
Saat Naila pergi keluar untuk memanggil dokter, Pak Atmaja dan Ibu Maria masuk ke dalam untuk melihat putranya. Namun betapa tercengannya mereka, saat melihat putra mereka, malah senyam-senyum gak jelas. "Putra kita kenapa, Pa?" tanya Ibu Maria berbisik di telinga suaminya.
"Papa gak tau, Ma. Dia kayak orang gila, senyam senyum sendirian," jawab Pak Atmaja, yang membalas bisikan sang istri.
Mereka menghampiri Marfel yang masih gak sadar akan kedatangan mereka baerdua. "Marfel," panggil Ibu Maria.
"Fel," Ibu Maria menepuk pundak Marfel membuat Marfel kaget.
"Mama, Papa. Sejak kapan kalian di sini?" tanya Marfel melihat kedua orang uanya sudah berdiri di samping brankar, dan menatap dirinya.
"Dari tadi, kamu kenapa sih, senyam senyum gak jelas gitu, kesambet?" tanya Ibu Maria. Marfel pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Kamu kayak bukan Marfel yang Papa kenal. Biasanya putra Papa itu dingin dan suka berwajah datar, bukan berwajah manis kek gini," sindir Pak Atmaja.
"Ish, Papa apaan sih. Aku tuh lagi seneng tau," ujar Marfel cemberut.
"Seneng kenapa, pasti karena Naila ya," goda Ibu Maria.
"Hehe iya, kok Mama tau sih?" tanya Marfel penasaran.
"Ya gimana Mama gak tau, kan yang bikin kamu suka senyum gini, cuma Naila."
"Tau gak, Ma?" tanya Marfel.
"Apaan?"
"Aku tuh bersyukur tau, sakit kayak gini."
"Emang kenapa?" tanya Pak Atmaja, baru kali ini dia lihat ada orang sakit malah kesenangan.
"Ya karena Naila makin perhatian ke aku. Apalagi dia mengungkapkan perasaannya. Gimana aku gak seneng coba, kalau tau Naila akan perhatian kayak gitu, mending aku sakit dari dulu aja."
"Kamu itu, gak boleh ngomong kayak gitu."
"Habisnya, hanya dengan aku sakit, Naila mau meluk aku, bahkan dia nangisin aku. Padahal aku cuma sakit biasa"
"Itu karena Naila sudah ada rasa sama kamu, jadinya lihat kamu kayak gini, dia ikutan sakit. Sama seperti Mama, lihat kamu sakit kayak gini, juga hati Mama sakit, Fel."
"Maafin Marfel ya, Ma."
"Enggak papa, tapi lain kali hati-hati kalau nyetir,"
"Iya, Ma. Aku pasti hati-hati kok."
"Oh ya, Naila mana?" tanya Pak Atmaja.
"Dia lagi keluar panggil dokter. Oh ya, setelah ini, Mama sama Papa pulang aja ya."
"Loh kenapa?" tanya Ibu Maria tak suka, karena putranya seakan mengusir dirinya. Padahal dirinya ingin menemani Marfel yang tengah sakit.
"Ya biar aku bisa berduaan sama Naila, Ma. Ini tuh kesempatan aku, pura-pura lemah. Kapan lagi coba aku dapat perhatian dari dia, di manjain juga," jawab Marfel yang membuat Pak Atmaja dan Ibu Maria melongo.
"Ya ampun, kok gini amet Mama punya anak, Pa," keluh Ibu Maria sambil memijit keningnya.
"Iya, Papa pun gak tau, Ma. Perasaan dulu walaupun Papa jatuh cinta sama Mama, gak gini-gin amat deh," sindir Pak Atmaja, yang malu sendiri dengan kata-kata putranya itu.
"Kalau bisa juga bilang sama dokter, biar aku sebulan aja di sini, Ma, Pa," pinta Marfel.
"Astaga, apalagi ini?" ucap Ibu Maria shock.
"Ayolah, Ma. Bantuin aku, please. Bilang aja sakit aku parah, biar aku bisa lama-lama berduaan sama Naila."
"Terus kerjaan kamu gimana?" tanya Pak Atmaja, lama-lama ia kesel juga dengan putranya itu.
"Ya, kan aku juga guru pengganti, Pa. Suruh aja yang lain buat ngajar. Aku mah ingin berduaan dulu sama Naila, samapi memastikan hati dia buat aku, baru aku jadi guru lagi. Sama fokus kerja di perusahaan,"
"Iya sudahlah, Pa.. Turutin aja, kemauan Marfel," ucap Ibu Maria, yang akhirnya luluh juga dengan sang putra. Bagaimanapun, saat ini putranya itu tengah berjuang demi cintanya.
"Iya sudah, deh," Akhirnya Pak Atmaja pun hanya bisa mengangguk pasrah. Apalagi yang bisa ia lakukan jika sang istri sudah mendukung apa yang di lakukan oleh putranya itu.
Tak lama kemudian, Naila datang bersama seorang dokter. Naila sempat kaget melihat ada kedua orang tua Marfel, namun hanya sesaat.
"Dari mana, Nai?" tanya Ibu Maria.
"Ini, Tan. Naila manggil dokter buat memeriksa keadaan Mas Marfel," jawab Naila sambil menghampiri Marfel.
"Iya, Tan. Mau minta tolong apa?" tanya Naila.
"Gini, Tante pengen Bubur Kacang Ijo di sebrang jalan rumah sakit. Mau nemenin Tante?" tanyanya. Entah kenapa, hanya ide itu yang terlintas di benaknya.
"Boleh, Tan. Tapi gimana dengan Mas Marfel?" tanya Naila yang menatap ke arah Marfel.
