
Naila merasa ada yang tidak beres. Kenapa ia malah ke sini dulu, bukannya seharusnya ke resto yang pertama dulu baru ke dua, kenapa malah menuju resto cabangnya dulu ya. gumam Naila.
"Sudahlah, karena terlanjur ada di sini sekalian aja deh perkenalkan diri karena gak semua karyawan di sini kenal sama aku. Dan hanya orang orang tertentu saja yang tau kalau aku ini anaknya pemilik resto ini. Terus aku harus gimana? Apa perlu aku kumpulin dulu semua orang dan setelah itu aku memperkenalkan diri aku. Ah mungkin cara ini lebih tepat deh. Oke, aku akan memanggil sekertaris bunda dulu ah dan memintanya untuk mengumpulkan semua karyawan." Ucap Naila dalam hati.
Ia pun mencari sekertaris bundannya karena hanya dia yang ia kenal di sini.
"Mbak, maaf boleh saya nanya." Ujar Naila dengan sopan.
"Mau nanya apa?" Jawab pegawai itu dengan ketus membuat Naila mengeryitkan dahi. Ia tak menyangka bundannya ini mempekerjakan karyawan yang seperti ini.
"Mbak Indah ada dimana ya?" tanya Naila yang masih berusaha ramah.
"Gak tau, cari aja sendiri. Aku sibuk." Jawabnya sambil meninggalkan Naila begitu saja. Naila pun hanya bisa mengelus dada. Andai dia tau siapa aku, tak mungkin dia seketus itu. gumam Naila sambil menggeleng gelengkan kepala.
Ia pun hanya bisa menoleh ke sana kemari dan tiba tiba saja, seseorang menepuk bahunya.
"Mbak Naila ya." Ujar seseorang tersenyum ramah.
"Eh Mbak Indah, ia ini aku Naila." Ucap Naila tersenyum.
"Tumben ke sini?" tanya Indah. Pegawai kepercayaan Ila.
"Iya mbak, soalnya aku di suruh bunda. Bunda kan selama seminggu ke depan gak bisa ke sini karena harus pergi keluar kota." Jawab Naila.
"Oh ya, Ibu Ila juga kemaren sempat bilang ke mbak kalau dia gak bisa ke sini selama seminggu ke depan."
"Hehe iya, mbak bisa gak ngobrolnya sambil duduk. Soalnya capek nih berdiri terus." Ucap Naila.
"Maaf, maaf. Ayo duduk di sini aja." Ucap Indah yang begitu ramah kepada semua orang.a
Naila dan Indah pun duduk di kursi yang tak jauh dari mereka.
"Gimana mbak betah kerja di sini?" tanya Naila.
"Alhamdulillah betah mbak." Jawab Indah sambil tersenyum.
"Jangan panggil mbak ya, panggil Naila aja. Kan aku lebih muda hehe." Ucap Naila
"Oke, Naila."
"Alhamdullillah mbak. Eh maksudku Nai. Semuanya berjalan lancar dan semakin hari semakin banyak pelanggan."
"Syukurlah kalau begitu. Tadi aku ketemu sama pegawai............."
"Pegawai yang mana?"
"Anaknya tinggi kurus, bajunya di masukkan ke dalam celana terus hijabnya di iket ke belakang sampai dadanya terlihat menonjol. Siapa dia?" tanya Naila.
"Oh itu Mbak Selfie."
"Kenapa cara makai bajunya kayak gitu, emang bunda selama ini gak pernah menegurnya?"
"Sering Nai tapi dia mah gitu orangnya, walau di tegur berulang ulang tetep aja gak pernah dengerin."
"Hemmm tapi kan malu sama yang lain. Bukankah semua pegawai di sini harus memakai baju yang longgar, lekuk tubuh gak boleh sampai terlihat, hijabnya harus panjang menutupi dada. Kita kan mau jual makanan bukan jual tubuh ataupun memperlihatkan bentuh tubuhnya ke orang lain."
"Iya biar nanti aku coba ngomong baik baik sama dia ya."
"Iya terus itu lagi bilangin ke dia, kalau ngomong sama orang lain itu jangan judes. Harus ramah terutama sama pelanggan biar gak kabur. Bagaimanapun mereka mau makan di sini selain makanannya yang enak, juga karena pelayanannya yang bagus dan ramah. Kalau judes gitu, bisa bisa banyak pelanggan yang kabur. Kalau masih kayak gitu, mending pecat aja. Aku gak suka mempunyai pegawai yang gak mau ikuti aturan yang ada di resto. Lebih baik kehilangan satu karyawan dari pada kehilangan banyak pelanggan karena ulahnya. Toh setelah dia berhenti, aku masih bisa cari karyawan yang jauh lebih baik dari dia. Coba mbak nanti nasihati dulu dia, nanti kalau masih kayak gitu. Aku sendiri yang akan ambil sikap tegas."
"Baiklah, nanti aku akan nasihatin dia Nai."
"Bagus, kalau gitu aku ke ruang bunda dulu ya. Nanti jam 3 sore, setelah selesai sholat Ashar, kumpulkan mereka semua. Soalnya aku mau memperkenalkan dirikku, pasti banyak kan dari mereka yang belum tau siapa aku."
"Baiklah. Kalau gitu, aku permisi dulu."
Setelah selesai ngobrol dengan Indah, Nai langsung masuk ke ruangan bundannya. Ini pertama kalinya Nai masuk ke ruangan bunda karena biasanya dia gak pernah sampai masuk ke ruangannya. Ia juga jarang ke sini bahkan hampir gak pernah karena ia sibuk dengan resto yang bunda embankan kepadanya.