
Keesokan harinya, Naila bangun shubuh. Lalu ia segera cuci muka dan sikat gigi dan pergi ke dapur, di mana di sana ada Ibu Maria dan Bibi yang tengah memasak. "Apakah Nai boleh bantu, Tan?" tanya Naila sopan.
"Boleh-boleh, tapi kamu beneran sudah sehat kan?" tanya Ibu Maria memastikan.
"Sudah, Tan. Malah seger banget sekarang, mungkin karena tadi malam juga tidurnya lebih awal," sahut Naila sambil mengangkat kedua tangannya dan memperlihatkan tenaganya yang benar-benar sudah pulih. Melihat hal itu hanya membuat Ibu Maria tertawa.
"Ya sudah kamu bisa bantu Tante buat motong sayuran. Bibi, bibi kerjakan yang lain aja ya. Biar saya masak bareng calon menantu saya," ucap Ibu Maria membuat wajah Naila merah merona. Sang Bibi pun langsung pergi dari sana karena tak mau mengganggu kebersamaan majikan dan calon majikan yang baru itu.
Naila dan Ibu Maria pun memasak bareng, mereka juga berbagi tentang resep makanan. Naila juga tak takut memberikan resep masakan di restoranya karena ia percaya, Ibu Maria gak mungkin tega mengkhianatinya. Jadi misalnya Ibu Maria tahu, mungkin hanya untuk di masak untuk keluarganya saja, bukan untuk membuka restoran dan bersaing dengan resto milik Bundannya.
Setelah sejam memasak berbagai macam menu, Naila pun menyajikan semua itu di atas meja.
"Nai, kamu panggil Marfel sana, gak biasanya dia jam segini belum bangun," ujar Maria.
"Iya, Tan," jawab Naila. Ia pun segera mencuci tangannya dan berjalan ke arah kamar Marfel yang ada di sebelah kamarnya. Ia mengetuk pintu kamarnya, dan ternyata gak ada jawaban. Akhirnya ia pun membuka pintu itu pelan-pelan dan melihat Marfel yang tengah tertidur di atas sejadah. Mungkin Marfel tidur lagi setelah selesai sholat shubuh.
Naila pun menghampirinya dan membangunkan Marfel. "Mas, bangun. Sudah pagi," ujar Naila. Namun tak ada jawaban.
"Mas, ayo bangun. Ini sudah jam enam loh," ucap Naila lagi sambil menepuk-nepuk lengan Marfel. Beberapa menit kemudian, Marfel pun membuka matanya.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
"Mas marah sama aku?" tanya Naila sok, karena tak biasanya Marfel bersikap dingin padanya.
"Gak kok," ujar Marfel sambil bangkit, ia melepaskan baju kokonya dan sarungnya hingga menyisakan baju koas pendek dan celana pendek sampai lututnya.
"Tapi kenapa sikap Mas kek gitu?"
"Emang kenapa dengan sikap aku?" tanya Marfel sambil duduk di kursi kerjanya sambil memainkan hpnya. Sedangkan Naila ia berdiri dan duduk di pinggir kasur sambil menghadap ke arah Marfel.
"Dingin. Apa karena tadi malam?" tebak Naila namun Marfel memilih diam.
"Jadi benar, karena tadi malam ya," ujar Naila sambil menghampiri Marfel.
"Aku minta maaf ya, Mas. Maaf karena tadi malam sikap aku keterlaluan. Aku janji gak akan seperti itu lagi dan membuat Mas Marfel marah sama aku, aku khilaf tadi malem. Aku benar-benar minta maaf," ujar Naila sambil berlutut di depan Marfel yang tengah duduk. Ia memegang tangan Marfel dan melihat ke arah wajah Marfel yang masih berwajah datar.
"Mas, maafin aku dong. Aku harus apa, biar Mas maafin aku," ucap Naila dengan raut wajah sedih.
"Mas." Naila menggoyang-goyangkan tangan Marfel, namun Marfel tak menanggapinya.
'Maafin aku, Nai. Tapi aku harus melakukan ini, agar kamu tidak lagi menyakitiku di masa depan. Aku tak ingin jika kamu membantah ucapan aku, karena itu akan membuat aku sedih, marah dan kecewa,' gumam Marfel dalam hati.
"Iya sudah jika Mas Marfel gak mau maafin aku, gak papa. Aku tau, aku salah. Aku akan pergi mandi dulu, nanti jika Mas Marfel sudah gak marah lagi, Mas bisa bilang sama aku ya," tutur Naila dan Marfel hanya diam saja.