"Biar Om yang menemani Marfel, Nai," ujar Pak Atmaja yang ikut drama yang di ciptakan oleh sang istri.
"Baiklah."
Dan akhirnya Naila pun hanya mengangguk, setelah itu, Naila dan Ibu Maria pun langsung pergi dari sana. Sedangkan sang dokter memeriksa Marfel.
"Alhamdulillah keadaan Pak Marfel semakin baik. Jika terus membaik, mungkin lusa sudah boleh pulang," ucap sang dokter setelah selesai memeriksa Marfel.
"Dok, apa boleh saya minta tolong?" tanya Pak Atmaja menahan rasa malu.
"Iya," jawab sang dokter yang mulai was-was. Entah kenapa firasatnya juga tak enak.
"Gini, bisa gak kalau putra saya, di buat lama aja," ucap Pak Atmaja tersenyum canggung. Sang dokter yang mendengarnya pun melongo. Biasanya para pasien ingin cepat-cepat pulang, ini malah ingin di buat lama.
"Gini putra saya itu lagi berusaha menarik perhatian wanita tadi. Jadi saya mohon, izinkan putra saya di rawat di rumah sakit ini agak lama ya, sekitar dua Mingguan. Apakah bisa?" tanya Pak Atmaja, sedangkan Marfel mengerutkan dahi. Bukankah tadi dia minta satu bulan, kenapa cuma dua Minggu. Namun Marfel memilih diam, setidaknya dua Minggu juga sudah cukup untuk menarik perhatian Naila untuknya.
"Tapi, Pak ...."
"Saya akan bayar semuanya, anggap saja saya menyewa ruangan ini selama dua Minggu ke depan. Atau saya bisa bicara dengan atasan Dokter?" tanya Pak Atmaja.
"Baiklah, nanti saya akan mengatakan ini dulu dengan atasan saya,"
"Terima kasih, Dok."
Dokter itu pun hanya menganggukkan kepala, lalu setelah itu, ia pun pamit untuk pergi dari sana, karena masih ada banyak pasien yang harus ia tangani.
Setelah kepergian dokter, Marfel pun mulai protes. "Papa kok cuma dua Minggu sih?" tanyanya tak terima.
"Sudah untung Papa mau menuruti permintaanmu yang tak masuk akal itu," jawab Pak Atamaja sinis. Hhh, baru kali ini ia harus memohon demi memenuhi kemauan putranya itu.
"Ish Papa nih, kayak gak pernah muda aja," sungut Marfel kesal. Namun Pak Atmaja pura-pura tak mendengar.
Pak Atmaja duduk di sofa dan memainkan Hpnya, tak lama kemudian. Tante Marian dan Naila pun datang membawa empat mangkok bubur kacang ijo.
"Mama kok lama?" tanya Pak Atmaja.
"Iya, tadi masih ngantri, Pa. Gimana kata dokter tadi?" tanya Mama Maria sambil memberikan satu mangkok bubur kacang ijo buat suaminya. Sedangkan Naila, ia menaruh dua mangkok bubur kacang ijo di atas meja samping brankar.
"Marfel harus di rawat dua Minggu, Ma," jawab Pak Atmaja, padhal dokter tadi belum memberikan kepastian.
"Oh. Terus gimana dong, Pa. Mama kan harus keluar kota besok, Papa juga kan harus kerja," keluh Ibu Maria, sambil mengintip ke arah Naila.
"Biar Marfel sendirian aja, Ma. Lagian Marfel kan sudah dewasa, bisa jaga diri kok." Marfel mulai masuk ke drama sang Mama.
Mendengar Marfel sendirian, hati Naila tersentuh.
"Kalau Tante dan Om gak keberatan, biar Naila aja yang jaga Mas Marfel. Nanti Naila akan mengambil baju untuk taruh di sini. Jadi Naila bisa berangkat sekolah dari sini," ucap Naila.
"Makasih ya, Nai. Tante jadi merasa gak enak sama kamu." Di dalam hati, Ibu Maria merasa senang karena Naila ternyata cukup peka.
"Naila senang kok bisa bantu menemani Mas Marfel di sini."
"Terus gimana dengan pekerjaan kamu, Nai?" tanya Pak Atmaja, yaang sudah tau jika Naila itu harus kerja sepulang sekolah.
"Itu gampang kok Om, aku bisa memantau mereka dari CCTV yang terhubung di laptop Naila. Dan lagi, masalah laporan, nanti Mbak Indah dan Mbak Ika, akan mengirim file nya ke Naila. Jadi Naila bisa bekerja dari sini."
Mendengar kata Naila, membuat Pak Atmaja, Ibu Maria bahagia. Karena Naila lebih memprioritaskan Marfel.
"Ya, nanti aku akan bantu kamu." Marfel pun ikut-ikutan angkat suara.
"Ya, nanti jika ada tugas sekolah, kalau ada yang gak aku tau, aku bisa tanya ke Mas langsung. Anggap aja bayaran karena aku sudah menjaga Mas Marfel," canda Naila membuat mereka tertawa.
Setelah itu mereka pun memakan bubur kacang ijonya. Naila membantu Marfel untuk duduk dan menyuapi Naila. Bahkan mereka makan satu mangkok berdua, baik Naila ataupun Marfel, gak ada rasa jijik walaupun harus berbagi sendok. Malah Marfel merasa senang karena dengan berbagi sendok, secara tidak langsugn mereka berci uman.
Setelah menyelesaikan makan bubur kacang hijaunya, Ibu Maria dan Pak Atmaja pun pamit pulang. Tak lupa Tante Maria membawa mangkok kosong itu, sekalian keluar.
Dan kini hanya tinggal Naila dan Marfel di ruangan itu, entah kenapa membuat Naila gugup. Padahal ini bukan pertama kalinya mereka berduaaan.