Novemberain

Novemberain
Marfel Suka Bikin Ulah



Pagi harinya, Naila memutuskan untuk bolos kuliah karena miliknya masih terasa sakit dan perih sehingga jika jalan sedikit mengangkang. Naila tak mau jika teman-temannya curiga jika mereka melihat Naila yang jalannya sudah habis melakukan malam pertama, walaupun kenyataanya memang sepert itu.


Pagi hari, Naila masak di temani oleh Marfel. Mereka masak bersama dan makan bersama. Selesai makan, Marfel juga membantu Naila untuk mencuci piring dan peralatan yang tadi di pakai buat masak.


"Mas Marfel gak kerja?" tanya Naila. Saat ini mereka duduk di kursi sofa yang ada di ruang keluarga sambil nonton upin ipin.


"Enggak, ngapain kerja. Mending di sini sama kamu," jawabnya sambil merebahkan kepalanya di atas paha Naila. Naila pun langsung mengelus rambut Marfel dengan penuh cinta dan kasih sayang. Marfel tidur terlentang hingga bisa menatap wajah cantik Naila. Apalagi saat ini Naila tak memakai hijab membuat kecantikannya berkali-kali lipat.


"Ngapain lihat aku?" tanya Naila yang malu, ditatap terus oleh suaminya.


"Aku masih gak nyangka yank, akhirnya aku bisa nikah sama kamu. Seneng banget rasanya," jawabnya tersenyum.


"Hmm, andai Mas gak kecelakaan, mungkin saat ini kita belum nikah dan aku masih marah," ujar Naila terkekeh. Marfel pun membenarkan ucapan Naila.


"Ya, ternyata kecelakaan itu membawa berkah. Dan aku gak menyesal, sudah menabrakkan diriku hingga hampir kehilangan nyawa," ucapnya membuat Naila geleng-geleng kepala.


"Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi ya, Mas. Aku seperti kehilangan arah rasanya. Waktu Mama bilang kamu di rumah sakit, rasanya jantungku mau berhenti. Aku sampai gak pamitan ke Bunda, dan langsung ke rumah sakit, pakai baju tidur. Untung gak lupa pakai hijab. Saat kamu di operasi pun rasanya aku gak tenang, aku sampai menangis meraung-raung. Mama sama Papa, berusaha hibur aku. Tapi aku tetap aja nangis kayak anak kecil sampai dilihat orang, saat itu aku gak mikir rasa malu atau apa. Rasanya hatiku sakit, perih, sesak, nyesel juga karena aku takut itu akan jadi pertemuan terakhir kita. Dan saat dokter, bilang kamu sudah gak ada. Di saat itulah, aku berontak. Aku gak peduli jika nanti aku dimarahin, aku gak peduli sama mereka. Aku merasa tubuhku seperti ditikam ribuan jarum, sakit banget. Aku takut, kamu benar-bener ninggalina ku selamanya. Aku berusaha menyadarkan kamu, menguncang-guncang tubuh kamu, teriak sebisa aku, tak peduli tenggorokan aku sakit. Di saat itu, aku terus memohon sama kamu, agar bisa buka mata. Rasanya aku ingin gila, Mas." Tanpa terasa Naila menitikkan air mata, Marfel yang gak tega pun ikut menghapus air mata istrinya itu.


"Maafin aku ya," ucap Marfel merasa bersalah. Tapi mendengar ucapan Naila tadi, ia merasa senang karena itu artinya Naila sangat mencintainya dan gak mau kehilangannya.


"Hemm. Lain kali jangan seperti itu lagi ya."


"Aku gak janji,"


"Kenapa?"


"Soalnya hanya di saat aku sakit, kamu mau maafin aku. Kalau aku gak sakit, kamu pasti akan marah-marah terus sama aku," ujar Marfel membuat Naila mencebik.


"Aku sih gak janji ya, tapi aku akan berusaha untuk tak membuat kamu marah lagi sama aku, aku akan berusaha untuk tak lagi bersikap egois, aku juga akan berusaha untuk mengalah demi kamu," tutur Marfel.


"Jangan mudah cemburu juga, ini penyakit Mas Marfel yang harus di hilangkan. Padahal aku ini setia loh, dekat sama cowok lain, bukan berarti aku cinta dia, apalagi menjalani hubungan sama dia. Aku komunikasi sama lawan jenis, hanya sebatas komunikasi biasa aja, gak ada rasa lebih."


"Iya, ya. Aku percaya sayang. Aku gak akan cemburu lagi. Lagian kita sudah nikah dan kamu juga sudah menjadi milikku seutuhnya, jadi aku gak perlul takut kamu direbut cowok lain lagi. Karena kamu akan selalu jadi milikku sampai akhir hayat kita."


Mendengar hal itu, Naila pun menganggukkan kepalanya.


"Itunya masih sakit?" tanya Marfel tiba-tiba membuat Naila mengernyitkan dahi.


"Kenapa tanya itu?" tanya balik Naila.


"Cuma nanya aja sih."


"Kayaknya sih sudah gak sakit lagi."


"Oh gitu, syukurlah." Marfel pun senang mendengarnya. Ia tidur miring hingga wajahnya ia sembunyikan di perut Naila. Ia membuka baju Naila dan memasukkannya kepalanya di sana.


"Mau ngapain sih, Mas?" tanya Naila risih karena kepala suaminya di masukkan ke dalam bajunya.


Marfel gak menyahut, tapi ia mengecup perut Naila membuat Naila benar-benar gak nyaman. Ia ingin mendorong suaminya, tapi Marfel malah memeluk pinggangnya dengan erat, membuat Naila pun hanya bisa pasrah.


Naila sudah gak konsen lagi untuk lihat tivi, karena kini badannya mulai panas dingin lagi karena ulah suaminya itu.