
Satu Minggu sudah Marfel di rawat di rumah sakit, dan selama satu minggu itu pula, Naila selalu menemani Marfel setiap kali pulang kuliah. Bunda Ila pun juga menyetujui permintaan putrinya itu untuk menikah muda dan ia juga akan tetap melanjutkan kuliahnya sampai ia mengejar cita-citanya. Bunda Ila pun tak mempermasalahkannya, ia akan selalu menuruti kemauan putrinya itu. Ia tak akan mengekang ataupun menolak apa yang menjadi keinginan Naila. Malah ia berfikir dengan Naila menikah, mungkin ada yang menjaga Naila selain dirinya. Naila juga tak lagi kesepian, karena Naila akan punya keluarga baru yang menyayangi dirinya. Naila akan di limpahi banyak rasa sayang dari keluarga suaminya, mengingat Naila hanya punya dirinya aja selama ini.
Bunda Ila juga sudah akrab dengan Ibu Maria bahkan dengan Pak Atmaja. Jika ada waktu, Ibu Maria akan datang ke resto Bunda Ila, sekedar untuk makan di sana, atau ngobrol santai. Ibu Maria emang suka dekat dengan Bunda Ila, mengingat Bunda Ila membawa aura positif padanya, walaupun dia sudah menjadi wanita karir, namun Bunda Ila selalu rendah diri dan tidak sombong.
"Mas," panggil Naila, saat ini mereka hanya berdua. Memang Ibu Maria dan Pak Atmaja sengaja memberikan mereka waktu untuk berdekatan lagi, apalagi mereka akan segera menikah.
"Iya, Sayang," jawab Marfel lembut. Kali ini, ia tak ingin egois lagi sehingga kehilangan Naila untuk kesekian kalinya. Mamanya sudah mengingatkan agar dirinya selalu mengalah dan tak terlalu mengekang Naila. Dan Marfel pun setuju akan hal itu.
"Besok Mas Marfel sudah boleh pulang, itu artinya kita menikah Lusa kan?" tanyanya memastikan.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan kita nikah cepat?" tanya Marfel sambil menatap Naila. Ia mengenggam tangan Naila dengan erat.
"Enggaklah, aku malah seneng. Nanti kita tinggal di mana?" tanya Naila.
"Kamu sukanya tinggal di mana?" tanya balik Marfel. Ya, gak ingin mengambil keputusan sendiri.
"Emmm aku sih pengenya tuh yang deket kampus gitu, biar gak jauh-jauh hehe," Naila mengungkapkan perasaannya.
"Baiklah, kita cari rumah sekitar sana, nanti aku akan minta bantuan temen aku buat cari rumah sekitar kampus kamu,"
"Ngontrak aja dulu, gak papa. Kalau beli, kan, pasti mahal," ucapnya.
"Kamu jangan fikirkan masalah itu, Sayang. Aku punya banyak uang, dan selama ini aku kerja juga buat masa depan kita. So, semahal apapun, aku pasti akan beli buat kamu." ucapnya membuat Naila meleleh.
"Aish, Mas Marfel kenapa sih, jago banget bikin aku baper," tuturnya membuat Marfel terkekeh.
"Aku gak sabar ingin segera keluar dari rumah sakit dan nikah sama kamu, Sayang," ujar Marfel.
"Sama. Nanti kita nikah cukup di KUA, kan?"
"Ya. Sebenarnya aku pengen nikah di saksikan banyak orang, membuat pesta mewah, tapi kamunya gak mau," jawabnya.
"Ya, aku gak ingin pernikahan kita gak di ketahui siapapun. Aku ingin fokus kuliah dulu. Nanti setelah aku lulus kuliah, baru deh, kita buat pesta yang mewah. Aku akan mengundang semua teman-teman aku."
"Aku sih terserah kamu, Sayang," balasnya.
Sebenarnya Marfel ingin pernikahannya nanti itu di umumkan, karena ia ingin semua orang tau jika Naila itu istrinya. Tapi lagi-lagi, ia gak bisa melakukan semaunya, ia harus bisa menghargai permintaan Naila. Dan Marfel pun akan menurutinya. Yang penting Naila sudah sah jadi istrinya.
Mereka mengobrol santai, dan saat jam makan. Naila akan menyuapi Marfel dengan penuh cinta dan kasih sayang. Marfel pun juga menyuapi Naila. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang sangat romantis sekali.
Naila sudah memaafkan semua kesalahan Marfel yang dulu pernah menyakitinya. Ia gak mau membuat Marfel putus asa karena sikapnya, hingga membuat Marfel ingin mengakhiri hidup. Ia gak ingin kehilangan Marfel dan menyesal sepanjang hidupnya.
