Novemberain

Novemberain
Marahan



Sore harinya, Naila memilih untuk mandi karena merasa dirinya baik-baik aja. Walaupun Marfel melarangnya untuk mandi, tapi ia tetap memilih untuk mandi, karena ia tak suka dengan tubuh yang lengket. Setelah selesai mandi, Naila langsung membuka laptopnya dan menghidupnya. Sambil menunggu beberapa menit sebelum dimulai, Naila mengambil Hpnya dan ternyata hpnya mati, mungkin kehabisan baterai. Ia pun mengecas Hpnya itu dan menaruhnya di samping laptop.


Saat laptop sudah menyala, hal pertama yang di lakukan oleh Naila adalah membuka email. Dan benar saja, sudah banyak pekerjaan yang menanti. Tanpa membuang-buang waktu, Naila pun mengerjakan pekerjaan yang di kirim via email oleh dua orang kepercayaannya yang mengurus resto satu dan dua.


Bahkan bundannya juga mengirim pekerjaan via email, untuk di kerjakan oleh Stellah. Stellah pun tak mempermasalahkannya, malah ia senang karena bisa membantu sang Bunda.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Naila yang asyik bekerja, seakan lupa waktu. Untungnya dia belum suci, sehingga masih libur sholat. Saat seseorang mengetuk pintu, Naila tak mendengarnya karena ia tengah mendengarkan lagu memakai headset.  Karena tak ada tanggapan dari Naila, orang itu pun membuka pintu dan melihat Naila yang tengah bekerja.


"Nai," panggil Marfel, namun Naila tetap tak menjawabnya. Barulah setelah Marfel mendekat, dia tau jika Naila memakai headset. Marfel pun menepuk lengan Naila hingga membuat Naila terkejut dan menoleh ke arah Marfel. Ia segera melepas headsetnya dan mematikan lagunya.


"Ada apa, Mas?" taya Naila.


"Ayo makan malam dulu, Mama sama Papa aku sudah menunggu dari tadi," jawab Marfel. Naila pun menganggukkan kepala. Ia pun mematikan laptopnya, ah lebih tepatnya hanya di sleep karena sehabis makan, ia akan melanjutkan pekerjaannya..


Marfel dan Naila pun langsung keluar dari kamar dan pergi menuju ke ruang makan.


"Maaf Om, Tante. Nai telat," ujar Naila meminta maaf sebelum akhirnya ia duduk di samping Marfel.


"Enggak papa, kamu lagi apa tadi?" tanya Ibu Maria.


"Lagi ngerjakan data resto, Tan. Tadi Mbak Ila sama Mbak Indah mengirim data via email, jadi langsung aku kerjakan, biar gak numpuk. Sama bantuin Bunda juga," jawab Naila tanpa ada yang di tutup-tutupi.


"Kamu kalau masih sakit, jangan dipaksa kerja, nanti malah makin lama sakitnya," ucap Pak Atmaja.


"Nai sudah sembuh kok, Om. Malah besok Nai sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Nai harus sekolah biar gak ketinggalan pelajaran dan langsung ke resto juga," balas Naila ramah.


"Tapi pulangnya jangan malam-malam, gak baik udara malam. Kamu kan baru sembuh, nanti malah sakit lagi," tutur Ibu Maria dan Naila pun menganggukkan kepala.


"Besok biar aku yang antar kamu ya ke sekolah sama ke resto dan aku gak menerima penolakan," tegas Marfel membuat Pak Atmaja dan Ibu Maria terkekeh dengan sikap putra semata wayangnya itu. Dan Naila pun hanya bisa pasrah dan mengiyakan permintaan Marfel. Dirinya bisa apa, jika Marfel sudah berkata seperti itu.


"Nanti juga tidurnya tidak boleh malam, gak usah begadang lagi. Jika masih ada pekerjaan, bisa di kerjakan besok atau kamu bisa minta bantuaan aku, aku akan dengan senang hati membantu kamu," kata Marfel sambil menatap Naila yang sedari tadi hanya diam saja.


"Pekerjaanku sudah selesai kok, rencananya, aku mau buat cerita, soalnya aku gak update sejak kemaren, orang-orang pasti menunggu. Aku janji hanya buat satu bab saja, setelah itu aku akan langsung tidur," ucap Naila berusahsa meyakinkan Marfel.


"Baiklah, nanti aku akan ke kamar kamu, dan memastikan kamu tidur dan tidak begadang lagi. Jika kamu masih begadang, maka aku gak izinkan kamu sekolah dan aku akan menyita hp dan laptop kamu," ujar Naila dan Naila pun hanya bisa menghela nafas.


