Novemberain

Novemberain
Aku sayang kamu




 


Setelah Fahmi sembuh, seperti janji Naila kemaren, ia akan mengajak Fahmi jalan. Dan kini mereka berada di taman menikmati Es Kepal.


 



"Makasih ya Nai."


"Makasih untuk apa kak?"


"Sudah menemani aku jalan." Jawab Fahmi tersenyum.


"Hemmm sama sama kak. Aku bahagia kakak sudah sembuh dan kini bisa makan es bareng aku." Ujar Naila sambil menikmati es kepal yang ia pegang.


"Kapan kapan kita jalan jalan lagi ya." ujar Fahmi.


"InsyaAllah kak, aku gak janji." ucap Naila karena memang ia gak bisa janji, takut jika ia tak bisa menepatinya. Kemaren aja dia janji, serasa seperti punya hutang dan alhamdulillah kini janji itu sudah bisa di tepati, coba kalau enggak mungkin sampai saat ini ia masih saja kefikiran.


"Kamu gimana ujiannya?" tanya Fahmi, ia tau bahwa Naila dari kemaren sudah mulai ujian dan tadi pagi adalah hari kedua dia ujian.


"Alhamduulillah lancar." Jawab Naila ramah.


"Syukur Alhamdulillah kalau gitu. Bunda kamu kapan pulang?" tanya Fahmi lebih lanjut.


"Entahlah kak, katanya sih satu minggu tapi ini sudah hampir 10 hari tapi belum juga pulang."


"Emang gak di telvon?" tanya Fahmi.


"Udah kak, katanya dia gak bisa pulang sebelum urusan yang di sana selesai."


"Oh, kamu gak takut di rumah sendirian?" tanya Fahmi.


"Gak kak, mungkin karena sudah terbiasa." Ujar Naila tersenyum.


"Apa perlu aku cari kontrakan rumah di dekat rumah kamu biar aku bisa menjaga kamu selama bunda kamu gak ada." ucap Fahmi.


"Gak perlu kak, aku gak perlu di jaga. Walaupun bunda gak ada di samping aku tapi ada Allah yang selalu menjaga aku di manapun aku berada. Aku percaya Allah akan selalu ada buat aku dan melindungi aku. Aku percaya sama Allah, aku gak takut sama siapapun kecuali sama Allah."


"Kamu memang beda dengan wanita yang lain." Puji Fahmi.


"Aku sama seperti mereka kak, aku seperti ini karena aku mau belajar agama lebih dalam lagi hingga membuatku takut akan dosa."


"Apakah kamu takut berduaan sama aku?"


"Aku gak pernah takut berduaan sama kakak, aku percaya kakak gak mungkin melakukan hal hal yang gak baik terhadapku. Yang aku takutkan itu adalah dosanya kak. Aku duduk berduaan ini bagiku sudah dosa. Karena secara tidak langsung kita sudah zina mata, karena kita sering bertatapan secara langsung. Kita sudah zina hati, karena kita mencintai seseorang yang masih belum halal untuk kita."


"Apakah kamu mencintai aku?" tanya Fahmi.


"Maksud kakak?"


"Tadi kamu bilang kita zina hati karena kita mencintai seseorang yang masih belum halal untuk kita? Itu artinya kamu mencintai aku kan?"


"Maaf kak, aku gak bisa jawab."


"Gak masalah, gak perlu kamu jawab. Aku sudah tau jawabannya. Aku juga sangat menyayangi dan mencintai kamu." ucap Fahmi tersenyum. Naila hanya mengangguk dan bingung harus bicara apa.


"Nai?" Panggil Fahmi setelah mereka sama sama diam sekitar 10 menit.


"Aku sayang sama kamu, kelak jika aku gak ada. Aku harap kamu jangan menangisi kepergianku ya. Aku gak mau liat kamu sedih, kamu harus bisa melupakan aku dan berusaha untuk membuka hati untuk orang lain. Aku percaya di luar sana ada laki laki yang sangat menyayangi dan mencintai kamu."


"Kenapa kakak selalu bicara seperti itu terus sih." Ucap Naila kesal.


"Aku hanya takut Nai, aku takut saat aku pergi aku gak sempat pamit  sama kamu. Jadi sebelum aku benar benar pergi, aku ingin mencurahkan isi hatiku sama kamu. Agar kamu tau apa yang aku rasakan selama ini. Nai, aku sayang kamu, bagi aku kamu itu cinta pertama dan terakhir untuk ku. Aku pun merasa bahagia karena aku tau, cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Terima kasih Nai, terima kasih sudah memberikan aku perhatian, terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan, terima kasih sudah mencintai aku dan mengajari aku apa itu cinta. Aku sangat bahagia karena bisa mencintai orang yang tepat. Andai aku bisa meminta sama tuhan, aku ingin bisa hidup lebih lama lagi agar aku terus bersama kamu seperti ini." Ujar Fahmi tersenyum.


"Sudahlah kak, jangan bahas kematian. Aku gak suka." Ucap Naila.


"Nai, cepat atau lambat. Aku pasti akan meninggalkan kamu."


