereka cari tempat duduk yang kosong, setelah itu memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, mereka pun mengobrol satu sama lain, sedangkan Naila sibuk membalas pesan Marfel.
'Lagi apa?' ketik Marfel.
'Lagi di kantin bareng temen.'
'Oh, jangan makan pedes-pedes, nanti sakit perut' - Marfel.
'Iya. Oh ya nanti sepulang sekolah, aku mau pulang ke rumah dulu ya, ambil sepeda motor, soalnya gak enak naik taxi online terus. Tadi pagi aja hampir terlambat, untung ketemu Kak stefan di depan rumah sakit, terus dia nawarin aku berangkat bareng, akhirnya aku goncengan sama dia ke sekolah.' - Naila
'Loh kok kamu gak bilang?" - Marfel.
'Lah ini aku bilang' - Naila
'Jangan marah, walaupun goncengan, aku gak pegangan kok, aku menaruh tas di tengah, jadi sepanjang jalan aku pegang tas, gak nyentuh Kak Stefan sama sekali.' - Naila
'O' - Marfel.
'Ngambek nih? Makanya nanti aku ambil sepeda motorku aja ya di rumah, biar gak kek gini. Gak enak juga aku kalau gak ada sepeda motor, gak bebas.' - Naila
'Y' - Marfel.
'Hemm cuek banget. Oh ya setelah dari rumah aku ke resto sampai maghrib kayaknya, karena setelah itu aku ada acara' - Naila
'Acara apa?' - Marfel.
"Teman aku yang namanya Rifa itu lagi ulang tahun, aku di suruh datang. Aku gak enak kalau gak datang, soalnya selama ini aku sering nolak ajakan mereka. Gak papa kan?' - Naila.
"Terus gimana dengan aku? Kamu tega biarin aku kesepian, dari pagi loh aku di kamar sendiri, gak ada temen. Dan berharap kamu cepet pulang, tapi kamu malah lebih mengutamakan temen kamu dari pada aku,' - Marfel.
Padahal sebenarnya, Marfel gak pernah sendirian, karena ada mamanya yang menemani dirinya seharian, sampai Naila mau pulang. Baru Mamanya pergi. Tapi Marfel gak mungkin jujur pada Naila. Dan sebenarnya juga, Marfel sudah sehat dan sudah di perbolehkan pulang. Hanya saja, Marfel ingin lebih lama di rumah sakit, agar bisa lebih dekat dengan Naila. Dan bisa mencari perhatiannya, karena jika dirinya gak sakit, gak mungkin dia mendapatkan perhatian dari Naila. Dan tidur satu kamar, walaupun gak satu ranjang sih, tapi paling tidak, sebelum tidur dan setelah bangun tidur, ia bisa melihat Naila. Dan juga bisa makan bareng dan ngobrol lama.
'Sabar ya, lagian kan gak setiap hari. Cuma hari ini aja, gak sampai sejam kok, aku pulang. Aku usahakan sebelum jam delapan aku pulang deh' - Naila.
'Baiklah, hati-hati,' - Marfel.
'Jangan cuek dong, aku sedih.' - Naila
'Aku gak cuek kok,' - Marfel.
"Habis balesnya dari tadi gitu, pendek.' - Naila.
"Nai, itu loh makananya di depan, nanti keburu dingin kalau gak makan," tegur Rani yang ada di samping Naila. Sedangkan yang lain menatap ke arah Naila yang tengah sibuk chatan.
"Hehe ia." Naila menaruh Hpnya di saku dan menikmati mie ayam.
"Kamu chatan sama siapa, Nai. Gak seperti biasanya kamu sampai khusu' banget, kek gitu," tanya Puput.
"Sama saudara," jawab Naila sambil memakan mie ayamnya. Ia menambahkan saos, kecap dan cabe dua sendok. Ia seakan lupa tentang janjinya untuk tak makan pedas terhadap Marfel.
"Oh."
Saat mereka lagi makan, Stefan datang bersama teman-temannya dan duduk di kursi tak jauh dari Naila. Namun Naila, terlihat biasa aja dan cuek banget.
"Kak Stef, nanti ada acara gak?" tanya Ayu.
"Kenapa?" tanya Stefan sambil melihat ke arah Ayu, sesekali ia melirik ke arah Naila yang tengah makan.
"Rifa ulang tahun, kalau Kak Stef gak sibuk, Kakak bisa datang ke rumah Rifa buat merayakan ulang tahunnya," Mendengar hal itu yang lainnya menatap ke arah Ayu. Tak menyangka Ayu akan mengundang Stefan.
"Boleh, rumahnya di mana?" tanya Stefan, sebenarnya ia malas datang, tapi karena ia yakin Naila akan datang, jadi ia akan ikut.
"Di Jalan XX, Kak. Nomer dua belas," jawab Ayu.
"Oke, nanti aku datang. Acaranya jam berapa?"
"Jam delapan, tapi anak-anak kumpul habis maghrib atau paling lambat jam tujuh sih, biar bisa ngobrol dulu biar lama di sana," sahut Ayu.
"Oke. Aku boleh bawa temen?" tanya stefan sambil melihat Roni dan Deon.
"Boleh kok."
"Iya sudah."
Setelah itu tak ada percakapan lagi karena Stefan sibuk mengobrol dengan temannya. Sedangkan Ayu, ia di tatap dengan tatapan horor oleh teman-temannya.
"Kalian tau kan, Rifa itu suka sama Kak Stef. Jadi aku fikir, dengan kedatangan Kak Stef, bisa menambah kebahagiaan Rifa," ujar Ayu tanpa rasa bersalah..
Sedangkan yang lain hanya bisa menghela nafas.
"Tapi seharusnya kamu izin dulu sama Rifa, gak boleh ngundang sembarangan orang," ujar Puput.
"Kalau minta izin dulu, bukan kejutan dong. Aku ingin Rifa terkejut dengan kedatangan Kak Stef di rumahnya," sahut Ayu santai sambil memakan baksonya.
"Terserah kamu deh," ucap Puput pasrah.
Sedangkan Naila tengah berfikir keras. Ia sudah janji ke Marfel, sebelum jam delapan diirinya sudah harus pulang tapi masalahnya acaranya aja di mulai jam delapan. Memikirkan hal itu, seperti membuat kepala Naila mau pecah. Ia bingung antara teman dan Marfel, siapa yang harus ia utamakan.