
Jam setengah tujuh, Naila sudah siap-siap. Dirinya juga sudah ganti baju. "Langsung ke rumah Rifa apa ke rumah sakit dulu ya?" gumamnya dalam hati.
"Oh ya, di sana kan ada Tante Maria. Aku bawain dia makanan dari resto deh," Naila pergi ke dapur dan di sana ia memasak sendiri khusus untuk Marfel dan Tante Maria. Sedangkan koki yang lain, tak berani menganggunya karena Naila sudah mewanti-wanti untuk minta jangan di ganggu. Lagian para koki juga tengah sibuk untuk melayani pelanggan. Jadi Naila pun juga tak mau merepotkan mereka.
Setelah setengah jam berkutat, akhirnya makanann pun selesai. Naila hanya memasak Udang Pedas Gurih, Bawal Bakar Kecap, Ayam Lada Hitam, Sambal dan lalapan. Tak lupa nasi juga.
Naila memasukkan ke dalam tiga boks untuk Ibu Maria dan Marfel dan satunya buat nambah, kalau kurang. Sedangkan dirinya nanti akan makan di rumah Rifa aja.
Setelah selesai semua, Naila pun langsung pergi dari sana, setelah menitip resto itu ke tangan kanannya. Naila menyetir dengan sedikit ngebut. Tak sampai setengah jam, ia pun sampai di depan rumah sakit. Dengan langkah terburu-buru, Naila pun segera memasuki rumah sakit.
Kali ini ia mengetuk pintu dan mengucap salam, tak lama kemudian Ibu Maria pun membukakan pintu.
"Loh Naila, kamu belum berangkat ke rumah teman kamu?" tanya Ibu Maria melihat Naila dengan wajah imutnya karena memakai baju dan hijab warna pink.
"Belum, Tante," jawab Naila sopan.
"Ayo masuk," ajak Ibu Maria. Naila pun melangkahkan kaki masuk ke dalam. Dan ternyata di sana ada Pak Atmaja.
"Assalamualaiku, Om," ucap Naila kaku dan juga gugup.
"Waalaikumsalam, Nai," jawab Pak Atmaja ramah.
"Oh ya Mas, ini aku bawakan makanan buat Mas makan malam. Ini juga buat Tante sama Om," ujar Naila memberikan bokx makanan itu kepada mereka. Untung dia bawa tiga, coba bawa dua, pasti akan malu sekali.
"Ini kamu yang masak sendiri?" tanya Marfel.
"Iya, Mas," jawab Naila tersenyum.
"Kamu itu sudah sibuk, masih sempat-sempatnya masak sendiri," ujar Ibu Maria.
"Gak papa, Tan. Pengen masak aja buat kalian. Oh ya, Naila gak bisa lama-lama. Soalnya temen-temen sudah tiba semua di sana," ujar Naila tanpa duduk lebih dulu.
"Kamu aja masih ngos-ngosan, Nai. Pasti tadi naik sepeda ngebut, lalu lari menuju kamar ini," ujar Marfel melihat nafas Naila belum beraturan dan ada keringat di dahinya.
"Hehe iya, Mas. Buru-buru soalnya. Ya sudah, Naila pamit dulu ya." Naila mencium tangan Marfel, Pak Atmaja, dan Ibu Maria.
"Mau Om anterin?" tanya Pak Atmaja.
"Enggak usah, Om. Naila berangkat dulu ya. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban mereka, Naila langsung pergi dari sana, karena dirinya tadi sudah di teror teman-temannya karena juga belum datang, sedangkan ini sudah jam tujuh lewat bahkan hampir jam setengah delapan.
Sepergian Naila, Marfel hanya geleng-geleng kepala.
"Lihat, calon menantu Mama. Dia gak mikir kesalamatannya sendiri, gimana kalau Naila kenapa-napa di jalan, dia suka ngebut kalau waktunya sudah mepet," gerutu Marfel tak suka dengan sikap Naila yang kayak gitu.
"Itu karena Naila mikirin kamu, Nak. Di sela-sela kesibukannya, dia masih ingin menyenangkan hati kamu, makaanya dia buat seperti itu," ujar Ibu Maria memberikan Marfel pengertian.
"Iya, tapi aku takut Naila kenapa-napa, pasti sekarang dia ngebut ke rumah temannya itu. Lagian temannya itu gak pengertian banget, sudah tau Naila gak seperti mereka, masih aja dipaksa datang," Marfel masih menggerutu membuat Ibu Maria dan Pak Atmaja tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Marfel emang senang Naila datang, apalagi lihat tampilannya tadi, Naila sangat cantik sekali. Ia juga senang karena Naila mau masakin dirinya bahkan membawanya kemari, padahal bisa aja dia memesan ojek, tapi dia masih menyempatkan diri untuk mengantarkan makanan sampai ke rumah sakit. Tapi jauh di lubuk hatinya, Marfel juga merasa kasih dan juga khawatir dalam waktu bersamaan.
"Sudahlah, ayo makan. Kasihan, Naila sudah masak capek-capek kalau gak di makan," ujar Pak Atmaja yang melihat putranya tengah merenung.
Marfel dan IBu Maria pun menganggukkan kepala. Mereka pun membuka boks itu dan melihat isinya.
