Novemberain

Novemberain
Penyesalan Marfel dan Tindakan Tegas Dari Naila



Naila mengetuk pintu kamar Marfel, namun tak ada sahutan dari dalam. Ia hanya mendengar suara yang pecah, karena takut ada apa-apa, Naila pun memberanikan diri untuk membuka pintunya dan betapa kagetnay dia melihat kamar itu sudah seperti kapal pecah. Semua barang sudah rusak di mana-mana, karena Marfel melemparnya. Naila melihat ke arah Marfel dan betapa kagetnya dia saat melihat tangannya berlumuran darah dan ia melihat kaca besar di dinding itu sudah pecah berserakan. Dengan hati-hati, Naila mencoba mendekati Marfel.


"PERGI!" bentak Marfel emosi. Ia benci melihat Naila ada di sini.


"Mas," walaupun Naila takut, ia tetap berusaha mendekati Marfel.


"AKU BILANG PERGI, NAI. KAMU DENGER GAK SIH, HAH! ATAU KAMU SUDAH BUDEK!" teriak Marfel lagi. Ibu Maria tentu mendengar teriakan putranya itu, tapi ia membiarkan saja, anggaplah mereka lagi belajar menangani masalahnya sebelum berumah tangga. Ini hanya masalah sepele, hanya salah faham saja. Jadi Ibu Maria hanya diam di ruang keluarga, sambil makan cemilan dan nonton tivi. Nanti ia akan menghampirinya jika masalah mereka sudah reda dan terselesaikan.


"Mas, kamu itu kenapa sih?" tanya Naila kesal. Ia tak suka di bentak seperti itu.


"KAMU TANYA AKU KENAPA, AKU SEPERTI INI KARENA KAMU. KAMU TEGA SELINGKUH DARI AKU DAN MENERIMA LAMARAN ORANG LAIN. KAMU FIKIR AKU APA, HAH! KAMU FIKIR AKU PAJANGAN?" bentaknya lagi. Membuat Naila menghembuskan nafas untuk bisa mengontrol emosinya.


"Tak bisakah kita ngomong baik- baik, Mas. Kamu sudah dewasa, gak malu teriak-teriak seperti ini, kedengeran Mama kamu. Jika ada masalah, omongin baik-baik, bukan menghancurkan barang sepreti ini lalu teriak-teriak di depan aku. Ayah dan Bund aja yang membesarkan aku, memberikan aku makan, memenuhi semua kebutuhan aku, bekerja keras buat aku, gak pernah bentak-bentak aku kayak gini. Kamu fikir, kamu siapa, sampai berani membentak aku?" tanya Naila menahan emosinya.


"Ini yang gak aku suka dari kamu, Mas. Bersikap layaknya anak kecil. Dari dulu sampai sekarang, setiap ada masalah, taunya cuma teriak-teriak, emosi gak karuan. Kamu itu sudah tua. Bukan anak kecil lagi. Gimana kalau aku nikah sama kamu, apakah kamu akan menghancurkan isi rumah, lalu membeli lagi. Menghambur-hamburkan uang, hanya demi emosi sesaat atau kamu akan bentak dan banting aku seperti yang lagi viral saat ini? Sumpah, aku gak suka sama sifat kamu yang seperti ini. Gak mau cari tau, dan selalu salah faham," tutur Naila. Mendengar hal itu membuat Marfel mulai mengatur emosinya.


Naila duduk di kursi samping tempat tidur, ia capek jika berdiri terus.


"Kamu gak malu sama aku hem? Aku perempuan loh, tapi aku gak pernah melakukan hal seperti ini. Belajarlah untuk mengontrol emosi mulai sekarang, karena sifat kamu yang kayak gini, bisa membuat aku dan perempuan lainnya merasa ilfil. Mereka akan takut untuk menjadi istri kamu kelak. Karena kamu tidak bisa di jadikan contoh dan imam yang baik," ujar Naila lagi. Sedangkan Marfel hanya bisa diam.


"Apakah kamu ingat, bukankah kamu yang mengakhiri hubungan kita dulu? Aku bahkan masih ingat kata-kata   Mas Marfel waktu itu," ujar Naila lalu ia memperagakan kata-kata Marfel yang di ucapkan dulu yang masih sangat di ingat oleh Naila sampai detik ini.


