
Malam harinya, sekitar jam tujuh malam. Naila sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kini ia tengah membantu para chef di dapur sambil mengobrol santai dengan mereka. Dan di saat Naila larut dalam obrolan mereka, tiba-tiba Hpnya berbunyi. Dan ada telfon dari nomer baru, awalnya tak dihiraukan oleh Naila. Namun Hpnya terus saja berbunyi, karena merasa kesal. Naila pun akhirnya mengangkat telfon itu. Namun baru saja, ia ingin mengucap salam, ia mendengar seseorang yang tengah menangis.
"Kenapa, Nai? Kenapa kamu ninggalin aku?" itulah suara yang Naila dengar, dengan di iringi isakan tangis. Tanpa mencari tau, Naila sudah tau betul, jika itu suara Alfa.
"Aku mencintai kamu, Nai. Aku mencintai kamu, sangat mencintai kamu. Tapi kenapa, kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan buat membuktikan rasa aku ke kamu. Kenapa, Nai? Kenapa kamu membatasi diriku untuk bisa dekat denganmu. Kenapa kamu seperti ingin menjauh dariku? Apakah karena laki-laki itu, Nai? Apakah karena laki-laki itu, kamu tidak bisa menerima aku? Apakah karena dia lebih tampan dariku, Nai? Apakah karena dia lebih kaya dari aku? Makanya kamu lebih milih dia, dari pada aku yang tidak setampan dan sekaya dia, iya kan?
Kamu tau, Nai. Aku jatuh cinta sama kamu saat pandangan pertama. Waktu kamu chat Fahmi, sayangnya saat itu Fahmi belum sadar, hingga aku yang memberanikan diri untuk membalas pesan kamu. Dan tak lama kemudian, kamu datang untuk menjenguk Fahmi di Rumah Sakit Afamar. Aku bahkan masih ingat, saat itu Fahmi di rawat di kamar nomer 21. Dan di sanalah kita bertemu untuk pertama kalinya. Aku bahkan masih ingt, saat kamu mengucap salam dan aku yang belum pernah bertemu kamu, langsung nanya kamu itu, siapa? Kamu tau, Nai. Saat itulah aku tertarik sama kamu, sama kecantikan kamu, kebaikan kamu, dan kelembutan kamu. Apalagi saat kamu memperkenalkan diri dan ketika aku ingin menyodorkan tangan aku, kamu tidak membalasnya. Dan aku hanya tersenyum malu, dan menarik tangan aku. Untuk pertama kalinya, aku bertemu dengan wanita yang tidak suka di sentuh laki-laki lain. Tapi tadi, aku bahkan melihat kamu menggenggam laki-laki yang belum halal untukmu, dan aku melihat kamu biasa aja, seakan-akan itu adalah hal biasa.
Aku kaget, aku sok. Melihat kamu berubah, dan lebih sok lagi, saat tau kalau itu calon suamimu. Secepat itu kamu melupakan Fahmi, Nai? Secepat itu kah, padahal ini baru beberapa bulan Fahmi meninggal, dan kamu sudah berpaling hati, bahkan kamu dua-duaan dengannya dan berpegangan tangan, layaknya sepasang kekasih yang sangat mesra. Jujur, Nai. Hatiku sakit. Rasanya seperti ada ribuan jarum yang menusuk hati. Sakit banget, Nai. Sakit sekali hiks hiks.
Saat itu di rumah sakit, kita mengobrol pangang lebar, membahas Fahmi. Dan sesekali aku mencuri pandang ke arah kamu, aku tau, aku sudah lancang menyukai wanita yang di cintai sahabat aku. Tapi cinta datang tanpa bisa kita cegah. Apakah salahku, Nai. Jika aku mencintai kamu? Andai aku bisa memilih, aku tak ingin mencintai wanita yang di cintai oleh sahabatku, tapi aku bisa apa, Nai? Aku bisa apa? Aku gak bisa membuang perasaan ini, karena semakin aku mencoba untuk melupakan aku, nyatanya aku semakin mencintai kamu.
Aku tau aku kejam, aku tau aku tidak tau diri. Tapi aku benar-benar tidak berdaya, Nai. Apalagi saat Fahmi memintaku membelikan kamu bunga lalu dia rangkai sendiri, saat dia juga memintaku untuk membeli bahan-bahan kue dan membuat kue dengan tangannya sendiri hanya untuk kamu. Sebesar itu rasa cinta dia ke kamu, Nai. Dia berusaha untuk membahagiakan kamu. Awalnya kau gak tau wajah kamu seperti apa, namun setiap membicarakan kamu, Fahmi terlihat bahagia sekali. Dan saat bertemu kamu pertama kalinya di rumah sakit itu, saat itulah aku sadar, Nai. Kamu emang pantas untuk di cintai.
