Novemberain

Novemberain
Kemarahan Naila Terhadap Marfel



Keesokan harinya, Naila bangun alarm Hpnya berbunyi Adzan shubuh. Naila merentangan kedua tangannya dan betapa kagetnya dia melihat dirinya yang tengah tidur di atas brankar dan ia melihat Marfel yang tidur di sofa.


"Astaga, kenapa aku tidur di sini." gumam Naila yang segera turun dari brankar. Tak lupa ia mematikan alarm dari Hpnya itu.


"Mas Marfel yang sakit, malah aku yang tidur di atas brankar," ujar Naila sambil membangunkan Marfel.


"Mas, bangun Waktunya sholat," ucap Naila  membangunkan Marfel dengan pelan. Tak lama kemudian, Marfel pun membuka mata.


"Iya, lima menit lagi ya," ucapnya. Dan Naila pun menganggukkan kepala.


Ia pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, lalu lanjut sikat gigi dan cuci muka. Karena dirinya yang tengah halangan, jadi ia gak perlu mengambil wudhu. Selesai cuci muka, ia menghampiri Marfel lagi yang masih tertidur lelap.


"Mas bangun, dong. Udah siang ini," ujar Naila memukul pelan lengan Marfel.


"Iya, Sayang," ucap Marfel dengan mata tertutup.


"Apaan sayang-sayangan. Ayo bangun, nanti keburu habis loh waktunya." Naila terus memukul pelan lengan Marfel hingga akhirnya Marfel membuka mata lagi.


"Aku sudah bangun dari tadi."


"Terus kenapa masih tutup mata."


"Ya gak papa, pengen nikmati aja."


"Alasan," cibir Naila.


Marfel bangun dari sofa, terus pergi ke kamar mandi sambil memegang tiang yang terhubung dengan infusnya. Sedangkan Naila ia merapikan ruangan, dan membuang sampah di depan. Setelah itu, ia lanjut membersihkan meja dan lain sebagainya.


"Oh ya Mas, rantang yang kemaren mana?" tanya Naila. Karena melihat rantang sudah tak ada di meja.


"Sudah di ambil," jawab Marfel dari dalam kamar mandi.


"Di ambil siapa?"


"Mama."


"Loh bukannya Mama Mas Marfel pergi keluar kota," sahut Naila heran.


"Maksud aku orang suruhan Mama, Nai," ujar Marfel sambil memukul kecil mulutnya karena keceplosan barusan.


"Oh."


"Mas, ini bajuku kemana?" tanya Naila panik.


Marfel yang sudah selesai sholat, langsung melihat ke arah Naila.


"Oh, itu. Sudah aku kemas ke dalam plastik Nai."


"Ya Allah, Mas. Terus dimana plastiknya?" tanya Naila kaget.


"Sudah aku berikan ke Mbak-Mbak tukang loundry."


"Ya Tuhan ....." Naila benar-benar frustasi kali ini.


"Kenapa sih, Nai?" tanya Marfel bingung.


"Mas tuh yang apa-apaan. Itu ada BH dan CD ku loh, Mas."


"'Terus kenapa?"


"Ya aku malu lah, Mas. Seharusnya cukup baju dan rokku serta jilbabnya aja, jangan ********** juga. Aku malu."


"Terus gimana dong?" tanya Marfel menyesali perbuatannya.


"Iya, mau gimana lagi. Sudah terlanjur," ujar Naila pasrah.


"Maaf ya," ucap Marfel merasa bersalah.


"Iya sudah gak papa, sudah kejadian juga kan. Aku mau beli makanan di kantin, Mas mau nitip apa?" tanya Naila yang berusaha untuk meredamkan emosinya.


"Apa aja, Nai," ujar Marfel yang tak mau berbuat ulah, karena tau dirinya sudah melakukan kesalahan.


"Iya sudah aku mau ke bawah dulu, mau beli makanan."


"Iya."


Sebenarnya Marfel selalu di sediakan makanan dari pihak rumah sakit, hanya saja kadang ia malas untuk makan makanan rumah sakit, ia suka makan makanan yang di jual di kantin, resto atau di luaran sana yang tentunya rasanya lebih enak, lagian dirinya kan gak sakit sepenuhnya, walaupun kadang kepalanya masih nyut-nyutan di saat-saat tertentu.


"Uangnya ada?" tanya Marfel saat Naila sudah buka pintu kamar.


"Iya." Dan setelah itu, tanpa menoleh, Naila menutup pintunya dan pergi ke kantin di lantai bawah. Marfel pun hanya bisa menghembuskan nafas, niatnya ingin bantu Naila, siapa sangka, malah ia membuat kesalahan yang bikin Naila kesal.