"Iya-ya," balas Naila kesal, karena Marfel seperti suami yang protektif sekali.


Mendengar ucapan Marfel tadi, Pak Atmaja hanya bisa tersenyum, tak menyangka jika putranya bisa seperti itu. Bahkan dirinya yang sudah menjadi suami dan orang tua pun, tak pernah protektif secara berlebihan seperti.


"Sudah-sudah, ayo makan dulu. Nanti keburu dingin," ucap Ibu Maria.


Dan akhirnya semuanya pun diam. Ibu Maria mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya, lalu setelah itu ia mengambil untuk dirinya sendiri.


"Nai, kamu gak mau belajar jadi istri yang baik?" tanya Marfel.


"Maksudnya?" tanya Nai tak mengerti, karena ia mengambil nasi dan lauk pauk untuk dirinya sendiri. Sedangkan piring Marfel masih kosong.


"Papaku aja, nasi dan lauk pauknya di ambilin sama Mama. Masak aku gak?" sindir Marfel membuat Naila hanya geleng-geleng kepala.


Tanpa banyak bicara, Naila pun langsung mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk Marfel. "Apa perlu aku suapi juga, Mas?" sindir balik Naila yang membuat Marfel mengangguk dengan antusias.


"Sudah, jangan manja. Makan sendiri aja. Naila juga pasti lapar, kan?" ujar Ibu Maria yang melihat tingkah laku anaknya yang semakin memalukan.


"Ish Mama, kayak gak pernah muda aja," ucap Marfel cemberut, namun ia tetap makan sendiri, sedangkan Nai juga memilih diam dan menikmati makan malamnya.


Selesai makan, Naila membantu Ibu Maria membersihkan ruang makan sedangkan untuk mencuci piring, ada Bibi (Art) yang akan membersihkannya.


"Awas, Fel. Mama akan marah besar, jika kamu ngapa-ngapain anak orang," ucap Ibu Maria tegas saat Marfel berjalan ke arah kamar Naila.


"Ya-ya, Bunda. Marfel gak akan melakukan hal-hal yang akan merugikan orang lain. Lagian pintunya akan Marfel buka lebar-lebar, biar gak terjadi fitnah nantinya dan gak ada yang punya pemikiran negatif," balas Marfel sambil terus melanjutkan perjalannya ke kamar Naila.


"Hah, punya anak satu, bucinnya gak ketolongan," ujar Ibu Maria menghela nafas.


"Sudahlah, yang penting kan putra kita tak sampai melakukan hal besar. Papa percaya, Marfel bisa jaga diri  dengan baik. Dia gak mungkin tega menyakiti orang yang ia cintai," sahut Pak Atmaja menenangkan istrinya.


Sedangkan di kamar, Marfel tengah tiduran di kasur sambil melihat ke arah Naila yang tengah fokus mengetik. Marfel tak berani mengajak Naila bicara, karena Naila tak suka jika ia tengah buat cerita, dan di ganggu. Kecuali yang lain, ia tak apa, tapi khusus saat ia buat cerita, ia tak suka jika ada yang bersuara, itulah kenapa Marfel memilih diam layaknya patung, ia hanya diam, tiduran sambil memperhatikan Naila yang begitu cantik, apalagi saat tengah serius seperti itu.


Sesekali Naila akan mengerutkan dahi, dan tiba-tiba terlihat sedih, seperti sedang tertimpa masalah, namun hitungan menit, ia akan tersenyum, seakan tak terjadi apa-apa.


Marfel yang diam memperhatikan hanya geleng-geleng kepala, karena dari beberapa menit, sudah banyak perubahan wajah Naila. Mungkin saat Naila terlihat sedih, ia sedang membuat cerita adegan sedih, begitupun sebaliknya, saat ia senyam-senyum senndiri, ia tengah membuat cerita beradegam romantis atau yang lainnya.


Setelah duam jam lebih, akhirnya Naila pun selesai juga. Ia segera menguploadnya melalui sebuah web karena ia tadi nulis di laptop. Kalau ia nulis di laptop, Naila akan menguploadnya melalui sebuah web, berbeda jika mengetik pakai hp, maka bisa langsung menguploadnya lewat aplikasi.


Tak menyangka, ternyata Naila menulis tiga ribu lima ratus kata, yang ia bagi menjadi tiga bab. Padahal janjinya hanya satu bab saja, namun siapa sangka malah kebabblasan. Setelah mematikan laptopnya, barulah Naila menghidupkan Hpnya yang di cas sedari tadi.


"Kamu kan sudah selesai ngetik, jadi ini waktunya tidur, bukan malah main hp," ujar Marfel yang bangkit dari tidurnya dan duduk di pinggir kasur.


