Novemberain

Novemberain
Menjadi Sopir Naila



Keesokan harinya, Marfel mengantarkan Naila ke kampus. Seperti janjinya, ia sendiri yang akan antar jemput Naila. Tak apa, jadi sopir asal penumpangnya istriya sendiri. Marfel merasa senang, bagaimana tidak senang, jika kemaren siang, ia di puasin oleh Naila, bahkan tadi malam juga. Mereka bergantian memberikan kepuasan hingga sampai jam dua dini hari. Dan kini wajah Marfel pun cerah, secarah pagi ini.


"Mas Marfel kenapa?" tanya Naila melihat wajah Marfel yang tampak sangat cerah sekali.


"Gak papa, aku seneng aja bisa mengantar kamu ke kampus, ini pertama kalinya aku melakukan buat kamu dan yang bikin aku seneng karena aku mengantarkan kamu sebagai suami kamu, Sayang," jawab Marfel membuat Naila percaya begitu saja.


"Iya sih, sekali nganter, eh statusnya sudah jadi suami aku," ucap Naila terkekeh.


"Nanti pulang jam berapa?" tanya Marfel.


"Jam tiga, Mas. Tapi gak nenti sih kadang, karena kan dosennya ada yang jam nya di majukin, di mundurin, kadang di tunda di hari yang lain. Walaupun di jadwal pulang jam tiga, kadang jam dua mungkin aku sudah pulang, atau bisa jam empat. Nanti aku chat, satu jam sebelum aku pulang," tutur Naila memberitahu.


"Baiklah, jangan dadakan tapi ya. Soalnya kan aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, terus perjalanan dari kantor ke kampus juga kan agak lama."


"Siap."


Marfel yang gemes hanya bisa geleng-geleng kepala, andai di rumah, sudah jadi santapannya. Karena ia emang gak bisa kalau deket-deket dengan Naila, bawaannya on terus yang di bawah.


Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di depan gerbang. Namun Naila gak segera turun.


"Kenapa?" tanya Marfel.


"Aku masih chat temenku, Mas. Entar lagi sampai kok," sahutnya dan Marfel pun menganggukkan kepala, tanda mengerti.


Tiba-tiba Hp Naila berbunyi. Naila pun segera mengangkatnya.


"Ada di mana?" tanyanya.


"Ada di depan gerbang, kamu di mana?"


"Sama aku juga, kamu pakai mobil apa?"


"Putih. Kamu?"


"Hitam."


"Jangan-jangan, kamu yang ada di belakang aku ini ya."


"Mungkin."


"Iya sudah, kita sama-sama turun,"


"Okay."


Dan setelah itu, Naila pun segera pamit ke suaminya. Ia mencium punggung tangan Marfel dan Marfel membalasnya dengan mencium kening, pipi dan bibir Naila.


"Ish, jangan cium bibir dong. Nanti lipstik aku belepotan," ujar Naila tak suka.


"Iya, iya.  Maaf, masih cantik kok," ucap Marfel yang melihat Naila berkaca di spion mobilnya.


"Okay."


Dan setelah itu, Naila pun turun. Dan benar saja, ia melihat Alexa dan Alex yang juga turun dari mobil. Bahkan Adrian pun juga ikut turun dari mobil. Sedangkan Marfel memilih diam di dalam mobil. Untungnya kacanya gelap, sehingga mereka gak akan tau siapa yang ada di balik kemudi, namun Marfel bisa melihat jelas ke arah mereka.


Naila dan Alexa sudah berpelukan layaknya teletubis. "Kemaren kemana kok gak masuk?" tanay Alexa yang terlihat kesal.


"Maaf, kemaren aku ada acara jadi gak bisa  masuk deh.  Maaf ya," ujar Naila merasa bersalah, ia juga terpaksa berbohong karena ia masih belum siap untuk jujur.


"Gak papa, aku fikir kamu sakit. Kalau kamu hari ini gak masuk lagi, aku akan ke rumah kamu nanti sore. Aku juga chat gak di balas."


"Kemaren aku gak megang hp seharian. Aku baru megang hp barusan, itu pun buat chat kamu doang," ucapnya membuat Alexa tersenyum.


"Ih, so sweet banget sih," ujar Alexa sambil memeluk sahabatnya itu.


"Hem hem. Jangan pelukan gitu, nanti di kira lesbi loh," sindir Alex membuat Alexa merenggut.


"Apaan sih," balas Alexa tak suka, ia melepas pelukannya dari Naila.


"Habisnya kamu gak ketemu Naila sehari, kek setahun aja. Aku yang saudara kembar kamu aja gak pernah tuh dapat pelukan," sindir Alex yang membuat Naila dan Adrian hanya geleng-geleng kepala.


"Kamu kan cowok, lagian mana enak meluk cowok," tutur Alexa membuat pipi Naila memerah. Bagaimana mungkin Alexa bilang gak enak, andai dia tau, pasti Alexa akan ketagihan.


"Kamu kenapa, Nai. Kok wajah kamu merah gitu?" tanya Adrian yang sok akrab.


"Enggak papa, Mas," jawab Naila sambil melihat mobil suaminya yang masih ada di sana.


"Mas Adrian kenapa ikut-ikutan turun. Bukannya tadi katanya buru-buru?" tanya Alexa melihat kakak pertamanya itu.


"Hem, aku ingin pastikan jika kalian beneran kuliah dan gak bolos," elaknya. Padahal ia turun karena ingin melihat Naila, entah kenapa sejak ia satu mobil dengan Naila, ia gak bisa melupakan Naila. Padahal Naila sudah menolak lamarannya.


"Ck ... mana mungkin aku bolos. Sudahlah, sana berangkat kerja," usir Alexa membuat Adrian hanya bisa menghela nafas.


"Iya, ya aku berangkat kerja. Kalau ada apa-apa, jangan lupa telfon aku."


"Iya," jawab Alexa malas.


"Aku pergi dulu, Nai," tutur Adrian sopan kepada Naila membuat Alex dan Alexa memicingkan mata.


"Kenapa cuma pamit ke Naila, ke aku kok gak?" tanya Alexa cemburu.


"Iya, ya. Aku pamit dulu, adek-adekku tercinta," ujar Adrian yang jengah dengan tingkah adik kembarnya itu.


"Iya, hati-hati di jalan. Jangan lupa transfer uang ke aku, buat jajan," ucap Alexa membuat Adrian menganggukkan kepalanya. Dan setelah itu, Adrian pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Sedangkan Alexa, ia menggandeng tangan Naila untuk masuk ke dalam, sedangkan Alex berjalan di belakangnya. Sebelum melewati pagar, Naila melihat ke mobil suaminya dan tersenyum sekilas.


Setelah memastikan Naila pergi, barulah Marfel segera pergi dari sana.