Novemberain

Novemberain
Kekecewaan Alfa Terhadap Sikap Naila Padanya



Sepulang sekolah, Naila pergi ke resto lebih dulu. Tak lama hanya sebentar saja, ia pergi ke Lala's Restaurant satu dan dua. Namun saat Naila tiba di resto, ia melihat Alfa yang tengah  makan sendirian. Naila pun pura-pura tak melihatnya, namun saat ia berjalan melewati Alfa, Alfa langsung membuka suara.


"Kamu ingin mencoba menghindar dariku, Nai?" celetuk Alfa yang merasa kecewa. Padahal dirinya rela makan di sini, hanya ingin bertemu Naila dan mengobrol dengan Naila. Tapi sayangnya, Naila seperti ingin menjauh darinya. Dia mungkin lupa, Naila mau berteman dengan Alfa, karena Alfa adalah sahabat Fahmi. Kalau bukan karena Fahmi, Naila mungkin males untuk berteman dengan Alfa, mengingat Alfa seperti tertarik padanya. Terlebih ia juga tak mau membuat Rani salah faham padanya yang berujung musuhan karena mengira Naila PDKT dengan Alfa.


Padahal kenyataannya, kini ia tengah dekat dengan gurunya sendiri yaitu Marfel. Jadi ia tak mungkin bisa dekat dengan laki-laki lain selain Marfel, karena untuk saat ini dan mungkin untuk ke depannya, ia hanya ingin bersama Marfel, laki-laki yang membuat dirinya nyaman saat berada di dekatnya, laki-laki yang bisa membuat dirinya menjadi apa adanya.


"Kata siapa, Kak? Maaf tadi aku gak lihat kalau ada Kak Alfa di sini," jawabnya berbohong. Karena tak enak hati, Naila pun akhirnya duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Kak Alfa.


"Gimana kabar kamu, Nai?" tanya Alfa sambil menyudahi makannya yang emang sudah bersih, habis tak tersisa. Hanya menyisakan minuman yang sisa setengah.


"Seperti yang kakak lihat, aku baik. Kabar Kak Alfa gimana?" tanya balik Naila.


"Aku baik juga, Nai," sahut Alfa tersenyum, senyuman Alfa emang manis dan meneduhkan, sayangnya itu tak akan mempan untuk Naila.


"Kamu baru pulang sekolah?" tanya Alfa melihat Naila masih menggunakan seragam sekolahnya.


"Iya, Kak," jawab Naila sekedarnya.


"Aku ada salah ya Nai sama kamu?" tanya Alfa merasa sedih karena Naila tak seperti biasanya. Naila sendiri bukan ingin menjadi cewek cuek gini, hanya saja ia sudah berjanji kepada Marfel, bahwa ia akan jaga jarak dengan laki-laki lain dan tak ingin memberikan harapan palsu pada laki-laki yang tengah menyukai dirinya. Karena itu bisa menyakiti laki-laki itu sendiri jika dia sampai tau, cintannya hanya bertepuk sebalah tangan.


"Gak, Kak."


"Tapi kenapa kamu gak seperti biasanya, Nai."


"Aku hanya lelah, Kak. Karena aku baru pulang sekolah, aku juga banyak kerjaaan di sini, dan setelah ini aku harus pergi ke suatu tempat."


"Kamu mau kemana, biar aku yang antar," ujar Alfa.


Naila menggelengkan kepalanya, "Ini rahasia, Kak. Maaaf."


"Oh gitu, iya sudah gak papa."


"Kalau gitu, aku pamit ke ruanganku dulu ya, Kak. Soalnya waktunya aku di sini juga gak lama," pamit Naila sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Iya." Alfa menjawab dengan suara lemahnya. Entah kenapa ia yakin jika Naila berusaha menjaga jarak dengannya. "Apa aku sudah melakukan kesalahan yang membuat Naila mencoba untuk menjauhiku?" gumam Alfa dalam hati.


Setelah menghabiskan minumannya, Alfa segera membayarnya dan pergi dari sana. Buat apa dia lama-lama berada di resto itu, jika Naila aja enggan untuk menemani dirinya mengobrol lebih lama.


Sedangkan Naila yang ada di ruangannya hanya bisa menghela nafas, ia tak menyangka harus menghadapi dua laki-laki yang harus ia hindari. Kak Stefan dan Kak Alfa. Kadang Naila heran, kenapa dia harus di sukai oleh laki-laki yang di sukai oleh temannya sendiri. Seperti Rifa yang suka kepada Kak Stefan dan Rani yang suka sama Kak Alfa.


Jika Naila dekat sama kedua laki-laki itu, bisa-bisa pertemannya dengan Rifa dan Rani bisa bubar gara-gara laki-laki dan Naila tak mau itu terjadi.


Naila menghidupkan komputernya dan mengerjakan pekerjaannya, tapi tak lama hanya sekitar dua puluh menit saja. Setelah itu, ia menemui Mbak Ika kepercayaannya untuk menanyakan beberapa hal, setelah selesai, lanjut ia pergi ke dapur untuk melihat pekerjaan para chef dan pekerjaa lainnya dan melihat setiap ruangan yang ada. Ia takut, ada yang kurang bersih dan lainnya. Karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk semua pelanggannya, bagaimanapun tempat yang bersih akan menambah point plus untuk mereka.


Setelah puas, Naila pergi ke resto satunya dan ia melakukan hal yang sama.