"Bentar, Mas. Aku seharian ini gak main hp loh. Aku mau lihat takutnya ada chat penting yang masuk," ucap Naila tanpa melihat ke arah Marfel.


"Berapa lama?" tanya Marfel.


"Apanya?" tanya Naila tak mengerti.


"Berapa lama kamu main hp, terus tidur?" tanya Marfel.


"Astaga, Mas. Aku bukan anak kecil, yang harus di atur," ujar Naila  kesal.


"Jadi kamu gak suka?" tanya Marfel marah.


"Bukannya gitu, aku hanya gak suka di atur seperti anak kecil, Mas. Aku tau, kapan aku harus istirahat, jadi gak perlu sampai segitunya."


"Iya sudah kalau gitu terserah kamu," ucap Marfel marah, ia langsung keluar dari kamar itu dengan membanting pintu kamarnya, membuat Naila kaget seketika. Sedangkan Marfel ia masuk ke kamar sebelah dan mengunci pintu itu dari dalam.


Marfel kecewa, karena Naila tak mau mendengarkan kata-katanya. Padahal ia melakukan itu karena sangat menyayangi dan mencintai Naila, dan ia gak ingin kenapa-napa dengan Naila. Ia tak ingin melihat Naila drop lagi dan sakit lagi. Marfel gak mau itu terjadi. Karena hatinya sangat sakit melihat Naila seperti kemaren sampai tak sadarkan diri.


Tapi sayangnya, Naila seakan tak mengerti bagaimana perasaanya. Naila seakan acuh tak acuh terhadapnya. Dan itu membuat Marfel kecewa dan ingin marah, namun Marfel tak mungkin melampiaskan emosinya ke Naila. Untuk itu, ia memilih menghindar dan menenangkan hatinya agar jangan sampai melakukan hal-hal yang akan menyakiti hati Naila.


Sedangkan Naila sendiri hanya bisa menatap ke arah pintu yang tadi di tutup secara kasar. Naila hanya berharap, suara tadi tak sampai ke telinga Pak Atmaja dan Ibu Maria, karena ia tak ingin menganggu istirahat mereka.


Saat HPnya sudah hidup, banyak notifikasi masuk ke Hpnya. Terutama Wa yang bahkan sudah seratus lebih pesan. Melihat banyak chat, Naila pun membalas satau persatu pesaan itu dari bawah.


Dan ternyata pesan itu dari sang Bunda, ada pesan juga dari Mbak Indah dan Mbak Ila. Serta pesan dari Stefan dan dari Alfa. Paling banyak pesan-pesan itu dari Rani, Rifa, Ayu, Puput, Firoh dan Rahma.


Mereka menanyakan kenapa Naila tidak masuk sekolah. Dan juga ternyata tadi, sepulang sekolah anak-anak main ke rumah Naila, hanya saja rumah itu tertutup rapat, karena emang gak ada orang. Lagi-lagi mereka menanyakan keberadaan Naila. Sayanngya pesan itu baru bisa di baca Naila. Naila pun segera membalas pesan itu satu  persatu.


Setelah membalas semua pesan itu, Naila pun menaruh Hpnya. Dan ia langsung pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Setelah itu, ia berbaring di atas tempat tidur dan mulai memejamkan mata. Ia seakan lupa dengan Marfel yang kini tengah marah.


Tengah malam, Marfel kembali ke kamar Naila dan melihat Naila yang sudah tidur nyenyak. Marfel hanya cemberut melihatnya, karena ia sudah menunggu Naila dari tadi, ia berfikir Naila akan menghampirinya dan membujuknya, siapa sangka, Naila malah keenakan tidur sedangkan dirinya galau merana di kamar sebelah.


"Sial, kamu emang kejam Nai. Ingin rasanya aku marah tapi aku gak bisa," ujar Marfel. Ia mendekati Naila dan mencium kening Naila. Setelah itu, ia pun kembali ke kamarnya yang ada di sebelah, tak lupa ia menutup pintu kamar Naila agar tak ada yang masuk.


Melihat jam sudah menunjukkan pukul satu malam, Marfel pun cepat-cepat tidur agar besok tak bangun kesiangan. Karena besok ia harus mengantarkan Naila sekaligus kembali mengajar, setelah itu, ia akan mengantarkan Naila ke resto. Sambil nunggu Naila selesai bekerja, ia bisa kembali ke kantor dan mengerjakan pekerjaannya sendiri. Untung dirinya bukan seorang karyawan, sehingga bisa masuk seenaknya tanpa dapat teguran dari siapapun.