
Rani kini di sibukkan dengan dua kafe yang harus ia kelola karena bundannya sampai sekarang belum juga pulang karena sibuk membuka cabang di kota Bali.
Yang tadinya hanya seminggu, ternyata bundannya di sana selama 1 bulan karena ada banyak hal yang harus di urus. Dan kini ini Naila bahkan sampai kerepotan mengurusnya.
Saat Naila di sibukkan dengan pekerjaannya, seorang karyawan datang.
"Mbak Nai," panggil karyawan tersebut.
"Iya," jawab Naila sambil menoleh ke arah karyawan tersebut.
"Di depan ada seseorang yang mencari mbak, namanya Pak Marfel," ujar karyawan tersebut sopan.
"Oh gitu, iya udah makasih,"
"Iya, mbak. Saya permisi dulu," ucapnya lalu pergi.
Sedangkan Naila, ia hanya menghembuskan nafas kasar.
"Hah, kenapa mesti datang di saat aku lagi banyak kerjaan sih," gerutu Naila kesal.
"Gak di temui, nanti di kira gak sopan. Bagaimanapun itu guruku sendiri, di temui, pekerjaanku nanti malah gak kelar kelar dan harus di bawa ke rumah yang artinya nanti malam aku harus lembur sampai selesai," gumam Naila.
Akhirnya ia pun memilih untuk menemui Marfel, Naila melihat ke semua penjuru dan ternyata Marfel ada di dekat jendela sambil melihat pemandangan di luar kaca.
"Pak Marfel, Anda mencari saya?" tanya Naila sopan.
"Jangan panggil pak, aku bukan bapak kamu. Lagian ini bukan di sekolah, panggil mas aja, dan jangan panggil Anda, kayak lagi bicara sama clien aja," ujar Marfel.
"Iya maaf, Mas cari saya ada apa?" ulang Naila.
"Emang kalau aku ke sini harus punya alasan ya?" tanya balik Marfel.
"Enggak juga sih,"
"Apa kamu keberatan, aku nyuruh karyawan tadi manggil kamu buat menemui aku?" tebak Marfel kesal.
"Enggak juga, sudah jangan cemberut gitu, nanti cepet tua. Mau aku bawakan makanan?" tanya Naila.
"Enggak usah, aku sudah mesen barusan, ntar lagi juga datang. Kamu duduk aja, gak capek berdiri dari tadi?" tanya Marfel.
Naila pun mau gak mau duduk di kursi yang berhadapan dengan Marfel.
"Emang kenapa kalau orang lain mengira kita sedang kencan? Kamu keberatan? Apa kamu malu punya pasangan sepertiku?" tanya Marfel membuat Naila gelagapan.
"Eh bukan gitu maksud saya pak, eh mas. Hanya saja aku risih jika ada yang mikir kita pasangan. Bagaimana pun kita ini kan murid dan guru,. Nanti kalau ada yang kenal kita, malah ada gosip yang enggak enggak," jawab Naila memberikan alasan.
"Aku guru kamu kalau di sekolah, kalau di luar sekolah aku bukan guru kamu lagi. Lagian aku ngajar juga bentar, gak lama lagi aku sudah berhenti ngajar. Aku cuma guru pengganti di sana, jadi kamu gak perlu khawatir akan sesuatu. Jika pun ada yang gosip yang enggak enggak, aku akan membereskannya saat itu juga, " ucap Marfel namun tetap saja membuat hati Naila tak tenang.
"Tetap saja aku gak enak, gimana kalau ngomong di ruangan ku aja?" tanya Naila.
"Emang boleh?" tanya Marfel senang.
"Bolehlah, kan cuma ngobrol doang, gak ngapa ngapain. Nanti juga pintu nya gak usah di tutup biar orang lain gak mikir kita sedang macem macem,"
"Macem macem? Aku gak nyangka fikiran mu sudah sampai ke situ aja, aku bahkan gak kepikiran sampai ke sana,"
"Aku ini sudah dewasa, sudah faham,"
"Faham? Kamu pernah malukannya?"
"Ya enggklah, bisa di bunuh aku sama bunda kalau smapai melakukannya. Anak anak di sekolah bahas begitu, lama lama aku ngerti juga lah," ucap Naila jujur.
"Hah anak anak zaman sekarang emang sangat mengerikan?"
"Anak anak zaman sekarang? Emang mas merasa sudah tua banget ya?" sindir Naila
"Ya enggaklah, maksudku zaman saat ini sama zaman dulu saat aku SMA, itu beda, kalau zamanku semuanya sibuk belajar ber lomba lomba dapat juara bukan malah bahas begituan,"
"Jangan samain zamanku sama zaman mas duu dong. Sekarang itu zaman canggih, hampir semuanya udah pada megang hp, dimana semuanya bisa akses apapun dsri Internet, makanya fikiran mereka kadang bisa kotor karena yang mereka lihat adegan orang dewasa.
Sudahlah jangan bahas beginian, ayo ke ruanganku, "
"Terus gimana dengan pesananku tadi?"
"Biar nanti aku suruh seseorang buat nganter ke ruanganku," jawab Naila.
"Iya udah ayo."
Lalu mereka pun pergi ke ruangan Naila, sebelum pergi, Naila meminta seseorang buat mengantar pesanan Marfel ke ruangannya.