"Kita gak pernah tau takdir kita masing masing kak, bisa jadi aku yang mati duluan. Bahkan kita tak pernah tau apa yang akan terjadi selama satu menit ke depan, satu jam ke depan, satu hari kedepan. Tak ada yang tau kak. Bahkan jika ada dokter yang memvonis orang akan mati dalam hitungan hari tapi jika Allah berkehendak lain,dia pasti akan tetep hidup hingga puluhan tahun. " Ujar Naila.


"Iya kamu benar Nai. Maafkan aku."


"Bolehkah aku main hujan untuk hari ini aja bersama kamu." Pinta Fahmi.


"Gak bisa kak, aku gak mau kakak sakit lagi. Ayo buruan" Ujar Naila tapi Fahmi tetep duduk santai di kursi sambil menatap langit.


"Nai, aku suka hujan dan aku juga tau kamu suka hujan. Ayo kita hujan hujanan lagi."


"Aku gak mau kak. Aku emang suka hujan tapi aku gak suka jika hujan menyebabkan kakak sakit." Ucap Naila.


"Aku gak akan sakit lagi Nai. Percayalah sama aku." Pinta Fahmi sekali lagi.


"Ka, kakak baru aja sembuh jika kakak kena hujan lagi, kakak bisa sakit lagi dan aku gak mau itu terjadi."


"Aku mohon Nai, kali ini aja. Tolong kabulkan keinginanku." Ujar Fahmi.


"Baiklah tapi jangan lama lama ya." ucap Naila yang akhirnya mengiyakan walau sebenarnya hatinya berat.


"Tapi bentar ya kak, aku masih mau menghubungi seseorang." Ujar Naila, tanpa menunggu jawaban Fahmi, ia mengirim pesan kepada Alfa untuk segera datang ke tempatnya, ia takut jika Fahmi kenapa napa lagi mengingat ia belum sembuh total.


Setelah mengirim pesan kepada Alfa, Naila pun kembali duduk di samping Fahmi.


"Makasih ya Nai, kamu sudah mau memenuhi permintaanku." Ujar Fahmi tersenyum.


"Ia sama sama kak." Ucap Naila padahal ia saat ini lagi menghawatirkan keadaan Fahmi tapi ia juga tak bisa menolak keinginan Fahmi.


"Nai?"


"Iya kak?"


"Satu tahun lagi kamu akan lulus di usia kamu yang 18 tahun. Dan setelah itu kamu akan kulyah, kamu mau ambil jurusan apa?" tanya Fahmi.


"Aku sebenarnya pengen jadi dokter kak tapi melihat bunda yang punya bisnis, membuatku berfikir ulang mungkin aku akan mengambil jurusan manajemen bisnis."


"Bolehkah jika aku meminta kamu jadi dokter saja. Dan bisa menyembuhkan orang lain."


"Kenapa kakak bicara seperti itu?"


"Entahlah rasanya aku ingin sekali melihat kamu berpakaian seperti dokter, pasti kamu terlihat canti berpakaian seperti itu."


"Jika kakak ingin seperti itu, aku akan melakukannya. Setelah lulus sekolah aku akan mendaftar di universitas kedokteran tapi aku juga akan belajar masalah bisnis pada orang lain terutama bunda karena aku ingin bisa membahagiakan bunda dan membantu bunda mengelola usahanya."


"Makasih ya Nai. Makasih sudah menuruti keinginanku." Ujar Fahmi tersenyum.


Tak lama kemudian, tiba tiba hujan turun dengan begitu derasnya.


"Ka, ayo kita cari tempat untuk berteduh." Ajak Naila.


"Gak usah Nai, kita nikmati hujan ini berdua. Bukankah kamu suka hujan. Aku ingin menemani kamu main hujan Nai." Ujar Fahmi sambil merentangkan kedua tangannya dan wajahnya melihat ke atas sambil memejamkan mata.


"Nai, aku berdoa semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untukmu." Ucap Fahmi.


"Ka, ayo kita berteduh. Aku emang suka hujan tapi gak gini caranya. Ayo kak." Untuk pertama kalinya, Naila memegang tangan Fahmi hingga  membuat Fahmi kaget. Namun ia tersenyum sambil melihat wajah orang yang ia sayang.


"Ka, hidung kakak berdarah." Ujar Naila panik melihat ada darah yang menete dari hidung Fahmi. Sedangkan Fahmi hanya bersikap biasa aja, karena ia tau apa yang akan terjadi jika ia terlalu lama kena air hujan. Tubuhnya yang lemah dan penyakit yang tak kunjung sembuh membuat Fahmi putus asa.


"Kak." Panggil Naila, ia mengambil saputangan dan membersihkan darah yang terus mengalir dari hidungnya.


"Ayo kak." Ucap Naila menarik tangan Fahmi untuk berteduh tapi Fahmi tetep bertahan di tempatnya.


"Nai, aku sayang kamu." Ujar Fahmi dan setelah mengatakan itu, ia jatuh pingsan. Naila yang merasa sok langsung berteriak meminta tolog kepada orang orang yang ada di sekelilingnya. Mereka yang mulai berteduh pun langsung lari menolong Fahmi, Naila terus berada di sampingnya sambil menangis. Ia berharap Alfa segera datang menolongnya.