Lalu beberapa hari kemudian, kamu datang ke kosan aku dan Fahmi. Lagi-lagi debaran itu datang, Nai. Aku bahkan menertawakan diri aku sendiri, karena aku benci dengan perasaan yang tumbuh di hati aku. Aku seperti pengecut, Nai. Karena aku mencintai seseorang yang tidak seharusnya aku cintai.
Dan ketika Fahmi tiada, aku gak tau, aku harus senang atau sedihh. Sedih karena aku kehilangan sahabat aku, teman terbaik aku yang sudah aku anggap seperti saudara aku sendiri. Ataukah aku harus senang, karena aku punya kesempatan buat dekat sama kamu.
Aku juga masih ingat, Nai. Saat di makam, aku ketemu kamu lagi bersama teman kamu. Kamu masih ingat gak, Nai?" tanyanya. Dan Naila hanya bisa diam mendengarkan semua curahan hatai Alfa. Ia tau bahwa saat ini, Alfa tengah mabuk. Karena jika dia dalam keadaan sadar, ia tak mungkin berbicara lebar seperti ini. Apalagi sesekali Naila mendenar Alfa sesegukan setelah minum. walaupun Naila tak melihat Alfa, namun dari pendengarannya, ia seperti tau apa yang Alfa lakukan.
Naila berjalan ke ruangannya dan duduk di kursi. Ia tetap menempelkan hpnya di telinga dan membiarkan Alfa mencurahkan isi hatinya. Mungkin hanya ini yang bisa membuat Alfa lega nantinya. Jujur, ia akui Alfa itu baik. Sayangnya, ia terlambat mengetahui perasaan Alfa padanya. Alfa kalah start dengan Marfel.
Marfel begitu pintar membuat dirinya jatuh hati dengan segala kelihaiannya. Dan membuat dirinya menggeser posisi Fahmi. Ah bukan menggeser karena sampai detik ini, nama Fahmi juga masih bersemayam di hatinya. Mungkin bisa dikatakan jika Marfel bisa membuat ruang sendiri di hatinya tanpa menggeser posisi Fahmi. Sehingga mereka mempunyai tempat yang spesial di hatinya.
Naila masih terus mendengar ocehan Alfa tanpa memotongnya.
"Aku bahagia banget waktu itu, aku janji akan menjaga kamu sampai kamu menemukan kebahagiaan kamu dan bersatu dengan orang yang kamu cintai, tapi jauh dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku berharap orang yang kamu cintai itu aku, Nai. Aku, bukan yang lainnya hiks hiks. Ingin rasanya aku berbincang sama kamu, tapi sayangnya aku merasa risih saat melihat temanmu yang terus menatap ke arahku. Sehingga aku ingin cepat-cepat pergi dari sana, lalu aku ingat dengan buku deary Fahmi. Aku pun merasa senang, karena aku punya alasan buat ketemu kamu, Nai.
Dan saat itu, aku berjanji akan datang ke resto kamu untuk memberikan buku deary itu, namun siapa sangka, aku malah bertemu dengan temanmu yang rese' itu, yang membuat aku ilfil hanya melihat sikapnya. Dan lagi, aku gak akan bisa bebas ngomong berdua sama kamu jika ada dia. Aku pun memilih untuk pergi dari sana. Aku pergi ke rumah temanku yang tak jauh dari sana, dan ketika waktunya kamu pulang. Aku langsung pergi ke tempat resto kamu lagi, untuk lihat kamu Nai. Dan saaat kamu menanyakan buku deary itu, aku sengaja bilang kalau buku itu ketinggalan di rumah teman aku, padahal sebenarnya buku itu ada padaku. Hanya saja, aku terpaksa berbohong, agar aku punya alasan agar bisa bertemu kamu lagi. Maaf ya, Nai. Aku jahat banget sama kamu.
Dan saat aku ingin mengantarkan kamu pulang, kamu menolak aku, Nai. Sakit sebenarnya, tapi aku gak bisa memaksa kamu, aku takut jika kamu akan membenci aku Nai. Aku takut. Untuk itu, aku memilih untuk membuntuti kamu dari belakang, dan memastikan kamu aman sampai rumah kamu.
Setelah itu, aku langsung memberi buku deary milik Fahmi dan pergi dari sana. Karena aku kecewa. Dan setelah itu, aku gak bisa menghubungi kamu lagi dan berusaha untuk menemui kamu karena aktivitas di kampus yang cukup padat, terlebih aku juga harus kerja paruh waktu membuat waktuku benar-benar tersita. Dan ketika aku bertemu kamu lagi, kamu sudah berubah Nai. Kamu seperti berusaha menghindar dariku. Kamu seperti ingin menjauh dariku. Dan sekarang, semuanya sudah terungkap, kamu sengaja menjauh dariku karena laki-laki itu, Nai.