"Wah, banyak sekali macamnya, pantas berat," gumam Ibu Maria yang masih di dengar oleh mereka.
"Iya, kayaknya juga lezat banget," ujar Pak Atmaja.
"Papa mau makan pakai sendok apa pakai tangan?" tanya Ibu Maria.
"Pakai tangan aja deh, kayaknya kalau pakai lalapan gini,, paling enak pakai tangan." Pak Atmaja berdiri dan mencuci tangannya di wastafel begitupun dengan Marfel dan Ibu Maria. Ibu Maria juga mengambil tiga botol air dari dalam kulkas.
Mereka pun menikmati makanannnya dalam diam.
"Kamu mau sampai kapan tinggal di sini, Fel?" tanya Pak Atmaja setelah menyelesaikan makannnya.
"Kan Papa sudah menyewa ruangan ini dua MInggu, masih banyak kok waktunya. Lagian aku suka di sini, ada Mama yang nemenin dan aku bisa lebih dekat sama Naila. Bisa tidur satu atap dengannya,"
"Kamu itu, katanya kasihan sama Naila. Tapi masih aja kayak anak kecil yang butuh perhatian, umur aja tua, sikap kayak anak TK," sindir Pak Atmaja.
"Biarin, yang penting aku bisa deket sama Naila," sahut Marfel yang terkesan acuh tak acuh. Melihat itu, Pak Atmaja hanya geleng-geleng kepala, punya anak satu tapi gini-gini amat.
Sedangakn Naila, ia sudah tiba di depan rumah Rifa. Ia pun menaruh sepeda motor itu di samping sepeda motor milik teman-temannya, lalu ia masuk ke dalam.
Melihat kedatangan Naila, teman-temannya itu pun bersorak bahagia.
"Aku fikir kamu gak akan datang, Nai," sindir Ayu.
"Mana mungkin aku gak datang, aku kan sudah janji," sahut Naila tersenyum.
"Kok telat sih?" tanya Puput.
"Iya, ada urusan tadi, gak bisa ditunda," jawabnya.
"Kamu pakai rok?" tanya Rahma.
"Iya soalnya gak nyaman kalau pakai celana jeans, gak papa kan?" tanyanya dan mereka pun pun menganggukkan kepala.
"Gak papa kok, lagian kan yang penting baju dan hijbanya seragam," jawab Rahma tersenyum.
"Acaranya belum di mulai kan?" tanya Naila.
"Belum, lima menit lagi baru mulai," sahut Puput.
"Oh Rifa mana?" tanya Naila.
"Tuh." Ayu menunjuk Rifa yang tengah berbiincang dengan Stefan daan teman-teemannya.
"Oh," Naila pun menganggukkan-anggukkan kepala.
"Aku mau nyapa keluarga Rifa dulu ya," ujar Naila dan teman-temannya pun memberi jalan. Naila menyapa mereka dan berbincang sebentar, sebenarnay Naila juga ingin menyapa Rifa, tapi kayaknya Rifa masih asyik dengan Stefan dan yang lain jadi Naila gak mau ganggu. Ia pun berbalik dan menghampiri teman-temannya.
"Nai, kamu gak bawa kado?" tanya Rani berbisik di telinga Naila.
"Astaga, aku lupa,," Naila pun menutup mulutnya. Ia benar-benar lupa untuk membeli kado tadi.
"Ya ampun, kamu gimana sih, padahal tau temannya ulang tahun, kok bisa lupa?" tanya Rani yang merasa gemas sendiri dengan Naila.
"Sejak pulang sekolah aku sibuk banget, makanya gak ingat sama sekali," sahut Naila merasa sedih dan juga malu.
"Terus gimana dong?" tanya Rani dan Naila pun menggelengkan kepalanya, bingung.
Tiba-tiba Hpnya berbunyi, Naila pun pamit untuk mengangkatnya karena Marfel yang menelfon. Naila berjalan agak menjauh dan menghindar dari mereka agar tak kedengeran.
"Assalamulaikum, Mas," ucapnya dengan suara serak.
"Walaikumsalam, kamu dah sampai?" tanyanya.
"Iya, Mas."
"Kamu kenapa? Kok kayak orang lagi sedih?"
"Aku emang lagi sedih."
"Sedih kenapa?"
"Aku lupa bawa kado, aku malu. Acaranya lima menit lagi dimulai, aku bingung. Aku gak mungkin izin keluar, sedangkan aku baru datang."
"Iya sudah, kamu jangan khwatir, aku akan bantu kamu. Kamu tunggu aja di sana, gak sampai dua puluh menit, nanti ada yang ngantar sesuatu buat kamu."
"Mas mau bawaian aku kado?"
"Iya, kamu chat aja alamatnya di mana? Jangan sedih lagi, aku gak mau kamu sedih."
"Iya, Mas. Makasih ya."
"Sama-sama."
"Aku udahin ya, Mas. Nanti misal sudah mau sampai, chat aku."'
"Okey."
Setelah itu, Naila pun mematikan Hpnya. Tak lupa ia mengirim alamat Rifa ke Marfel. Setelah itu dia pun masuk ke dalam dan gabung sama yang lain.