Novemberain

Novemberain
Ayo Menikah!



Naila mengguncang-guncangkan tubuh Marfel, sedangkan semua alat masih menempel di tubuh Marfel dan belum sempat dilepas karena Naila keburu masuk.


"Mas Marfel, bangun. Katanya cinta aku, katanya sayang aku. Kenapa malah ninggalin aku hiks hiks. Ayo bangun. Jangan tinggalin aku, aku mohon," pinta Naila terus mengguncang-guncangkan tubuh Marfel.


"Aku mohon jangan tinggalin aku, aku masih sangat mencintai Mas Marfel. Aku sudah kehilangan Kak Fahmi. Aku gak mau Mas Marfel ninggalin aku juga. Ayo bangun, aku mohon," Naila memeluk Marfel dengan erat. Seakan jika ia melepas pelukannya itu, Marfel akan menghilang darinya.


"Maafin aku sudah nyakitin Mas Marfel. Maafin aku. Enggak papa jika Mas Marfel bersikap posesif sama aku, gak papa. Tapi aku mohon jangan tinggalin aku, ayo kita menikah. Bukankah Mas Marfel ingin menikah denganku. Ayo kita nikab sekarang. Tapu jangan kayak gini, jangam tinggalin aku kayak gini." Naila memeluk erat bahkan ia juga mencium dahi, pipi dan bibir Marfel. Berharap akan ada keajaiban datang.


Semua dokter dan suster yanga dan disana ikut menangis. Pak Atmaja dan Ibu Maria pun berjalan menghampiri Naila dan berdiri tepat di samping brankar.


"Bangunlah, Nak. Kasihan Naila. Dia sudah mau kamu nikahi. Jangan tinggalkan kami semua." Ibu Maria tak kalah sedihnya, Ibu mana yang akan baik-baik saja jika putranya meninggal lebih dulu. Ibu mana yang tak sedih melihat putranya yang kini tak lagi benyawa.


"Mas bangun." teriak Naila yang sudah frustasi karena Marfel gak bangun-bangun.


"Bangun, please. Aku mohon. Bangun, Mas. Ayo menikah, aku janji gak akan cuek lagi. Gak akan bersikap dingin lagi. Ayo kita nikah! Tapi jangan giniin aku, jangan tinggalin aku, aku gak sanggup hiks." Naila terus menangis.


"Bangun, Sayang. Ayo kita lanjutkan lagi hubungan kita. Aku gak akan dekat-dekat dengan cowok lain lagi. Aku gak akan bikin kamu cemburu lagi. Kamu milikku dan kamu milikku." bisik Naila di samping Marfel.


Dan tak lama kemudian, tanda garis yang di layar sebelah Marfel berbunyi lagi, membuat dokter terkejut. Dokter yang berada tak jauh dari Naila pun langsung melakukan tindakan. Mengingat jantung Marfel masih sangat lemah.


Dokter melakukan denyut jantung, sampai akhirnya jantung Marfel kembali ke normal dan semuanya bernafas dengan lega. Untung semua perlatan di tubuh Marfel belum sempat di copot karena Naila yang memaksa masuk.


"Alhamdulillah, pasient sudah melewati masa kritisnya. InsyaAllah tak lama lagi ia akan segera sadar," tutur dokter itu membuat semua orang disana bernafas lega.


Naila kembali mendekati Marfel sedangkan dokter dan suster memilih untuk lergi dari sana setelah menyelesaikan pekerjaannya. Sedangkan Ibu Maria dan Pak Atmaja bernafas lega, mereka gak menyangka jika kata-kata Naila bisa membuat Marfel kembali pada mereka. Atau mungkin Marfel belum waktunya tiada, hingga ia memilih untuk tetap bersama mereka terutama Naila, wanita yang sangat di cintainya.


Pak Atmaja mengajak Ibu Maria untuk pergi dari sana dan memberikan Naila waktu berdua dengan Marfel. Mereka yakin, dengan adanya Naila di samping Marfel akan membuat keadaan Marfel segera pulih dan sadar.


Setelah mereka semua pergi, Naila mencium punggung tangan Marfel berulang-ulang. Ia mencium seluruh wajah Marfel, tak peduli itu dosa apa gak.