Aku sedih, aku sakit. Aku bodoh karena aku tau dari awal, kamu tak ada rasa sama aku, tapi akunya yang tetap berusaha untuk bisa dekat sama kamu. Kenapa Nai? Kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan kamu, jika akhirnya aku gak bisa memiliki kamu, Nai? Kenapa? Kenapa Tuhan begitu kejam dengan menghadirkan rasa cinta di hati aku, kalau pada akhirnya kamu akan jadi milik orang lain. Kenapa Tuhan begitu kejam padaku, Nai? Apa salahku? Kenapa aku harus patah hati karena orang yang aku cintai, kamu cinta pertama aku Nai. Dan aku berharap kamu akan jadi cinta terakhir aku, tapi sayang, semua itu hanya akan jadi impianku saja, karena sampai kapanpun, kamu gak akan bisa aku miliki.
Aku membenci perasaankku, Nai. Aku membenci perasaan ini, haruskan aku mati Nai, haruskan aku mati seperti Fahmi, agar aku tak lagi merasakan sakit ini, Nai. Rasanya dadaku terasa sesak, Nai. Sesak sekali hiks hiks ..."
Dan setelah itu, telfon pun terputus. Naila tak tau, apakah baterai Alfa habis, atau laki-laki itu yang sengaja mematikan hpnya. Namun Naila merasa khawatir, takut jika Alfa kenapa-napa. Namun ia pun tak bisa berbuat apa-apa, karena dirinya juga tidak tau Alfa di mana. Dan lagi, jika dirinya terlalu ikut campur dengan urusan Alfa, bisa jadi dia akan menyakiti hati Marfel.
Entah kenapa hati Naila menjadi tak menentu seperti ini. Ia hanya bisa termenung memikirkan perasaan Alfa, baru kali ini ia merasa galau seberat ini. Kenapa di cintai banyak orang malah bikin dirinya frustasi.
"Apakah aku harus minta bantuan Rani untuk melihat keadaan Kak Alfa di kosan? Tapi Kak Alfa kan gak suka sama Rani, nanti Kak Alfa malah makin kecewa sama aku, karena berusaha mendekatkan mereka berdua? Dan lagi belum tentu Kak Alfa ada di kosannya kan?" tanya Naila dalam hati.
"Ya Tuha, kenapa jadi sepeti ini sih? Kenapa Engkau membuat Kak stefan dan Kak Alfa mencintai aku. Kenapa bukan teman aku aja yang merkea cintai, biar masalahnya gak rumit seperti ini. Kenapa Kak stefan gak mencintai Rifa aja yang jelas-jelas menyukai dan mencintai Kak stefan. Dan kenapa Kak Alfa gak mencintai Rani aja, yang sudah jelas-jelas mencintai dia. Kenapa mereka harus mencintai aku, aku gak mungkin bisa bales perasan mereka, karena kini hati dan cinta aku sudah milik Mas Marfel. Aku juga gak mungkin mengorbankan peraasaan Mas Marfel demi mereka kan?" tanyanya dengan suara lirih.
Naila mengusap wajahnya yang kusut sehingga tampak semakin kusut. Ia sudah tak peduli lagi dengan tampilannya saat ini.
Naila berusaha menelfon nomer itu karena khawatir, sayangnya nomer itu sudah tak aktiv, bahkan ketika ia menelfon nomer Alfa yang sempat di blok, namun tetap saja, nomer itu juga tidak ada yang aktiv. Karena khawatir, Naila pun buru-buru pergi dari sana, di bahkan melupakan tasnya, dan hanya membawa Hp saja. Dia memesan ojek online, karena menurutnyaa lebih cepat dan lagi, ia bisa bayar pakai Ovo.
Tak lama setelah menunggu di depan resto, ojek online pun datang. Dan Naila segera duduk di belakang setelah memasang helmnya. "Cepet ya, Pak. Darurat soalnya," ujar Naila.
"Iya, Mbak."
Dan setelah itu, tukang ojek itupun langsung gas menuju tempat yang di tuju. Dan beberapa menit setelah Naila pergi, Marfel datang. Hanya saja ia tiddak tau kalau Naila sudah pergi dari sana. Marfel memarkirkan mobilnya dan berjalan memasuki ruangan Naila. Namun ia tak melihat Naila di sana, dan hanya ada tas Naila aja sama seragam Naila serta sepatu yang ada di ruangan itu. Memang Naila sempat ganti baju tadi sore, karena merasa risih jika kerja menggunakan seragama dan sepatu.
Marfel pun menanyakan keberadaan Naila dan ada satu karyawan yang bilang kalau Naila pergi beberapa menit yang lalu dengan tergesa-gesa.
Mendengar Naila pergi dengan terburu-buru, membuat Marfel panik. Ada apa dengan Naila, seperti itulah yang ada dalam fikirannya. Ia menelfon nomer Naila tapi gak di angkat.
"Kamu ke mana Nai?" tanya Marfel khawatir, takut jika Naila kenapa-napa.