Naila memperagakan susara Marfel, "'Nai, aku rasa hubungan kita akhiri sampai di sini aja' dan ketika aku tanya kenapa Mas Marfel ngomong gitu, Mas Marfel jawab, 'Mungkin kita gak cocok, Nai. Aku juga juga minta maaf kalau selama ini ada salah sama kau dan terkesan mengekang kamu. Aku benar-benar minta maaf'. Mas masih ingat kata-kata itu. Lalu bagaimana mungkin Mas bilang aku selingkuh, sedangkan aku dan Mas sudah tak ada hubungan apa-apa lagi?" tanya Naila membuat Marfel diam.


Setelah itu, Mas Marfel menghilang seperti di telan bumi. Mas tau gak, bagaimana perasaan aku waktu itu, betapa hancurnya aku waktu itu. Siang malam, aku menangisi hubungan kita. Kalau bukan karena teman-teman dan Bunda, aku gak akan bisa bangkit hingga bisa seperti sekarang.


"Waktu hari kelulusan aku waktu itu. Aku tau kamu datang, tapi aku memilih diam. Lalu aku ngomong saat di atas pentas, "Saat ini aku masih sangat mencintaimu. Tapi aku gak tau bagaimana perasaanku ke depannya. Jika kamu tak segera muncul, maka jangan salahkan aku, jika kelak ada laki-laki yang memberikan aku kebahagiaan hingga menggeser posisi kamu di hati aku."


Mendengar kata-kata itu membuat Marfel tertegun, ia menyesali apa yang sudah terjadi. "Mas, mungkin kamu pernah hadir dalam hidup aku walaupun hanya beberapa bulan, mungkin kamu pernah memberikan aku kebahagiaan, walaupun setelahnya, kamu memberikan aku rasa sakit. Bahkan Ayah dan Bunda pun tak pernah memberikan aku rasa sakit seperti itu. Kamu orang pertama dan terakhir yang mengajari aku cinta lalu mengajari aku rasanya patah hati yang menyakitkan. Dulu kamu mutusin aku tanpa memberikan aku kesempatan untuk bicara dan bela diri. Dan sekarang, setelah sekian lama kita gak ketemu, kamu membentak dan teriak-teriak di depan aku. Emang Mas Marfel siapa, sampai berani melakukan hal itu? Mas Marfel belum jadi suami aku, belum pernah memberikan aku kebahagiaan seperti apa yang sudah Ayah dan Bunda lakukan untuk aku. Jadi jangan sok menjadi orang yang paling berjasa dalam hidup aku, hingga Mas Marfel bisa seenaknya memperlakukan aku. Dan jika pun aku menerima orang lain, emang apa urusannya sama Mas Marfel. Ingat, kita tak ada hubungan apa-apa, jadi jangan bilang kata selingkuh di depan aku," tutur Naila lalu berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi dari sana.


Melihat Naila ingin pergi, Marfel pun berusaha untuk menahannya. "Maafin aku, Nai." ucap Marfel dengan raut yang penuh penyesalan.


Naila tersenyum, "Enggak perlu minta maaf, Mas. Aku malah bersyukur setidaknya aku tau sifap Mas Marfel yang asli bagaimana. Karena setau aku, Mas Marfel itu lembut dan penuh perhatian. Mungkin sifat yang dulu di tampakkan di depan aku, hanyalah kepalsuan. Karena sifat aslinya, seperti yang aku lihat barusan. Thanks, karena dulu sudah pernah hadir dalam hidup aku walaupun sebentar, dan mungkin ini terakhir kalinya aku menginjakkan kaki di rumah ini." Naila berusaha melepas tangan Marfel dan segera pergi dari sana. Membuat Marfel hanya bisa menangis dan merutuki kebodohannya. Melihat Naila pergi begitu saja, Ibu Maria pun akhirnya masuk ke dalam kamar Marfel, dan ia cuku terkejut dengan kamar yang kini sudah tak lagi rapi. Ia lalu menghampiri putranya yang tengah menangis dan tampak frustasi.