Novemberain

Novemberain
Perhatian Calon Mertua



Keesokan paginya, Naila bangun pas denger adzan shubuh di hpnya. Ia melihat Marfel yang masih tertidur nyenyak. "Katanya mau bangunin aku, malah aku yang bangun duluan," gumam Naila dalam hati. Ia turun dari brankar, kepalanya sudah tak lagi pusing, suhu panasnya juga sudah menurun. Walaupun masih lemas, tapi Naila sudah merasa jauh lebih baik.


Ia berjalan ke arah kamar mandi sekitar lima belas menit, baru dia keluar dan menghampiri Marfel.


"Mas, bangun. Sholat shubuh dulu, sudah adzan," ujar Naila. Mendengar suara Naila, Marfel pun membuka mata.


"Sudah bangun, Nai?" tanya Marfel.


"Iya."


"Gimana keadaan kamu, sudah lebih baik?" tanyanya sambil duduk dan melihat ke arah Naila yang sudah tampak segar karena baru cuci muka.


"Sudah, Mas. Cuma agak lemas aja dikit."


Marfel memegang kening Naila dan memang benar, suhu tubuhnya sudah tak seperti tadi malam, yang panas banget.


"Syukurlah. Aku senang lihat kamu sehat kembali, Nai."


"Aku emang gak bisa lama kalau sakit, kalau lama, bisa-bisa pekerjaanku numpuk dan terbengkalai, aku mudah sakit, tapi sakitnya gak bisa lama, hehe," ujar Naila. Melihat itu, Marfel hanya tersenyum. Ia tau, Naila berbeda. Ia tak bisa menjadi wanita manja, yang hanya berbaring di atas tempat tidur. Naila harus cepat sembuh agar bisa terus bekerja membantu sang bunda. Andai ayahnya masih hidup, mungkin Naila bisa bermanja-manja seperti wanita kebanyakan. Bagaimanapun Naila masih umur belasan tahun, yang butuh kasih sayang, bukan malah menanggung beban yang berat.


"Aku ambil wudhu dulu ya."


"Iya, Mas."


Marfel pun pergi ke kamar mandi, sedangkan Naila membersihkan ruangan itu. Karena Marfel sudah boleh pulang, jadi Naila berfikir lebih baik mempacking baju-bajunya, karena jika Marfel pulang, tentu dirinya juga harus pulang.


"Kamu ngapain, Nai?" tanya Marfel melihat Naila sibuk memindahkan baju di lemarinya ke dalam tas besar.


"Aku packing baju untuk bawa pulang, Mas. Kita pulang hari ini kan?" tanyanya.


"Iya, tapi biar aku aja. Kamu kan masih sakit, biar nanti aku yang bantu kamu."


"Aku  masih kuat kok. Mas sholat aja dulu, kalau emang mau bantu, Mas bisa packing punya Mas aja. Biar yang ini, aku yang kerjakan," balas Naila.


"Baiklah, tapi jangan terlalu capek ya."


"Iya, Mas."


Setelah itu, Naila melanjutkan packing bajunya, sedangkan Marfel sholat, ia melaksanakan sholat shubuh. Setelah selesai, barulah dia bantu Naila beres-beres. Ia gak mungkin bisa diam aja, melihat Naila yang masih lemas dan masih sakit harus ke sana kemari, packing ini dan itu, dan membersihkan ruangan.


"Kamu duduk aja, Nai. Lagian kan sudah selesai packing bajunya, biar sisanya aku yang bersihkan."


"Iya, Mas."


Naila pun memilih untuk duduk karena kepalanya mendadak pusing lagi. Sedangkan Marfel ia membersihkan ruangan itu, padahal biasanya sih gak perlu bersih-bersih. Lagian juga kan Marfel di sini sudah bayar penuh. Tapi ia juga gak bisa berbuat apa-apa, karena ia tak tega melihat Naila. Jadi ia memilih untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, barulah ia menghampiri Naila yang tengah memijit  pelipisnya.


"Kenapa, Nai?" tanya Marfel.


"'Gak papa, Mas," ucapnya berbohong.


"Pusing?" tanyanya lagi. Dan Naila pun menggelengkan kepala.  Marfel berjalan ke belakang Naila dan memijit pelipis Naila dari belakang.


"Mas," Naila merasa gak enak sendiri, bagaimanapun Marfel ini adalah gurunya sendiri.


"Sudah, jangan banyak protes."


Mendengar hal itu, Naila pun diam dan menikmati pijitan Marfel di pelipisnya.


"Terima kasih ya, Mas," ujar Naila.


"Iya, masih pusing?" tanyanya setelah hampir lima belas menit memijit kening Naila.


"Ya, nanti biar aku yang absen kan kamu ke guru kamu."


"Gak usah, Mas. Biar aku minta bantuan Rani aja untuk buatin aku surat," tolak Naila. Marfel pun hanya mengiyakan saja, tapi tetap ia akan memberitahu guru yang lain. Lagian juga, Papanya sebagai kepala sekolah sudah mengetahui kondisi Naila.


Setelah memijir Naila, Marfel kembali duduk di samping Naila.


"Wajah kamu masih pucat Nai, walaupun gak sepucat tadi malam sih."