Naila bangkit dari duduknya dan ia melangkahkan kakinya menuju kamar sebelah untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Setengah jam kemudian, Naila pun sudah siap, ia segera pergi menuju ruang makan, di mana di sana tiga orang sudah menunggu dirinya.
"Maaf, Nai terlambat lagi," ujar Naila sambil duduk.
"Gak papa, Nai. Ayo makan, ini sudah siang, nanti kamu terlambat," ucap Ibu Maria dan Naila pun menganggukkan kepala. Dengan sigap, ia mengambil nasi dan lauk pauk untuk Marfel lalu ia mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri.
Selesai makan, Pak Atmaja berangkat lebih dulu. Awalnya Pak Atmaja menawarkan untuk berangkat bareng Marfel dan Naila, toh mereka satu tujuan. Namun Marfel menolaknya. Pak Atmaja pun tak memaksanya dan memilih untuk berangkat lebih dulu.
"Ini, Tante bawain kamu bekal," ujar Ibu Maria dengan memberikan bekal untuk di bawa Naila ke sekolah.
"Makasih, Tan," balas Naila yang merasa jika Ibu Maria terlalu baik padanya.
"Jangan jajan sembarangan ya, kamu masih baru sembuh. Jadi harus makan-makanan yang sehat dulu," tuturnya mengingatkan.
"Iya, Tan," balas Naila.
"Kalau gitu, aku berangat dulu ya, Ma," tutur Marfel sambil mencium tangan Ibu Maria.
"Nai juga mau berangkat, Tan." Niala pun melakukan hal yang sama, ia mencium tangan Ibu Maria.
"Marfel, hati-hati ya nyetirnya, kamu lagi bawa anak orang, jangan sampai lecek sedikitpun,"
"Iya, Ma. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Lalu setelah itu, Naila pun masuk ke dalam mobil dan duduk di depan, di samping Marfel yang tengah mengemudi. Sepanjang jalan, tak ada yang bicara. Mereka diam seribu bahasa. Naila juga tak berani lagi memainkan hpnya jika ada Marfel, takut jika Marfel akan semakin marah karena merasa di abaikan.
"Mas, nanti berhenti di pertigaan aja ya," ujar Naila dan Marfel hanya menjawa dengan deheman, dan itu membuat Naila hanya bisa menghela nafas.
Setelah sampai di pertinggan, barulah Naila turun dari mobil dan ia berjalan menuju gerbang sekolah sambil membawa bekal yang dibuatkan oleh Ibu Maria.
Sedangkan Marfel ia juga masuk ke lingkungan sekolah dan memarkirkan mobilnya di sana, lalu masuk ke dalam ruangannya setelah menyapa beberapa guru yang ada di bercerngkaram di depan ruangannya.
Naila sendiri, saat ia masuk ke dalam kelas, langsung di sambut oleh teman-temannya, bahkan mereka seakan-akan gak pernah bertemu bertahun-tahun lamanya, padahal juga baru sehari doang.
"Nai, kamu sudah sembuh?" tanya Rifa setelah Naila duduk di sampingnya.
"Iya, kalau aku gak sembuh, gak mungkin aku masuk hari ini," jawabb Naila.
"Kamu kemaren ada di mana sih, aku sama anak-anak pergi ke rumah kamu tapi malah tutupan," tanya Rani. Ia duduk di belakang Naila dan duduk sebangkku dengan Puput.
Biasanya Naila yang duduk bareng Rani, gka tau kenapa sudah di tukar seperti ini dan Naila pun tak mempermasalahkan dengan siapa dirinya duduk, toh baginya sama aja.
"Ya aku di rumah sakit, jadi gak ada di rumah," ucapnya. Naila gak berbohong kan, karena memang paginya masih ada di rumah sakit, walaupun setelah itu, ia pulang ke rumah Marfel.
"Ya ampun, tau gitu aku dan anak-anak yang lain pergi ke rumah sakit, Nai," sahut Rani dan teman teman yang lain pun menganggukkan kepala.
"Sudahlah, yang penting kan aku sudah sembuh dan sudah bisa masuk sekolah lagi," tutur Naila.
"Iya juga sih."
Mereka pun mengobrol santai hingga bell berbunyi dan jam pelajaran pertama pun akan segera di mulai.