Ia hanya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena Marfel masih mau bertahan untuknya. Ia bersyukur, Marfel tidak menyerah dan mau berjuang sekali lagi.


"Sayang, terima kasih sudah kembali untukku. Aku janji, akan membahagiakan kamu. Aku gak akan mengecewakan kamu lagi, aku gak akan bikin kamu sakit hati lagi. Maafin aku, karena terlalu egois. Hanya memikirkan perasaan aku, sampai aku tak lagi peduli apa yang kamu rasakan.


Maafin aku, Sayang. Tapi percayalah di balik sifat dinginku, aku sangat mencintai dirimu. Dulu hingga sekarang, hanya kamu yang aku cintai. Aku gak mau kehilangan kamu lagi hiks." Naila memeluk tubuh Marfel dengan hati-hati, ia takut jika sampai kena alat yang menempel di dada Marfel.


"Aku ingin menghabiskan sisa umurku dengan kamu, Mas. Aku gak mau kehilangan kamu lagi. Berat rasanya jauh darimu. Hampir setiap malam, aku selalu merindukan kamu, Mas," ujarnya mengungkapkan perasaanya.


Marfel yang mendengarnya pun merasa bahagia. Lambat laun, Marfel mulai membuka matanya dan menggerakkan tangannya untuk menyentuh Naila.


Naila yang merasa ada gerakan pun langsung menatap mata Marfel yang tersenyum ke arahnya.


"Mas, kamu sudah bangun?" tanyanya dan Marfel pun menganggukkan kepala. Jujur badannya sakit semua, bahkan kepalanya pun terasa pusing.


Ia ingat, tadi malam ia merasa frustasi karena sikap Naila padanya. Hingga ia menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan. Entah apa hang ada dalam fikirannya, hingga membuat ia nekat melakulan hal itu.


Namun jika melihat sikap Naila kembali menghangat, maka ia tak menyesal sudah melakukan itu, walaupun efeknya saat ini, tubuhnya sakit luar biasa. Namun rasa sakit ini gak akan sebanding dengan rasa sakit yang ia dapati tadi malam, rasa sakit yang tak tampak di luar, namun membuat dunianya hampir runtuh.


"Maafin aku ya, Mas. Maafin aku." Naila sekali lagi mengecup kening, pipi dan bibir Marfel.


Marfel yang belum siap di cium pun merasa kaget, namun di detik berikutnya ia merasa sangat bahagia. Ingin rasanya membalas ciuman Naila, sayangnya tubuhnya masih terlalu lemah dan sakit, hingga ia hanya bisa berbaring saja.


"Ayo kita menikah," ajak Naila yang lagi-lagi membuat Marfel sok. Enggak menyangka jika Naila akan berkata seperti itu.


Andai ia tau jika kecelakaan ini akan membuat Naila mengajak dirinya menikah, sudah dari dulu ia lakukan. Tak apa jika sampai membuat dirinya hampir kehilangan nyawa, setidaknya ia mendapatkan hal yang sepadan. Yaitu cinta dan maaf dari Naila.


Bahkan kini Naila sendiri yang mengajak dirinya menikah, tentu ia tak akan menolak. Karena ini yang ia inginkan dari dulu. Bersatu dengan wanita yang ia cintai.


Tuhan masih baik padanya, karena mengabulkan apa yang ia minta.


"Nai, aku mau," ucapnya lirih.


Naila tersenyum, mendengar suara Marfel, membuat dirinya semakin lega. Ia menghapus air matanya yang terus mengalir. Ia tak menyangka keajaiban itu bemar-benar ada dan Tuhan memberikan ia kesempatan untul bersatu dengan orang yang ia cintai. Lalu bagaimana mungkin Naila akan menyia-nyiakannya.


"Baiklah, nanti aku akan hubungi Bunda ya. Mas harus semangat dong sembuhnya, biar kita segera bersatu dalam ikatan pernikahan," ujarnya membuat Marfel tersenyum senang.


Ia janji, ia akan segera sembuh karena Nailalah semangat hidupnya.