"Nanti juga kalau di bawa istirahat lagi, pasti hilang pucatnya, Mas," sahut Naila terkekeh.


Saat mereka tengah mengobrol, pintu terbuka.


"Assalamualaikum, loh sudah sehat, Nai?" tanya Ibu Maria yang masuk bareng Pak Atmaja.


"Waalaikumsalam, Iya, Tan," jawab Naila sambil bangkit dari tempat duduknya dan mencium tangan Ibu Maria dan Pak Atmaja, lalu setelah itu ia pun duduk kembali di samping Marfel.


"Loh ini sudah mau siap pulang?" tanya Ibu Maria melihat ada beberapa tas besar di  samping sofa dan ruangan ini juga bersih dan tertata rapi seperti yang tak pernah dipakai sama sekali.


"Iya, Tante. Lagian Mas Marfel juga sudah sembuh dan katanya sudah boleh pulang," sahut Naila sopan.


"Terus kamu sendiri gimana, kalau kamu belum sembuh, mending dirawat aja. Lagian kalau kamu pulang, kamu di rumah sendiri. Apa pulang ke rumah Tante aja untuk sementara waktu, sampai kondisi kamu beneran fit, baru Tante izinin kamu pulang ke rumah kamu sendiri. Soalnya kalau kamu sampai pingsan lagi, siapa yang mau nolong?" tanya Ibu Maria merasa kasihan dengan nasib Naila.


"Kalau pingsan nanti kan bangun sendiri, Tante. Dulu juga pas Naila pingsan, Naila bangun sendiri kok hehe," ujar Naila terkekeh. Ia masih ingat, saat dulu dirinya pusing dan pingsan di dapur. Untungnya waktu itu, bukan lagi masak, tapi habis beres-beres, tiba-tiba kepalanya pusing dan saat jalan mau ke kamar, dirinya langsung merasa gelap dan gak ingat apa-apa. Saat bangun dirinya tidur di lantai dapur.


"AStaga, kamu pernah pingsan dan gak ada yang nolong?" tanya Ibu Maria heboh. Dan Naila pun menganggukkan kepala, lalu ia menceritakan kejadian dulu, membuat Marfel, Ibu Maria dan Pak Atmaja, semakin merasa kasihan dengan keadaan Naila.


"Ya Tuhan ... pokoknya kalau emang pengen pulang, pulang ke rumah Tante aja, Tante yang akan rawat kamu sampai bener-bener sembuh. Iya kan Pa?" tanya Ibu Maria menatap suaminya.


"Ya bener, apa kata istri saya. Mending kamu pulang ke rumah Om aja dulu. Di sana, ada Istri Om yang akan jaga kamu. Kalau kamu sendirian, nanti kenapa-napa, gak ada yang nolongin," ucap Pak Atmaja.


"Mau ya, Nai. Please. Demi aku," mohon Marfel menatap Naila dengan tatapan penuh harapan yang besar.


"Baiklah, tapi hanya sampai Naila benar-benar sembuh dan setelah itu, Naila akan pulang ke rumah Naila sendiri," ujar Naila dan mereka pun bernafas lega.


"Iya sudah, karena kalian sudah siap. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" tanya Pak Atmaja. Naila pun menganggukkan kepala.


Setelah itu, Marfel pun membopong Naila. Dia menggendong Naila ala Bridal Style.


"Loh, Mas. Turunin aku," ujar Naila yang merasa malu dengan kedua orang tua Marfel.


"Kamu itu belum sembuh, dari sini ke parkiran itu jauh. Nanti kamu bisa pingsan lagi, biar aku yang gendong kamu," balas Marfel.


"Iya, Nak. Biar Marfel yang gendong kamu, lagian kamu itu kurus, gak akan bikin Marfel capek," imbuh Ibu Maria membantu putranya.


Mendengar ucapan Ibu Maria, Naila pun tak lagi berontak.


"Terus gimana dengan tasnya?" tanya Naila melihat tas-tas besar berisi bajunya, kebutuhannya dan juga laptop serta yang lainnya. Juga ada tas berisi perlengkapan Marfel.


"Biar Tante dan OM yang bantu bawakan," sahut Pak Atmaja.


"Tapi ... " Naila merasa tak enak sendiri, karena sudah merepotkan banyak orang.


"Sudahlah, lagian Mama dan Papa aku gak keberatan," ucap Marfel sambil berjalan keluar menuju parkiran. Sedangkan Ibu Maria dan Pak Atmaja mengikutinya dari belakang sambil membawa beberapa tas besar mililk mereka. Ibu Maria sih cuma bawa satu, sedangkan Pak Atmaja membawa tiga tas.


Sesampai di parkiran, Marfel langsung memasukkan Naila di kursi belakang bersamaan dengan dirinya. Sedangkan Pak Atmaja dan Ibu Maria duduk di depan karena mereka gak bawa sopir, jadinya Pak Atmaja yang menyetir.


Biasanya sih, Marfel yang nyetir di depan sedangkan Pak Atmaja juga duduk di kursi depan samping Marfel. Dan Naila duduk di belakang bareng Ibu Maria. Hanya saja karena Marfel gak mau jauh-jauh dari Naila. Akhirnya Pak Atmajalah yang merelakan dirinya jadi seorang sopir untuk anak, istri dan calon menantunya itu.