
Lagi dan lagi, Naila telat. Ia benar-benar malu karena sejak kemaren sudah membaut dua orang paruh baya itu menunggu dirinya terus.
"Maaf ya Om, Tante. Aku telat lagi," ujar Naila sambil duduk di kursinya, begitupun dengan Marfel.
"Enggak papa kok, itu kenapa mata kamu bengkak, bukannya tadi malaml kamu pamit tidur lebih dulu ya," ujar Ibu Maria yang ternyata sangat teliti dengan penampilan Naila.
"Iya, Om. Ada masalah dikit, jadi saya gak tidur semalaman," ucap Naila tersenyum.
"Kamu jangan kebiasaan begadang, gak baik buat kesehatan dan kalau ada masalah, jangan di biarkan berlarut-larut, nanti malah tambah besar dan hanya akan mengganggu fikiran kamu, jadinya gak tenang," tutur Ibu Maria menasehati.
"Iya, Tante. Oh ya Tan, OM. Hari ini Naila berangkat sekolah sekalian pamit mau pulang ke rumah. Soalnya kalau lama di sini, Nai takut akan ketahuan Bunda. Bunda pasti marah jika tau, Nai nginap di sini," cicit Naila memberitahu.
"Yahhh padahal Tante seneng banget loh, kalau kamu nginap di sini," ujar Ibu Maria sedikit kecewa.
"Maafin Naila ya, Tan. Tapi beneran Naila takut ketahuan Bunda. Bunda kalau marah serem," canda Naila yang membuat Ibu Maria tertawa.
"Itu bukan serem sayang, wajar seorang Ibu itu marah karena itu artinya dia sayang banget sama anaknya. Tidak ada seorang Ibu yang tega memarahi anak kalau bukan karena kebaikan anak itu sendiri," ucap Ibu Maria.
"Iya, Tan." jawab Naila.
"Oh ya, Nai. Bulan depan ujian kenaikan kelas, itu artinya gak lama lagi kamu akan kelas tiga. Itupun kelas tiga gak sampai setahun, sudah tau mau kemana setelah lulus SMA?" tanya Pak Atmaja yang mencoba mencairkan suasana. Ini masih pagi, jadi walaupun ngobrol sebentar sambil makan, rasanya tidak masalah.
"Nai akan kuliah, Om," ucap Naila.
"Mau ambil jurusan apa?" tanya Pak Atmaja.
"Dokter," jawab Naila karena ia ingat dengan janjinya dengan Fahmi, bahwa ia akan kuliah kedokteran dan akan jadi dokter yang baik yang bisa bantu banyak orang.
"Wah, terus usaha Bunda kamu gimana?" tanya Pak Atmaja.
"Saya tetap akan bantu Bunda mengelola resto itu. Sepulang kuliah, nantinya saya akan bekerja bantu bunda sambil belajar bisnis juga dari orang-orang sekitar, selain itu juga saya tengah belajar dunia investasi, dan sudah mulai belajar nanam modal di perusahaan kecil," jawab Naila.
"Wah kamu emang hebat, Nai. Tapi kamu kok bisa ambil kedokteran, bukannya manajemen bisnis? Padahal sepertinya kamu berbakat di dunia bisnis?" tanya Pak Atmaja penasaran sambil menikmati makanannya.
"Sejujurnya memang saya suka dengan dunia kesehatan, namun mengingat Bunda yang terjun ke dunia bisnis. Saya mulai berpindah haluan, untuk fokus belajar bisnis saja. Namun seseorang membuat saya berjanji untuk menjadi seorang dokter suatu hari nanti dan menolong banyak orang."
"Iya, tapi sayangnya dia sudah meninggal, Tan. Beberapa bulan yang lalu. Padahal dia orang yang sangat rajin, dia kuliah sambil bekerja karena cita-citanya ingin jadi dokter, tapi sayang dia harus meninggal di usia muda."
"Innalillahi, meninggal kenapa, Nai? Apakah kecelakaan?" tanya Ibu Maria yang ikut sedih mendengar cerita Naila.
"Dia sakit kanker otak, Tan," jawab Naila dengan nada sendu.
"Dia teman kamu?" tanya Ibu Maria dan Naila pun menganggukkan kepala.
"Yang sabar ya, Nai. Semua itu adalah takdir, kita gak bisa mengelak dari takdir, apalagi takdir kematian. Semuanya sudah tertulis, semoga teman kamu husnul khotimah ya, di ampuni segala kesalahannya dan di tempatkan di sisi Allah," ucap Ibu Maria yang di amini oleh Naila.
"Misal anak saya melamar kamu, kamu kira-kira gak Nai?" goda Pak Atmaja sambil melihat putranya yang sedari tadi diam. Naila pun melihat ke arah Marfel.
"InsyaAllah, Om. Selagi Mas Marfel tidak menghentikan impian saya, dan mendukung apapun keputusan saya. Saya siap menerimanya," ujar Naila sambil menatap ke arah Marfel.
"Tuh, Fel. Kamu sudah di kasih lampu hijauh loh, kamu tinggal nunggu bundanya datang, setelah itu Mama dan Papa siap melamar Naila buat kamu, jangan cemberut gitu lah. masi pagi ini," ujar Pak Atmaja, walaupun ia gak tau ada masalah apa antara anak dan calon menantunya itu, tapi sebagai orang tua, ia tau jika kini mereka ada masalah, terlihat sekali, pagi ini Marfel terlihat tak semangat dan seperti punya beban.
Setelah selesai makan, Naila pun pamitan sama Pak Atmaja dan IbuĀ Maria, tak lupa Naila mengucapkan terima kasih karena sudah mau menampung dirinya dan memperlakukan Naila dengan baik. Naila juga memeluk IBu Maria yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.
"Ayo, Nai," ajak Marfel setelah menarus tas itu di kursi mobil belakang. Ia juga membukakan pintu mobil depan untuk Naila.
"Makasih ya, Mas," ucap Naila.
"Iya." Marfel menutup pintunya dan melihat ke arah orang tuanya.
"Aku berangkat dulu, Ma, Pa."
"Hati-hati, Fel."
"Iya."
Dan setelah itu, Marfel pun masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi, dengan mengucap basmallah, ia pun mulai menghidupkan mobilnya dan mulai berjalan menuju rumah Naila dulu sebelum pergi ke sekolah.