
Pagi harinya, Naila dan Ila bersih bersih bareng dan masak bareng. Selesai masak, merekapun makan bareng di meja makan.
"Sayang?" Panggil Ila.
"Iya bunda." Jawab Naila setelah ia selesai makan suapan terakhirnya. Setelah itu, ia mencuci tangan di baskom yang sudah terisi air yang emang di gunakan untk mencuci tangan. Selesai mencuci tangan, ia mengambil serbet warna orange yang ada di atas meja dan membersihkan tangannya yang masih basah.
"Nanti bunda akan pergi keluar kota dan kemungkinan selama satu minggu." Ujar Ila.
"Kenapa lama sekali bunda?" tanya Naila heran.
"Bunda akan membuka cabang di sana sayang." Jawab Ila.
"Di sana mana bunda?" tanya Naila yang masih belum mengerti.
"Di Bali. Di sana kan banyak turis yang singgah di Bali jadi bunda mau coba buka cabang di sana. Kalau sukses dan berjalan lancar, bunda akan coba di kota kota yang lain nak biar resto kita bisa maju dan berkembang." Jawab Ila.
"Baiklah biar nanti resto yang ada di Jakarta aku yang ngurus bun." Jawab Naila.
"Emang gak papa kamu ngurus dua resto sekaligus?" tanya Ila.
"Gak papa bunda santai aja, aku pasti bisa kog." Jawab Naila tersenyum.
"Makasih ya nak, kamu emang putri kebanggaan bunda. Bunda sangat bahagia dan merasa sangat bersyukur karena telah melahirkan kamu yang kini menjadi bidadari di hati bunda. Semoga kelak kamu bisa mendapatkan kebahagiaan yang belum pernah bunda berikan untukmu." Ujar Ila.
"Bunda apaan sih, aku sudah bahagia tinggal sama bunda dan sangat sangat bahagia." Ucap Naila.
"Syukur Alhamdulillah jika kamu bahagia tinggal sama bunda. Kalau gitu, bunda mau mandi dulu ya mau siap siap." Ujar Ila.
"Iya bunda, aku mau bersihkan ini dulu setelah itu langsung mandi dan berangkat sekolah." Ucap Naila.
"Iya sudah jangan lama lama bersih bersihnya, nanti telat."
"Iya bunda."
Setelah bundannya pergi untuk mandi, Ila segera membersihkan piring piring yang kotor mengumpulkannya menjadi satu lalu mencucinya. Setelah selesai mencuci piring, ia segera pergi ke kamarnya untuk mandi. Tak butuh waktu lama untuk mandi hanya sekitar lima belas menit saja. Selesai mandi, ia segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu memakai seragam sekolah tak lupa ia memakai make up. Selesai memakai make up, ia mendengar bundannya memanggil.
"Naila."
"Iya bunda," jawab Naila.
"Bunda berangkat dulu, kamu jaga diri baik baik. Nanti uang jajan kamu akan bunda transfer." Ujar Ila.
"Iya bunda."
"Bunda berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Ujar Ila.
Naila pun gak bisa mengantarkan bundannya sampai depan rumah karena ia sendiri juga sibuk untuk beres beres buku yang akan ia bawa ke sekolah. Setelah memasukkan buku pelajarannya, ia segera membereskan kamarnya yang sudah seperti kapal pecah. Setelah beres beres kamar, ia segera mengambil kunci sepeda motor lalu segera berangkat. Namun betapa apesnya dia karena saat sepeda motornya mau di hidupkan ternyata gak hidup hidup. Ia pun memikir sejennak.
Kalau di bawa ke bengkel itu gak mungkin, ia pasti telat. Naila pun memasukkan sepedanya ke tempat semula, ia segera berlari ke jalan raya dan mencoba untuk menghentikan angkot. Namun sudah 10 menit ia menunggu, tak ada angkot yang lewat sedangkan 18 menit lagi pagar sekolah pasti akan di tutup. Naila cuma bisa pasrah dan berdoa semoga akan ada keajaiban di pagi ini agar ia tak telat masuk sekolah. Belum juga ia selesai berdoa, tiba tiba ada mobil yang berhenti di depannya.
"Masuk." Ucap seseorang sambil membuka pintu mobil di sampingnya.
"Tapi......."
"Kamu mau telat?" tanya seseorang yang ternyata dia adalah Marfel, guru yang selalu membuat Naila naik darah.
Naila pun tak ada pilihan selain naik ke dalam mobil dan duduk di samping Pak Marfel.
Sepanjang jalan tak ada satupun yang berbicara, Marfel memilih untuk fokus ke depan sedangkan Naila merasa gelisah, ia merasa tak nyaman satu mobil dengan Pak Marfel karena takut ketemu dengan murid yang lain yang akhirnya akan ada gosip ini dan itu. Sedangkan Naila paling benci jika dirinya di gosipin apalagi jika gosip yang tesebar itu tidaklah benar.
"Kenapa diam?" tanya Marfel berusaha mencairkan suasana melihat muridnya yang dari tadi gelisah.
"Anu pak, bingung mau ngomong apa." Jawab Naila berusaha untuk menetralkan perasaannya.
"Kenapa bingung, kalau mau ngomong. Ngomong aja, gak perlu takut. Aku gak mungkin gigit kamu." Ujar Marfel santai.
"Eh, iya pak." Jawab Naila gugup.
"Gimana hukumannya yang saya berikan kemaren? Sudah selesai belum?" tanya Marfel yang ingat dengan hukuman yang ia berikan kemaren kepada Naila yang diam diam telah membicarakn dirinya.
"Sudah pak, bentar ya." Jawab Naila sambil mengambil buku dari dalam tas nya.
"Ini pak." Ujar Naila sambil menyodorkan buku yang ia pegang. Marfel pun mengambil buku itu dan menaruhnya di depan kemudi.
"Lain kali jangan suka ngomongin orang di belakang." Ujar Marfel menasehati.
"Iya pak, maaf. Saya janji gak akan mengulanginya lagi." Ucap Naila.
"Baguslah. Awas aja jika sampai aku dengan kamu berbicara yang tidak tidak di belakang saya, saya tak akan segan segan memberikan hukuman yang lebih berat dari ini." Ancam Marfel.
"Iya pak, saya janji tak akan mengulanginnya. Dan yang kemaren itu adalah yang terakhir." Ujar Naila gugup.
"Sip." Ucap Marfel, ada senyum tipis di bibirnya hanya saja Naila tak melihatnya.
Setelah hampir sampai di sekolah, Marfel menghentikan mobilnya dan meminta Naila turun karena ia tak ingin terlihat oleh siapapun. Naila pun mengerti, ia segera turun dari mobil gurunya itu. Setelah Naila turun, Marfel segera melanjutkan mengemudi mobilnya dan memasuki area sekolahan dan langsung menuju parkir mobil.