Jam setengah empat sore, barulah Naila pergi menuju rumah sakit. Sebelum pulang, Naila juga sudah memberitahu Marfel, mungkin Marfel ingin menitip sesuatu padanya.


"Mas, bentar lagi aku pulang. Kamu mau nitip apa?" ketiknya.


"Aku gak nitip apa-apa, Nai. Kamu langsung ke sini aja, aku kesepian di sini, sendirian."


"Oke."


Setelah itu, Naila pun langsung pergi ke rumah sakit tanpa mampir-mampir lagi.


Sedangkan di rumah sakit, Marfel masih ditemani mamanya.


"Naila mau ke sini, Ma," ucap Marfel memberitahu.


"Iya sudah, kalau gitu Mama pulang dulu ya. Kamu baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa, telfon Mama."


"Iya, Ma. Lagian aku ini bukan anak kecil lagi, aku bisa jaga diri baik-baik."


"Iya, Mama percaya. Hanya sebagai seorang Ibu, Mama tetap khawatir sama kamu," sahut Ibu Maria.


Lima belas menit setelah Ibu Maria pulang, Naila pun akhirnya datang.


"Assalamualaikum, Mas. Maaf ya aku lama pulangnya, soalnya tadi ke resto dulu," ujar Naila sambil menghampiri Marfel dan mencium tangan Marfel, layaknya Istri yang tengah mencium tangan suaminya.


"Waalaikumsalam, gak papa. Kamu sudah makan, Nai?" tanya Marfel.


"Sudah, Mas. Tadi aku makan di resto. Mas sendiri sudah makan?" tanyanya.


"Sudah, kok. Aku makan sisa tadi pagi yang masih ada," jawab Marfel.  Naila pun menganggukkan kepala, ia menaruh tasnya di dalam lemari, lalu membuka kaos kaki dan sepatuhnya. Lalu ia berjalan ke arah kulkas dan mengambil minuman dari sana, ia meminum air dingin itu hingga sisa setengah, lalu sisanya ia taruh lagi di kulkas. Ia juga mengambil roti bakar yang ia beli tadi malam dan belum sempat ia makan.


Ia berjalan di kursi samping brankar dan membuka kardus yang berisi roti bakar itu.


"Katanya sudah makan, Nai?" tanya Marfel.


"Aku emang sudah makan, Mas. Aku hanya gangguk aja, lagian juga aku lihat roti bakar yang belum di makan, kan eman. Jadi aku makan aja," jawab Naila sambil memakan roti bakarnya.


"Kamu gak ganti baju dulu, itu kan mau di pakai besok?" ujar Marfel.


"Aku masih ada cadangan kok. Nanti aku pakai yang cadangan aja, lagian ini sudah baju keringat, sekalian nanti malam mau di loundri aja," sahut Naila yang menikmati roti bakar isi selai melon dan coklat.


"Mas mau?" tawar Naila dan Marfel pun menganggukkan kepala.


Naila pun menyuapi Marfel, walaupun Marfel  masih kenyang, namun ia tak menolak suapan dari Naila.


"Tadi gimana sekolahnya?" tanya Marfel.


"Ada kejadian gak enak tadi," jawab Naila lesu.


"Kenapa?" tanya Marfel penasaran.


"Tadi pagi, Kak Stefan mendatangi aku saat aku baru turun dari taxi dan dia protes karena nomernya di blok, terus cekcoklah di sana. Lalu id kelas aku jadi marah-marah sama semua teman-teman aku, karena aku berfikir di antara mereka ada yang memberitahu nomer aku ke Kak Stefan, namun tak ada yang mengaku, dan ternyata yang ngasih tau nomer aku itu Rifa, yang baru datang. Ingin rasanya kau marah, tapi karena melihat Rifa seperti menyesali perbuatannya aku pun sudah memaafkannya."


"Maafin aku ya, gara-gara aku blok nomer Stefan, malah kamunya yang kena masalah."


"Gak papa, santai aja."


"Terus tadi yang gantiin aku ngajar siapa? Bukannya tadi ada jam pelajaran aku ya di kelas kamu."


"Pak Ganjar."


"Oh, terus masalah resto gimana? Aman?"


"Sejauh ini sih aman, tadi aku juga ketemu Kak Alfa di resto, dia kebetulan lagi makan di sana, awalnya sih aku pura-pura gak lihat, tapi karena Kak Alfa menyindir aku, akhirnya aku pun duduk dan mengobrol sebentar dengannya."


"Hemm kamu tuh terlalu cantik, Nai. Makanya banyak yang suka."


"Sayangnya aku gak suka sama maka mereka, Mas. Bukan gak suka dalam artian, aku gak mau berteman, hanya saja aku merasa risih jika ada yang mempunyai perasaan lebih ke aku. Soalnya aku gak akan bisa balas perasaan mereka."


"Termasuk aku?" tanya Marfel.


"Selain Mas," jawab Naila yang membuat Marfel senang.


"Iya sudah, mandi dulu gih," ujar Marfel.


"Kenapa? Aku kecut ya?"


"Bukan kecut, emang kamu enak seharian gak mandi dan masih pakai seragam sekolah?" tanyanya.


"Iya juga sih, ya sudah aku mandi dulu ya."


Naila bangkit dari tempat duduknya, lalu ia membuang kardus yang sudah kosong itu ke tempat sampah. Dan setelahnya ia mengambil handuk dan pakaian di dalam lemari untuk ia pasang di kamar mandi nantinya.