Marfel pun juga sangat bahagia sekali, melihat Naila sudah kembali seperti dulu, yang sangat perhatian padanya dan ia bisa merasakan jika cinta Naila padanya bahkan sudah tumbuh berkali-kali lipat.
Marfel tau, kelemahan Naila adalah, dia tak suka melihat dirinya kesakitan. Setiap kali ia ngeluh sakit, di saat itu, emosi Naila seakan langsung mereda. Naila akan menjadi sangat jinak sekali. Dan mungkin ke depannya, bisa ia manfaatkn jika Naila marah, mungkin ia harus pura-pura sakit untuk mengambil hatinya kembali.
Marfel juga sudah akrab dengan calon mertuanya itu, Bunda Ila. Bahkan mereka sudah seperti ibu dan anak. Tak sulit untuk bisa mengambil hati calon mertuanya, karena pada dasarnya Bunda Ila dan Naila sama,, mereka sama-sama baik dan tak suka menyulitkan kehidupan orang lain. Jadi, cukup Marfel berjanji akan membahagiakan Naila, maka restu pun sudah ia dapatkan.
"Oh aku nebeng sama Mas Adrian. Tapi tenang aja, kok di mobil itu bukan cuma ada aku sama Mas Adrian, tapi juga ada Alex sama Alexa. Awalnya aku mau naik taxi, terus Alexa meminta aku buat bareng dia aja sekalian. Jadi tadi aku duduk bareng Alexa di kursi belakang. Sedangkan Mas Adrian duduk di depan bareng Alex," jawabnya.
"Oh, gitu. Kenapa Alex dan Alexa gak bawa mobil juga?"
"Katanya mereka males nyetir, makanya minta Mas Adriran buat jemput. Kalau tadi pagi sih, mereka di antar sama Mas Andre, terus pulangnya, Mas Adrian yang jemput. Tadi sempat nanya sih, siapa yang sakit, aku bilang saudara aku gitu," sahut Naila tanpa ada kebohongan.
"OH, kamu kalau mau pakai mobil aku aja,"
"Enggak deh, males. Aku males nyetir hehe,"
"Iya sudah, nanti aku yang akan antar jemput kamu kalau kamu kuliah."
"Emang Mas Marfel gak sibuk, sampai mau jadi sopir aku?"
"Sesibuk apapun aku, aku akan selalu ada buat kamu Sayang."
"Ais, gombal lagi deh," ucap Naila, namun pipinya merah merona karena tak tahan juga mendengar kata-kata manis dari Marfel.
"Aku gak gombal, nanti akan aku buktikan sendiri ucapanku. Aku tuh sayang banget sama kamu, Nai," ucapnya.
"Sama, aku juga," tuturnya sambil menutup mata, sudah seperti anak kecil aja, yang malu-malu kucing. Marfel yang melihatnya pun jadi gemes sendiri. Andai sudah halal, sudah ia peluk dengan erat.
Saat mereka lagi ngobrol, pintu terbuka. Dan ternyata Bunda Ila sama Ibu Maria yang datang.
"Bunda, Mama," panggil Naila dan Marfel barengan.
"Gimana keadaanya?" tanya Bunda Ila.
"Alhamdulillah sudah semakin sehat, Bun. Besok sudah boleh pulang," jawabnya membuat Bunda Ila tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu melihat ke arah putrinya.
"Enggak ganti baju dulu seharian, Nai?" tanya Bunda Ila.
"Belum, Bun. Aku belum pulang soalnya, dari kampus langsung ke sini," jawab Naila malu.
"Kamu itu, Nai. Ketemu calon suami seharusnya pakai baju bagus, pakai make up, parfum. Ini malah kucel, malu-maluin Bunda. Masak anak perawan penampilannya kayak gini," omel Bunda Ila membuat Marfel dan Ibu Maria terkekeh.
"Kucel-kucel gini, juga Mas Marfel cinta sama aku, Bun," jawab Naila sambil menoleh ke arah Marfel yang sudah ketawa.
"Ya, apapun penampilan kamu, aku tetap cinta," bela Marfel membuat Bunda Ila dan Ibu Maria terkekeh.
"Iya, sejelek apapun, kalau sudah cinta, pasti terlihat cantik," sindir Bunda Ila membuat mereka tertawa.
"Tapi Nai emang selalu cantik, Jeng. walau gak pakai make up sekalipun," bela Ibu Maria yang membuat Naila senang.
Mereka pun saling ledek. Hingga jam tujuh malam. Bunda Ila dan Naila pamit pulang. Walaupun Naila masih sangat ingin tetap diam disana, namun ia gak bisa membantah ucapan Bundannya. Toh besok sudah ketemu lagi dan Lusa mereka akan jadi suami istri dan akan selalu bersama.